Friday, October 17, 2014

Hantu

Aroma kopi hitam berdansa dengan bau buku di ruangan yang redup ini. Jemariku dengan menulusuri lembar-lembar kertas yang kekuningan dan bertumpuk kaku di rak. Kemudian langkahku terhenti, mataku menangkap sesuatu yang pernah kulihat sebelumnya. Sekian tahun yang lalu.

Kuambil buku itu dengan ragu dan kubawa ke meja baca yang sudah sekian lama menjadi santapan para rayap. Degup jantungku menggema hingga aku takut akan membangunkan semua orang di rumah ini. Aku meraba sampulnya seolah membaca huruf braille. Meraba apa yang diam-diam dikatakan oleh huruf yang bukan untuk dilihat.

Aku hendak mengembalikan buku usang itu sebelum akhirnya buku itu terjatuh dan lembarannya terbuka. Selembar foto hitam-putih dengan tanggal yang tertera di belakangnya terjatuh. Di sana tertulis: 6 September 2008.

Sekejap ruangan yang seharusnya menjadi ruang membaca suamiku mendadak menjadi lorong waktu. Wajahku yang dulu masih muda, yang mirip artis sinetron, muncul di dinding. Lalu kulihat senyuman Ibu yang cantik dan kumis Bapak sayup-sayup memudar. Hingga akhirnya kulihat sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir. Bahkan ruang baca itupun mendadak menjadi ruang kedap udara. Seolah aku melihat hantu.

Hantu yang telah lama tidak muncul di mimpi burukku. Hantu yang sesekali meniup leherku di tengah malam saat aku berjinjit ke kamar mandi. Hantu yang dulu enggan membuatku tenang.

Wajahnya masih sama, seperti terakhir kali aku melihatnya. Waktu itu langit sedang menerima berita buruk, hingga awannya yang kelabu ingin sekali menemani. Bahkan sepoi-sepoi angin seolah gemas ingin menjenggut rambutku yang sebahu. Aku yang sendiri menunggu di depan gubuk warung yang sudah lama tutup, tak tahan ingin pulang.

Aku ingat bau badanku lebih mirip bau matahari daripada aroma minyak wangi yang dibeli Ibu setiap bulan. Dan mukaku yang berminyak bercampur debu anak sekolahan. Lalu seketika aku menghirup aroma yang dulu aku kenal. Tatapanku menjadi gelap, sontak aku menjerit terkejut. 

Kemudian kami berdua tertawa geli. Ia melepaskan kedua tangannya dari mataku dan memelukku dengan mesra. Ia menatapku nakal, seolah aku bisa membaca matanya.

Ia menarikku masuk ke warung yang tak lagi menjual apapun sejak awal tahun ajaran baru. Perlahan ia menutup pintu warung itu dan mendorongku ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Lapar yang kurasa sejak pagi haripun tak tertahankan lagi hingga dengan serakah kulumat bibirnya yang merah muda. Seolah ingin membalas dendam, kedua tangannya yang kokohpun mendarat di dadaku, mencari dimana letak jantung berdetak. Meremas apa saja yang ia temukan sampai yang terdengar hanyalah desahanku. 

Dalam hitungan detik, bibirnya yang basahpun mengecup leherku yang berkeringat. Jemarinya dengan sigap menyelinap seperti banyangan di sela-sela kancing kemeja seragamku, lalu turun ke bawah punggungku, membuka ritsleting dan menurunkan rok abu-abu yang selutut itu.

Kemudian entah bagaimana caranya, tubuhku bersandar di meja warung. Yang aku ingat saat itu adalah bagaimana caranya menghirup udara sebanyak-banyaknya saat seseorang berada di atas tubuhmu sambil terus mencium bibirmu. Hal lain yang aku ingat adalah suara decitan kaki meja yang bergoyang.

Aku sedang merapikan seragamku saat aku mendengar ketukan kencang di pintu sebelum akhirnya pintu yang rapuh itu terbuka lebar. Sesosok pria berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah dan tangan mengepal. Bapak.

Bapak langsung menghampiri kami diikuti 5 pria dewasa lain yang langsung memukuli lelakiku. Aku masih mencoba menyadarkan diriku sebelum akhirnya pipiku terbakar oleh tamparan Bapak. Bahkan saat itu, aku menjadi bisu dalam sesaat. Aku lupa bagaimana berbicara, bagaimana berkata-kata. Dan mataku masih tertuju pada kancing kemeja lelakiku yang masih terbuka.

***

Suara langkah kaki di ruang tamu membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat kuhapus air mata yang membasahi wajahku dengan lengan bajuku dan berdiri membawa buku itu menuju rak buku. Suara langkah kaki itu semakin terdengar. Kutarik napas dalam-dalam dan tersenyum. 

Kulihat senyuman manis menyungging di wajahnya, yang baru saja pulang lembur. Kuhampiri suamiku yang kelelahan sambil merentangkan tangan. Menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Ia membalas pelukan dan ciumanku sambil tersenyum manja.

"Baca buku apa?" tanyanya menatap ke buku yang belum sempat kukembalikan ke rak.

"Buku lama," jawabku tersenyum. Aku terhuyung menghampiri rak dan menyelipkan buku tua itu di antara buku-buku lainnya. Ia mengikutiku dan masih memelukku dari belakang.

"Jangan terlalu sering membaca buku seperti itu. Aku tak mau melihatmu menangis tiap malam," katanya sambil membelai rambutku.

Aku hanya tersenyum dan menciumnya lagi. Malam itu, aku tertidur di pelukan suamiku yang menjagaku dari mimpi buruk tentang hantu yang pernah mencium leherku di warung dulu.

Friday, September 12, 2014

Bapak

setelah tadi bertempur dengan siang yang ganas
dan debu jalanan yang lebih mirip angin gurun
hingga kau temui rembulan yang bulat kuning telur
masih perutmu bernyanyi, lantunan lagu keroncong

dan kaki-kaki kecil yang berlarian mengelilingi
rumah petak yang lebih mirip gubuk anyam bambu
dan senyum adinda yang habis dipeluk kerut keriput
masih hutang-hutang, turun deras bagai hujan-hujan

lalu kau ingat janji membelikan mobil mainan
sebab si bungsu hari ini berulang tahun, dan si sulung
kemarin juara satu, sepatu adik jebol, pak. nyeri.
malam ini kaupun enggan pulang dengan tangan kosong

Thursday, September 11, 2014

Diam

diam mungkin adalah kebijaksanaan
sebab lidah yang tak bertulang ini terkadang
belati. pedang. pembunuh.
sebab sering yang terucap hanyalah
keburukan atau kebohongan.
sebab Tuhan tak mau aku
menusuk siapapun dari belakang atau
memakan bangkai saudara sendiri

Saturday, August 16, 2014

Aku Merindukanmu Bagai Aku Merindu Esok

Malam ini rasanya udara begitu langka, bahkan sesak di dada sudah tak sungkan lagi memukul-mukul jantungku, hingga akhirnya aku lemas, pasrah dan berharap akan terlelap.

Hingga akhirnya kelopak mataku diam-diam mengatup, lalu muncul kedua matamu. Yang begitu cokelat, begitu dalam sampai aku ingin sekali tenggelam di samudera matamu.

Lalu sesak di dadaku muncul lagi, oh, dan rindu, perlahan mencekikku. Lirih suaraku merangkak keluar dari bibirku, memanggil namamu. Pulanglah, sayangku. 

Bahkan rindu ini berani membungkam bibirku, bibir yang telah lama tak kau basuh sampai basah. Bibir yang akhir-akhir ini tak pernah tersenyum lagi. Bibir yang terlalu sering meminum air mata.

Kudengar suara sayup-sayup di sudut kamar, suara yang tak asing bahkan seperti suaraku sendiri. Lalu kudengar kau berbisik, tentang mimpi-mimpi yang akan kita rajut kelak, dan masa depan kau dan aku, dan kita. Dan rumah kecil yang nyaman, penuh rak buku-buku. Dan pelukmu yang melingkar hangat di tubuhku.

Kau bilang kelak kita akan terbangun berdua, di ranjang yang sama. Lalu aku akan memelukmu lagi, lagi, dan lagi, sampai kau tak mengerti apa itu bernapas. Lalu bibirku akan menjadi hujan di hutan tubuhmu. Sampai kau mengerti apa itu basah. Dan mataku akhirnya bisa berciuman mesra dengan mata cokelatmu.

Aku merindukanmu bagai aku merindu esok. Merindukan sesuatu yang bahkan belum datang padaku. Aku merindukanmu bagai aku merindu kelak. Merindukan sesuatu yang bahkan belum tentu menjadi kini.

Wednesday, June 11, 2014

Jika Rindu dan Patah Hati adalah Bagian dari Mencintai

jika memang rindu adalah bagian dari mencintai
dan patah hati adalah pembunuhnya,
aku ingin menjodohkan mereka berdua,
mungkin setelahnya mereka bisa mengerti
betapa indahnya jatuh cinta,
lalu mereka akan berciuman dan memiliki anak,
kemudian hidup bahagia.
dan berjanji tidak akan mengusik
kita yang jatuh cinta.

Aku Yang Tak Mengenal Sahabat

jika sahabat adalah yang terindah dari surga,
mungkin yang paling sejati di Bumi hanyalah senyummu
dan matamu. dan kita yang jatuh cinta. dan awan putih bersih.

jika sahabat adalah yang setia mendampingimu,
mungkin yang paling sejati dariku hanyalah sepi
dan rindu. dan diriku sendiri. dan angin malam.

jika sahabat adalah bagian dari kehidupan,
mungkin yang paling sejati dariku hanyalah mimpi
dan tangis. dan pelukan ibuku. dan bisikan kematian.

Monday, March 31, 2014

Kami Miskin dan Kering

angka nol di lembaran uang yang berkurang
satu persatu hingga menjadi terlalu nol
itulah alasan kami membanting tulang
dan menjual daging kami sendiri

Sunday, March 30, 2014

Aku Tertidur dengan Buku-buku

aku yang sendiri membaca mimpi-mimpi
dan kisah-kisah yang sepi dan maya
dan kasih-kasih yang mati dan kaya
andai kau tahu aku tidur dengan bantal buku
dan pulas mengendus bau kertas
dalam pelukan angan-angan yang mungkin
akan terjadi atau mungkin tidak sama sekali

Friday, March 28, 2014

Tanganmu, Si Petualang Sejati

lenganmu muncul di balik mataku yang memejam
dan urat-urat yang ungu kehijauan, kau bilang tanda perkasa
sampai telur-telur di kedua lenganmu, yang siap meledak
dan rambut yang mengintip di dadamu yang sekokoh baja

dan tanganmu, si petualang sejati
yang mendaki gunung kau sebut buah dada
atau puncak volcano
hingga tebing curam yang meraung-raung

dan tanganmu, si petualang sejati
enggan pulang, walau kadang merindu rumah
selama kau masih mengembara di hutanku
aku tak akan menjadi gempa

Amore

cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau akan berpuisi
dan lukisan yang berbunga atau berwarna zebra
hingga lagu-lagu yang lebih indah dari siulan sore

cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau melihat kupu-kupu
dan senyuman dari bibir tua yang rapuh
hingga tangisan dari mata yang muda dan berapi

cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau merasakan surga
atau bahkan luka yang lebih dalam dari neraka
hingga laku-laku yang mengejutkan bagai kematian



Puisi ini akhirnya dimuat di Buletin Stomata Edisi VI Bulan September. Klik di sini untuk mengunduh.

Monday, March 24, 2014

Satu Menit Keheningan dari Satu Tahun Penantian

tawa yang lebih ramai dari pawai mendadak sepi
ditelan rindu yang kian hari kian ganas.
dan kutangkap senyummu yang terhapus sedih,
kedua mata yang pernah kukecup dalam tidur.

dan sebuah pertanyaan: kenapa kau enggan bicara?
lalu kau mengecup bibir yang tak mengenal diam.
dan sebuah pernyataan: kau berbicara lewat matamu.
lalu aku tenggelam dalam lautan pupil yang kecokelatan.

dan tangisan yang kau sembunyikan dibalik kalimat:
"tenang, sayangku. berilah aku dua bulan dan aku akan pulang."
ternyata lebih pedih dari air mataku. sebab kau bilang
laki-laki pantang menangis, jadi kau putuskan untuk kuat.

dan semakin hari dua bulan terus bertambah tanpa henti
hingga dikalikan menjadi dua tahun dan abad.
dan kau yang tak kunjung pulang, duhai sayangku
hanya memupuk duka di antara kita yang luka.


Sekawanan yang Menjadi Musuh: Jarak, Waktu, dan Kita

mungkin siang-siang seperti ini. saat jika kau berdiri 20 menit di bawah langit dengan
baju sehari-hari, lenganmu akan lebih gelap dari warna pahamu. di mana aku pernah 
duduk di pangkuanmu dengan senyuman yang lebih nakal dari rindu yang membuat resah. 
dan hutang yang harus lunas akhir bulan. mungkin di siang-siang seperti ini. saat kau terlelap dalam
malammu sendiri di sana. kau sedang meminang mimpi yang kuharap ada rambutku. 
rambut panjang yang sekali kau belai. dan sesekali terselip di sela jemarimu. mungkin di sana 
aku akan pulang, sayang. dan terlelap di malam yang sama.

dan ketika bisikan malam yang ngeri, yang membangunkan bulu kuduk datang. dan
desahan dari balik selimut yang keluar diam-diam. dan tanganmu yang serupa pendaki
gunung enggan turun. dan bokong gadismu yang kau anggap lebih indah dari purnama. 
dan ombak yang menampar karang-karang. dan peluhmu yang jatuh di wajahku. dan 
ciuman-ciuman yang lebih mirip makan malam. dan penahan dada merah jambu, 
yang kau lepas pengaitnya sebelum kau masuk. dan beberapa 'ssstt' untuk mengheningkan nafsu.

kemudian kala matahari malu-malu datang di timur. dan ayam-ayam jantan yang sungkan begadang
membangunkan kita yang lelap. dan mata yang sembab sisa semalam. dan kasurku yang terasa
lebih luas dari tadi malam. dan sosokmu yang hilang lagi setelah berkunjung di mimpiku. dan pagi
yang sepi lagi. dan hari yang berat lagi. dan kita yang kelak akan bertemu kembali setelah semuanya
tertidur.


Sunday, March 23, 2014

Hitam Itu Asal Usul Pelangi

aku akan menghapus segala putih
di muka bumi yang tak pernah datar
sebab putih tak akan putih
entah warna susu atau gading

tak pernah kuingat menyukai putih
warna paling jauh dari pelangi
yang padahal asal segala warna-warni
tempat seluncur bidadari mandi

atau memang aku jauh dari suci
sebab putih akan menjadi kotor
atau kadang menghitam legam
tapi hitam tak akan pernah putih

Pendusta Hati

dua orang yang saling menatap
didekap pilu dalam kenangan
kaku, detak detik menggema
mereka yang membangun suasana

dua hati yang pernah mencinta
dihantam nyeri tentang waktu
pedih, andai bisa kembali
sekarang saling melumat bibir sesama

seperti dulu kala bersama
mereka, di ruang itu
yang dulu sepasang kekasih
dan saling mendustakan hati

kembali menjadi dulu tak semudah memulai
yang pecah mungkin tak akan utuh
yang utuh terlanjur pecah
tentang dua jiwa yang diledek rindu

aku masih ingin memelukmu, sayang.

Stomata

mungkin hijau daun yang mendaunkan hijau
seperti aksara yang dirajut pada sajak
atau pada untaian majas dalam prosa
atau mungkin di atas lembaran hitam putih
yang secara cuma-cuma ditebar
biarlah sastra menjadi sastra
yang mungkin bukan untuk semua orang
biarlah sastra menjadi sastra
yang hitam putih walau kadang kelabu

Monday, March 17, 2014

Bibirmu Adalah Alasan Untuk Lapar

kau kunyah teruslah bibirmu itu!
tak apa, buatlah aku cemburu
bahkan rengekan cacing di perut
terlalu nyaring sampai kuhiraukan

kau kunyah teruslah bibirmu itu!
yang harusnya daritadi habis kulumat
lapar akan bisikan nakal di telinga
turun sedikit kecup di tengkuk

kau kunyah teruslah bibirmu itu!
jangan berani kau kabur dari meja makan
sebab lima menit lagi waktuku makan malam
menu bibir tebal seksi merah muda

Entah Sejak Kapan Sesak Nafas Terasa Buta

entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
hingga mana udara yang enggan kuraba
dan dadaku yang kembang-kempis
sampai paru-paruku seperti tuli

entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
bagai dicekik jemari belati
lalu suara nafasku yang berbunyi ngiiiik
sampai ngilu aku menangis

entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
yang kau ingat hanyalah bayangan bunda
memelukmu dalam linangan air mata
"sayang, tenanglah. tarik nafas, buang perlahan."

Sunday, March 16, 2014

Cerita Gurun

wajahmu lelah habis disiksa hari
yang kau bilang demi kita
jadi kau putuskan lebih baik kau pergi
merajut mimpimu dulu, lalu mimpiku

jadi kuputuskan juga begitu
aku yang membungkuk lelah membopong beban
tanpamu yang sibuk memintal benang asa
duduk bersandar lemas merindu istirahat

dibawah pohon rindang bersembunyi dari matahari
yang tajam menusuk epidermis kulit legamku
kulihat dari kejauhan ada sesosok pembawa air
berjalan di tengah fatamorgana, memikul harap

dengan senyum ramah dia tawarkan bantuan
mengangkut beban agar dipikul berdua
lalu bayanganmu muncul dari kejauhan
menanti sabar di safa dan aku membisu di marwah

lalu si pembawa air tanpa ragu mengajakku pergi
mencari oasis berdua, agar tetap hidup
dan bayanganmu larut ditelan bayangan gurun
yang kuingat kau percaya aku tak mungkin pergi

lalu biarlah aku dihukum dosaku sendiri
menenggak sedikit air menunda dahaga akan rindu
perlahan kubiarkan si pembawa air pergi
mencari gadis kelelahan lain untuk ditolong

lalu biarlah aku berjanji, sayangku
aku akan terduduk di bawah pohon menanti kau pulang
dengan mandi peluh asin dari lelahnya menunggu
agar kubasuh wajahmu yang lelah dengan air mata


Monday, March 03, 2014

Sebab Rinduku Merindukan Pelukmu

Rindu tengah diam tersungkur
Menanti tangan tulus mengulur lugu
Rindu lelah menjadi rindu

Yang tak kau acuhkan sejak lahir
Yang bahkan tak pernah kau dengar
Yang enggan kau mengerti hadirnya

Rindu berlari mencari sepasang lengan
Menjadi musuh penantian abadi
Rindu lelah menjadi rindu

Wednesday, February 12, 2014

Teka-teki Jemari

pernahkah terpikir olehmu,
bahwasannya telapak tangan gadismu tak akan selebar milikmu?

mungkin jemarinya yang lentik bukan untuk memeluk kokohnya jemarimu,
yang kasar dipecut kerasnya hidup siang-malam,
yang seolah tanpa cinta untuk membelai wajah gadismu.

mungkin telapakmu jauh lebih lebar,
sebab di situlah telapak gadismu akan meringkuk manja,
meminta perlindungan dari kengerian dunia yang kejam,

mungkin jemarinya yang mungil dan langsing
akan mengisi celah-celah di tiap ruang hampa genggamanmu,
yang lelah mencari receh untuk dibawa pulang.


Monday, February 03, 2014

Menilai Laki-laki

mari kita pukul sama rata semuanya!
tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah
atau lebih cerah atau lebih redup
karena hakekatnya semua adam adalah pria

dengan sesuatu di antara kedua kakinya, yang
siap mengendalikan hidup mereka dengan
nafsu, yang apapun akan mereka lakukan
demi kebahagiaan selangkangannya

lalu kita semua, wahai hawa
lupa bahwa mereka punya apa itu yang disebut hati,
yang konon katanya juga bisa merasakan cinta,
namun entah seberapa besar, itu misteri

lalu kita semua, wahai hawa
lupa bahwa kitalah yang mengendalikan selangkangan mereka
dan memupuk apa itu cinta di hati mereka,
yang kita bilang mereka brengsek

jika semua adam itu brengsek,
siapa suruh kau cicip semuanya?
ingatlah jika kau hilang, wahai hawa
mereka yang kau buat tegap akan rubuh lagi

sebab konon, tulang rusuk mereka yang hilang,
ialah dirimu yang memanggil mereka brengsek,
yang kau hujat mereka karena nafsunya
dalam membahagiakan selangkanganmu juga

Sunday, February 02, 2014

Jadi

Catatan pribadi.

Hal yang akan saya lakukan ketika terlalu lelah: menangis.
Hal yang akan saya lakukan ketika terlalu lelah karena menangis: menangis.
Dan semua arah mendadak menjadi jalan buntu, seolah sudah tak ada lagi tempat untuk berlari. Saya hanya terlalu lelah. Lelah terjebak dalam perasaan sedih yang keterlaluan, yang berlarut-larut, yang tanpa sebab dan obat. Lelah harus menangis lagi dan lagi hanya untuk merasa lebih baik, yang justru membuat semuanya menjadi sangat sangat buruk.
Lelah harus mencari cara untuk bisa tertawa tanpa beban dan tulus lagi.
Yang orang bilang untuk menghindari depressi adalah dengan tidak merasa kesepian, yang karenanya saya harus berbicara dengan orang-orang.
Meskipun berbicara dengan orang lain hanya akan membuat saya merasa semakin kesepian. Dan tidak berbicara hanya akan membuat semuanya memburuk
Dan bertemu orang-orang akan membuat saya membenci diri saya sendiri.
Karena orang-orang hanya akan menertawakan kesedihan saya, hanya akan menyepelekan apa yang terjadi dan berpikir semua hanya dilebih-lebihkan.
Dan tak ada yang peduli. Brengsek.
Mencoba untuk bergerak dan melakukan sesuatu akan membuat jiwa saya sakit, dan diam tanpa melakukan apapun hanya akan membuat semuanya bertambah sakit.
Saya hanya ingin melarikan diri ke tempat di mana tak ada jalan buntu, atau jalanan tak berujung.




Friday, January 31, 2014

Penat

Aku menyelam dalam keheningan malam.
Sepi,
Gelap,
Dingin.
Menyusup ke setiap pelosok bayangan tanpa bintang,
Mencoba kembali merasakan hangatnya darahku sendiri.
Agak perih
Luka itu tersenyum malu dipergelangan tanganku,
Menatap ramah pada setiap darah yang menetes,
Aku suka bagaimana nadiku berdenyut lemah namun pasti.

Aku bukan pemabuk,
Tapi malam ini izinkan aku menenggak setetes alkohol itu,
Paling tidak untuk mencoba berpura lupa ingatan.
Aku hanya lelah dengan diri sendiri.
Untuk malam ini, maukah kau temani aku berdansa?

Tuesday, January 28, 2014

Pukul 11 Malam

Jadi dalam tiga bulan terhitung mundur, sudah kering mata air ini dengan cuma-cuma. Entah apa yang dibisikan angin malam kepadaku hingga akhirnya aku menjerit di dalam keheningan, yang mungkin kata rindu. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, sesaat itu juga kamarku menjadi dingin, memaksaku untuk meringkuk lemah di balik selimut tipisku yang entah kapan terakhir dicuci.
Lalu semua alunan musik yang riang yang bising dari headphones-ku, kemudian sayup-sayup menghilang, berubah tanpa sadar menjadi suaramu, suara seseorang yang jauh sekali di sana, yang hanya akan membuatku ingin mengecup bibirmu.
Dan dinding kamarku kemudian dengan iseng menggodaku yang tak sanggup memeluk bayanganmu yang maya. Lalu perlahan-lahan suara tawamu muncul, renyah dan riang seperti ketika dulu aku masih kanak-kanak dan bermain petak umpet. Tawa yang dapat melepas kelelahanku memikul beban kuliah dan pekerjaan yang tiada habisnya memancingku untuk mengeluh, tawa yang hanya kau punya seorang. Tawa yang akan membuatku tersenyum, kemudian menangis, ah, mungkin ini yang disebut rindu.
Aku ingat betapa bahagianya mendengar tawamu lagi, menatap matamu yang selalu bercahaya, yang menyorot mataku, yang setelah dua bulan kau menghilang bersenang-senang dengan sibuknya duniamu yang kejam. Lalu sedikit demi sedikit hati ini, yang kesepian, yang merindukan peluk untuk melelehkan salju batinku, mulai mencair.
Belum.
Kemudian apa itu yang disebut kesedihan masih tinggal, enggan pergi entah bagaimana aku berusaha mengusirnya. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, perlahan es batu yang kusembunyikan dibalik kelopak mataku meleleh, membuat wajahku yang gendut ini basah dan asin.
Aku kesepian lagi. Yang kupikir aku tak akan pernah mengenal apa itu sepi. Walaupun kau yang selalu membuang sunyi sudah kembali. Lalu seolah semua orang yang dulu selalu tinggal kemudian mulai meninggalkan: meninggal di dalam pikiranku, menjadi bangkai yang enggan dikubur.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya, setiap malam, merasakan kesedihan yang sebenarnya tak begitu penting, namun terlalu menyakitkan sebab kesedihan ini tanpa obat kecuali peluk yang tulus.
Hingga akhirnya dalam tiga hari dua malam kusadari tubuhku yang menjadi sangat ringan setelah kehilangan tiga kilo dalam tiga hari. Betapa luar biasanya yang dulu kukira diet adalah jawabannya, sekarang menjadi pertanyaan.
Mana pernah terpikirkan untuk menjaga perasaan orang lain karena pada kenyataannya kupikir semua orang bisa memaafkan perasaan masing-masing. Dan kutahu aku salah besar.
Karena jelas sudah buktinya aku sendiri belum mampu menjaga perasaanku sendiri hingga aku terlalu sedih, menangisi kesalahan dan dosa yang kubuat sendiri, menyesal entah karena apa hingga lama-kelamaan aku akan berubah tak semanis dulu.
Sebab tawamu yang kupikir akan mengobati lukaku yang tergores oleh tajamnya dunia, harusnya bersahabat dengan tawaku sendiri yang kian lama kian sumbang. Yang sekarang aku butuhkan selain pelukmu yang tulus itu, adalah pelukku sendiri agar aku bahagia lagi.

Jika Aku Mati, Akankah Ada yang Menangis?

jika suatu saat aku menghilang,
tenggelam ditelan bayanganku sendiri atau
lenyap bersama nada,
maukah engkau atau
atau siapapun itu berusaha mencariku?
atau paling tidak khawatir dan
resah akan kepergianku?

aku hanya bertanya-tanya tentang
orang-orang yang mengaku
sayang padaku itu,
apakah mereka benar-benar peduli,
atau hanya iba terhadap rahasiaku?

Wednesday, January 22, 2014

Perempuan yang Membenci Pujian

"Terkadang, sesuatu yang terdengar manis, belum tentu bisa dimakan. Yang bahkan bisa menjadi pahit, setelah kau jilat."

Udara menjadi dingin tanpa ampun, seolah Ibukota bisa turun salju. Manusia-manusia pengeluh itupun enggan keluar dari tempat persembunyian mereka dan memilih untuk meringkuk di balik selimut masing-masing sambil berdoa agar aku tak menangis. Sesekali aku menghembuskan nafas, yang akan membuat pohon-pohon menggigil dan tanpa sengaja melepas daun-daunnya. Malam ini hening dan dingin, menggambarkan suasana hatiku. Biarlah nanti tepat pergantian hari, aku akan menangis lagi, supaya lega, supaya aku tak merindu lagi.

Kuperhatikan segala sudut jalanan yang becek. Beberapa kendaraan masih sudi lalu lalang di musim hujan seperti ini, seperti orang bodoh. Para pedagang yang biasanya dengan riang menjajakan dagangan mereka, yang kadang penuh tipu daya demi laba yang besar, kini memilih untuk tinggal agar tak merugi.

Lalu sayup-sayup terdengar derap langkah gontai di atas jalanan yang licin. Seorang pria dengan kemeja lusuh berjalan dengan kepala tertunduk. Garis-garis di wajahnya menggambarkan hidupnya yang kehilangan asa. Sesekali dia merogoh kantong celananya yang kosong melompong, berharap ada keajaiban yang membuatnya mendadak kaya.

Tiba-tiba sorot matanya sedikit menyala, megarah ke depan, ke arah seorang perempuan yang terduduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Dengan ragu, pria itu menghampiri perempuan tadi. Lalu dengan diduga, wajah yang tatapannya kosong itu menoleh ke arah Gusti.

"Sendirian?" tanya Gusti canggung.

Perempuan itu menatapnya kosong tak berkedip. Ingin rasanya Gusti terus berjalan pulang menjauh dari gadis aneh itu. Tapi dinginnya malam ini membuatnya tak tega untuk meninggalkan gadis secantik itu sendirian di luar.

Gadis itu cantik. Matanya besar dan anggun dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung sempurna seperti gadis-gadis Barat. Bibirnya berisi dengan lekukan yang membingkai sempurna.

Di tengah cuaca yang bisa saja membuatnya mati kedinginan, dan suasana hati yang hampir membuatnya bunuh diri ini, rasanya enggan untuk berbicara pada siapapun. Tapi perempuan ini menarik, dan sebagai seorang lelaki tulen, hasrat untuk berdekatan dengan gadis inipun timbul.

Gusti duduk di samping perempuan itu, menatap matanya yang hampa, lalu tersenyum.

"Mbak ini cantik sekali, tapi kenapa harus sendirian malam-malam begini?" tanya Gusti mencoba ramah.

Gadis itu masih membisu. "Kenapa diem? Coba, kalau ada masalah, bisa cerita sama saya. Saya juga sebenarnya sedang pusing. Saya baru saja dipecat hari ini..." oceh Gusti tanpa henti, menceritakan gadis itu apa yang terjadi seharian.

Di tengah ceritanya yang panjang, sambil sesekali menatap kedua sepatu kulitnya yang kotor terkena cipratan air bekas hujan siang tadi, Gusti merasakan sesuatu yang hangat di paha kirinya. Mula-mula dari lutut, lalu kemudian naik hingga ke pangkal pahanya. Seketika Gusti berhenti berbicara.

Tangan gadis itu kemudian merogoh sesuatu yang berada di balik celana Gusti yang mengeras. Gusti tercengang, bingung. Ketika hendak menghentikan tangan gadis itu, Gusti terkejut. Entah sejak kapan gadis itu melepas tiga buah kancing bajunya sendiri, yang menyembulkan kedua buah dadanya yang ranum seperti buah mangga yang siap dipetik.

"Enggg... Mbak," belum sempat Gusti menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gusti merasakan sesuatu yang hangat mengulum bibirnya. Mengecup lembut dan sesekali menggigit bibir bawahnya.

"Tadi kamu bilang saya cantik, kan?" akhirnya suara gadis itu terdengar juga. Suara yang lembut, yang tak ada seorang lelakipun mampu menolak untuk dibisiknya.

Gusti mengangguk. "Iya, mbak," jawab Gusti dengan tergesa, yang tak dapat terdengar jelas karena mulutnya sedang berada di dalam bibir gadis itu.

"Aku bosan dibohongi," jawab gadis itu, tersenyum tipis.

"Mana mungkin saya berbohong? Tanya semua pria yang mbak temui, pasti semua akan bilang mbak ini cantik," kata Gusti lagi, mencoba meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar cantik.

"Semua pria sama saja! Mereka memuji hanya untuk kepuasan selangkangan mereka! Lalu setelah mendapatkan semua, mereka berhenti memuja kami para gadis dengan kata-kata manis!" teriak gadis itu.

Kedua mata yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan membara. Dahinya menyerngit, dan dia berhenti mencium Gusti. Masih menatap Gusti yang ketakutan, muncul gigi yang panjang dan runcing seperti mata pisau pada taringnya.

Gusti mematung. Darah yang tadinya hangat kini membeku di pembuluhnya. Matanya melotot menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah menghilang ditelan angin malam.

Dengan kecepatan sepersekian detik, kedua gigi taring yang seperti binatang buas itu menusuk leher Gusti, yang kemudian mulai mengunyah sebagian wajahnya. Aroma darah segar yang menggiurkan tercium dibawa hembusan nafasku. Lelaki dengan celana yang setengah terbuka itupun berhenti bergerak.

Setelah kenyang makan malam dengan menu spesial, gadis itupun mengancingkan kembali bajunya dan merapihkan rambutnya. Dengan langkah malas karena perutnya yang penuh, dia menghilang di tengah gelapnya malam.

Monday, January 20, 2014

Perawan

marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
gagal jadi pemenang
mustahil jadi yang pertama
tak akan kau pernah perawani aku
karena habis aku dengan pria malam itu
lima tahun lalu
jauh sebelum aku mengenalmu
jauh sebelum aku mengerti
apalah arti sebuah kesucian

marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
jangan kau panggil aku lacur
aku hanya membayar apa itu
yang disebut kenikmatan
dan terlalu dini
rapuh sampai tak sanggup berontak
kau lihat tangan pria yang kuat itu
yang pernah mencengkram pergelangan tanganku

marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
aku dulu pernah sebersih itu
apa yang kau sebut gadis perawan
yang harum bagai kembang desa
embun pagi hari dengan senyum menggoda santun
dan dada yang bersembunyi malu
atau birahi yang belum lahir
malah bau matahari anak sekolah

marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
kau bilang enggan rasanya menciumku lagi
setelah kau tahu betapa kotornya gadismu
kau kira aku tidur dengan lima pejantan
yang kau pikir semua nafsuku
jangan kau panggil aku lacur
lima tahun lalu
aku pernah perawan

Thursday, January 16, 2014

Adakalanya

adakalanya aku lelah menahan tabah,
adakalanya aku penat menutup duka,
adakalanya aku bosan berpura-pura,
adakalanya aku lemah berdiri tegak

jika aku pada akhirnya pergi, atau bahkan menghilang,
mungkinkah itu artinya aku muak bersabar kepadamu?
atau aku sudah letih berbaik hati lagi?

kadang aku bosan sebaik ini,
atau bahkan terlalu jahat.

Tuesday, January 14, 2014

Tentang Pemikiranmu Selama ini, Kau Salah Besar

kepada untaian aksara yang berjejer rapih,
di halaman depan menyambut mata
larik-larik sajak yang kuukir,
bukan semata-mata aku menangis
adakalanya aku bosan tertawa,
jadi kuputuskan untuk merenung

dan jika kau berpikir itu semua selalu tentangmu,
kau salah besar
dan jika kau merasa aku masih ada untukmu,
kau salah besar
dan jika kau menganggap rasa ini masih sama,
kau salah besar

Monday, January 13, 2014

Berkunjunglah, Aku akan Menjadikanmu Sebagai Tamuku

kau boleh singgah sebentar,
(atau selama apapun kau mau) di tempat baruku

bukan, aku tak ada niatan apapun
untuk meninggalkan rumah lamaku
dan memulai hidup baru

bukan, aku tak bermaksud sama sekali
berselingkuh dan menelantarkan milikku
yang sudah hampir tua dan selalu setia ini

aku hanya butuh tempat baru,
untuk membuka jiwa yang baru

datanglah, dengan sajian seadanya
kuharap tak ada sungkan untuk datang lagi.

Aku yang Enggan Kau Akui

setakbergunanya aku, bahkan kau enggan mengerti
setakbergunanya aku, bahkan aku kau abaikan
setakbergunanya aku, hingga aku menjadi satu
dari barisan yang terlupakan

aku hanyalah lalat hijau yang hinggap
di ujung sedotan minumanmu,

aku hanyalah spasi antara huruf terakhir dan tanda baca
yang memisahkan tanpa arti,

aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah
setelah membersihkan dosamu dengan luka,

bagaimana kamu yang pernah begitu menginginkanku
lalu seolah aku yang terlalu menginginkanmu,

dan tentang segala kata maaf yang bukan salahku,
dan tentang segala duka yang kusembunyikan di balik bahagiaku,
dan kamu yang selalu memanjakan perihnya lukaku,
aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.




Sunday, January 12, 2014

Kenapa Belum Pulang?

kenapa belum pulang?
apa ada makanan yang lebih enak di dapur orang?
apa ada undangan makan malam?
apa ada lembur lagi?

kenapa belum pulang?
apa ada pelukan yang selalu menyambutmu di pintu orang?
apa ada kecupan hangat tiap malam?
apa ada rumah lagi?

Aku yang Membenci Sunyi

mungkin aku jugalah bagian dari mereka
yang mencintai ketenangan
mungkin aku bukanlah bagian dari mereka
yang mencintai kesunyian

aku membenci sunyi
seperti aku membenci kegelapan
aku benci mendengar bisikan angin malam
atau dinginnya sepi

atau bayanganmu yang sayup-sayup muncul
dan suara lebutmu yang membelai rindu
atau pelukmu yang enggan pergi
dan kehadiranmu yang mati

aku bicara bukannya tak setia
atau tak mau sendiri
hanya aku enggan terjebak sunyi
dan kehadiranmu yang mati

Friday, January 10, 2014

Bukan Kota Baik Hati

Mobil taksi berwarna biru muda itu melesat di jalan raya. Terjebak di antara kendaraan lain yang saling mencari celah untuk menjauh dari penatnya hiruk-pikuk ibu kota yang penuh dengki. Sambil sesekali menenggak air dari botol minum 1 liter untuk mengisi perutnya yang sebenarnya lebih butuh nasi dibanding air, si supir terus mengendarai mobil yang menjadi sumber pencahariannya itu. Sesekali ia melirik ke pinggir jalan kalau-kalau ada calon penumpang yang siap untuk diangkut. Di bawah terpaan cahaya lampu jalanan ala Jakarta malam hari, mobilnya terus berusaha keluar dari kemacetan yang semakin hari semakin menggila.

Lima belas menit kemudian Tarjino memarkirkan taksinya untuk mampir di warung kecil pinggir jalan. Di depan warung itu ada tiga pria dengan kacing baju terbuka yang menyembulkan perut buncit mereka, sibuk bermain kartu dan berbincang sambil sesekali menyeruput kopi hitam mereka.

"Hey, bang! Gimana hari ini? Lancar?" tanya pria dengan kumis tebal.

"Aduh. . . Gak tau lah, mas. Hari gini kayaknya orang-orang udah punya mobil pribadi ya? Sepi nih taksi saya," jawab Tarjino sambil tersenyum, menghampiri ketiga pria yang sudah ada di warung tersebut sebelumnya.

"Ya gitulah, bang. Jakarta ini memang keras," balas pria kumis tebal tadi tanpa melirik ke arah Tarjino.

Tarjino tersenyum pahit. Perutnya kosong seharian, jadi badannya pun agak lemas. Lalu dia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.

Terdengar Tarjino sedang menyapa seseorang di seberang telepon, "Halo, Assalamualaikum, bu. . . Maaf bu, bapak hari ini belum bisa bawa pulang uangnya. . . Iya . . . Coba tanya Bu RT bisa gak dipinjamin lagi uangnya. . . Oh, bulan kemarin belum lunas ya? Adek gimana, sudah agak sehat? Oh ya sudah, nanti bapak usahakan ya, bu. Ibu tenang aja. . . Wassalamualaikum. . ."

Setelah menutup teleponnya, salah seorang pria bertato yang tengah bermain kartu tadi berceletuk.

"Bang Tar, kalau abang memang butuh uang, temanku ada yang kemarin dapat jutaan dalam semalam," katanya.

"Wah, kok bisa mas?" tanya Tarjino penasaran.

Sebagai isyarat memanggil, pria tersebut menggerakan tangannya. Tarjino pun menghampirinya dan membungkuk. Sambil membisikan kata-kata di telinga Tarjino, pria tersebut sesekali menghisap rokoknya. Tarjino pun sesekali mengangguk dan mengkerutkan dahinya.

"Kok agak berisiko yang, mas?" tanya Tarjino ragu.

"Ya, kalau abang memang mau dapat uang cepat, memang harus begitu, bang. Ingat, Jakarta ini gak sebaik itu untuk menafkahi isteri dan anakmu yang sakit-sakitan itu di kampung. Tapi ya, semua terserah abang. Kalau abang mau, biar kuhubungi nanti temanku," jawabnya santai.

Tarjino hanya bergeming, memikirkan nasib keluarganya, dan juga dirinya sendiri.


Tuesday, January 07, 2014

Tadinya

kupikir awalnya aku akan membencimu
kupikir awalnya aku akan menjauhimu
kupikir awalnya aku akan meninggalkanmu
kemudian aku salah
rasa ini ternyata masih tetap sama
seperti sejak awal kita bertemu

Sunday, January 05, 2014

Barangkali

dia yang datang berkali-kali
kau yang pergi berkali-kali
mungkin pernah aku sekali salah
peluknya yang kukira lenganmu
mungkin pernah aku sekali salah
kecupnya yang kukira bibirmu
mungkin selama ini, kau yang selalu salah
mungkin kau hanyalah rumah yang tak pernah pulang
atau mungkin itu aku

Kabut

sosokmu hilang.
bersama dinginnya udara,
ditelan gelapnya cahaya,
rupamu semakin samar.
aku mencoba meraih asap itu.
dengan terus berlari, aku mengejarmu,
dengan terus menghilang, aku kehilanganmu.
kabut.
sampai akhirnya,
matahari mulai memanjat tebing siang,
embun yang tadinya tidur, mulai terbangun,
kaupun menghilang, ditelan hari.

Malam-malam Tak Terhitung Terjaga Karena Rindu

Barangkali rindu ini menjadi candu
Jangan berhenti atau mati
Aku gerah dan ingin marah
Hanya peluk yang membuatku sejuk
Terlalu jauh sampai mengeluh
Perih sampai harus merintih
Sayang, cepat kau pulang
Ada senyum yang siap dikulum
Banyak berita sebagai cerita
Mari kita tidur dalam lindur

Saturday, January 04, 2014

Pada Kedua Bola Matamu, Tuhan Titipkan Bahagiaku

Mungkin pada lembut kecup bibirmu, Tuhan sisipkan sititik sentuhan surga.
Bersama kalimat-kalimatmu, aku tenggelam dalam janjimu.
Mungkin pada manja rayumu, luluh amarahku bisa meleleh.
Bersama rengekan kekanak-kanakanmu, aku tak mampu membenci.
Mungkin pada kokohnya pundakmu, penat keluh kepalaku menghilang.
Bersama peluhku yang menetes, bebanku larut.

Mungkin pada hangatnya pelukmu, dinginnya acuh hatiku mencair.
Sekali lagi, aku benar-benar tak mampu membenci.
Mungkin pada teduhnya senyummu, sedihku memudar.
Bersama tawa dan lelucon bodoh, air mataku larut dalam bahagia.
Mungkin pada perginya sosokmu, separuh dari diriku menghilang.
Bersama bayanganmu yang semu, aku mencoba menemukan aku.

Friday, January 03, 2014

Ibuku

Kenyataannya di pundaknya lah Tuhan bebankan kehidupan yang penuh dosa
Kenyataannya di kedua telapak tangannya lah Tuhan aminkan doa
Kenyataannya di telapak kakinya lah Tuhan titipkan surga

Pada peluknya kau temukan rumah ternyaman
Pada senyumnya kau melarikan diri dari dunia
Pada tangisnya kau harusnya hapuskan luka

Mengarang Kemungkinan Tentang Besok

Aku meletakkan kenanganku pada detik jarum jam yang berdetak seirama dengan degup jantungku. Aku membiarkannya larut dalam waktu. 
Mungkin setelah akhirnya aku berhasil melewati semuanya, entah di tempat mana, di belahan Bumi yang mereka bilang bulat ini kelak kita akan kembali bertemu.
Mungkin ketika itu kau akan mendapati aku yang banyak berubah, tidak seperti sekarang ini dan begitupun denganmu. Lalu kau akan mencoba mengenali aku yang baru, dan kau akan bertanya “Apakah ini kamu?” padaku.
Dan mungkin aku akan mendapatimu yang bahkan sudah aku hapuskan sejak lama dalam diriku. Yang butuh bertahun-tahun untuk bisa melupakanmu pada diriku dan semua tentang kita. Lalu aku akan berpura-pura lupa ingatan dan aku akan membalas dengan “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” kepadamu.
Itu jika aku mampu.
Atau mungkin ternyata, keadaannya hatiku masih sama seperti sejak dulu, sejak awal aku jatuh cinta padamu.
Mungkin pada akhirnya aku akan menjawab dengan “Ya, ini aku! Kau masih mengenalku?” lalu akhirnya kita akan melalui kisah yang sama seperti dulu dan kemarin hanya saja semoga tanpa mengulangi kesalahan yang sama.

Thursday, January 02, 2014

Pasar Malam Pahing

Malam itu gelap dan dingin. Hening sekali sampai yang kau dengar hanyalah suara jangkrik dan rerumputan yang kesakitan karena kau injak. Mataku terus mengikuti cahaya lampu minyak yang dibawa bapak. Aku harus siaga kalau-kalau aku terpeleset menginjak bebatuan atau kaki ayahku sendiri. 

Sebelum berangkat tadi, ibu berpesan untuk jangan jauh-jauh dari bapak, jadi kugenggam terus bajunya yang usang agar aku tak hilang dibawa hantu. 

Lima belas menit sudah kami berjalan kaki sampai akhirnya kulihat cahaya yang terang dan terdengar suara orang-orang. Banyak anak kecil yang membawa gulali dan mainan, ibu-ibu yang sibuk menawar harga barang-barang, dan bapak-bapak yang saling bercengkrama sambil menunggu istri-istri mereka. Aku sumringah, berharap akan pulang membawa gulali ke rumah.

"Pak, belikan adek gulali ya, pak." pintaku dengan kepala mengadah ke arah wajah bapak. 

Bapak tersenyum tanpa menjawab. Kami terus berjalan melewati pedagang gulali yang berarti bapak tidak akan membelikanku makanan yang kelihatannya enak itu. 

Di pasar malam yang buka setiap malam Pahing di desa ini sering diadakan pertunjukan wayang kulit. Kami berdiri di baris belakang penonton. Tubuhku yang mungil ini harus bersusah payah berjinjit untuk bisa melihat bayangan wayang-wayang di balik kain putih di panggung. Aku merasakan kedua tangan bapak mengangkat tubuhku dan menggendongku di pundaknya. Sekarang aku senang bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit kesukaan warga desa kami.

Pertunjukan wayang pun usai, para penonton mulai berhamburan menjauh dari tempat si dalang memainkan wayang-wayangnya bercerita. Kamipun segera berjalan untuk pulang, dengan perut yang kelaparan sejak berangkat tadi. Lalu bapak menarikku ke arah gerobak pedagang martabak telur. 

Kami berdiri di dekat meja si pedagang melempar-lemparkan adonan yang lama kelamaan melebar dan menipis. Aku menyaksikannya takjub. Dengan lihai si pedagang martabak melakukan atraksinya itu, dan meletakan kulit martabaknya ke penggorengan yang lebar dan rata. Aneh bagiku karena aku belum pernah melihat penggorengan selebar itu. 

Perutku semakin bergemuruh tanda kelaparan. Seolah menyadarinya, bapak mengajakku untuk pulang. Dengan enggan aku mengangguk dan pergi bersama bapak menjauhi kerumunan orang-orang di pasar malam itu.

Catatan: Kisah tentang anak laki-laki yang pergi ke pasar malam terinspirasi dari kisah ayah saya yang sering bercerita tentang kisah masa kecilnya sebagai seorang anak bungsu dari pasangan petani miskin yang tinggal di desa. 

Ayah

Matanya memerah kurang tidur
Tubuhnya lelah sepulang kerja
Perutnya menggerutu, meminta nasi
Anak gadisnya belum juga pulang


Wednesday, January 01, 2014

Bulan Kedua

Jadi begini, 
Kukira semalam kau akan datang
Kukira semalam aku akan tenang
Kukira semalam kita akan senang

Habis sudah hitungan mundur 2 bulan,
Pelukmu tak juga pulang
Masih saja aku menunggu, menunggu, menunggu

Kau bilang kau akan pulang
Kau bilang kau akan pulang
Kau bilang kau akan pulang

Dan aku akan tetap menunggu, menunggu, menunggu