Friday, October 17, 2014
Hantu
Friday, September 12, 2014
Bapak
dan debu jalanan yang lebih mirip angin gurun
hingga kau temui rembulan yang bulat kuning telur
masih perutmu bernyanyi, lantunan lagu keroncong
dan kaki-kaki kecil yang berlarian mengelilingi
rumah petak yang lebih mirip gubuk anyam bambu
dan senyum adinda yang habis dipeluk kerut keriput
masih hutang-hutang, turun deras bagai hujan-hujan
lalu kau ingat janji membelikan mobil mainan
sebab si bungsu hari ini berulang tahun, dan si sulung
kemarin juara satu, sepatu adik jebol, pak. nyeri.
malam ini kaupun enggan pulang dengan tangan kosong
Thursday, September 11, 2014
Diam
Saturday, August 16, 2014
Aku Merindukanmu Bagai Aku Merindu Esok
Wednesday, June 11, 2014
Jika Rindu dan Patah Hati adalah Bagian dari Mencintai
dan patah hati adalah pembunuhnya,
aku ingin menjodohkan mereka berdua,
mungkin setelahnya mereka bisa mengerti
betapa indahnya jatuh cinta,
lalu mereka akan berciuman dan memiliki anak,
kemudian hidup bahagia.
dan berjanji tidak akan mengusik
kita yang jatuh cinta.
Aku Yang Tak Mengenal Sahabat
mungkin yang paling sejati di Bumi hanyalah senyummu
dan matamu. dan kita yang jatuh cinta. dan awan putih bersih.
mungkin yang paling sejati dariku hanyalah sepi
dan rindu. dan diriku sendiri. dan angin malam.
jika sahabat adalah bagian dari kehidupan,
mungkin yang paling sejati dariku hanyalah mimpi
dan tangis. dan pelukan ibuku. dan bisikan kematian.
Monday, March 31, 2014
Kami Miskin dan Kering
satu persatu hingga menjadi terlalu nol
itulah alasan kami membanting tulang
dan menjual daging kami sendiri
Sunday, March 30, 2014
Aku Tertidur dengan Buku-buku
Friday, March 28, 2014
Tanganmu, Si Petualang Sejati
Amore
sebab dengan begitulah kau akan berpuisi
dan lukisan yang berbunga atau berwarna zebra
hingga lagu-lagu yang lebih indah dari siulan sore
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau melihat kupu-kupu
dan senyuman dari bibir tua yang rapuh
hingga tangisan dari mata yang muda dan berapi
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau merasakan surga
atau bahkan luka yang lebih dalam dari neraka
hingga laku-laku yang mengejutkan bagai kematian
Puisi ini akhirnya dimuat di Buletin Stomata Edisi VI Bulan September. Klik di sini untuk mengunduh.
Monday, March 24, 2014
Satu Menit Keheningan dari Satu Tahun Penantian
Sekawanan yang Menjadi Musuh: Jarak, Waktu, dan Kita
lebih luas dari tadi malam. dan sosokmu yang hilang lagi setelah berkunjung di mimpiku. dan pagi
yang sepi lagi. dan hari yang berat lagi. dan kita yang kelak akan bertemu kembali setelah semuanya
tertidur.
Sunday, March 23, 2014
Hitam Itu Asal Usul Pelangi
di muka bumi yang tak pernah datar
sebab putih tak akan putih
entah warna susu atau gading
tak pernah kuingat menyukai putih
warna paling jauh dari pelangi
yang padahal asal segala warna-warni
tempat seluncur bidadari mandi
atau memang aku jauh dari suci
sebab putih akan menjadi kotor
atau kadang menghitam legam
tapi hitam tak akan pernah putih
Pendusta Hati
didekap pilu dalam kenangan
kaku, detak detik menggema
mereka yang membangun suasana
dua hati yang pernah mencinta
dihantam nyeri tentang waktu
pedih, andai bisa kembali
sekarang saling melumat bibir sesama
seperti dulu kala bersama
mereka, di ruang itu
yang dulu sepasang kekasih
dan saling mendustakan hati
kembali menjadi dulu tak semudah memulai
yang pecah mungkin tak akan utuh
yang utuh terlanjur pecah
tentang dua jiwa yang diledek rindu
aku masih ingin memelukmu, sayang.
Stomata
Monday, March 17, 2014
Bibirmu Adalah Alasan Untuk Lapar
tak apa, buatlah aku cemburu
bahkan rengekan cacing di perut
terlalu nyaring sampai kuhiraukan
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
yang harusnya daritadi habis kulumat
lapar akan bisikan nakal di telinga
turun sedikit kecup di tengkuk
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
jangan berani kau kabur dari meja makan
sebab lima menit lagi waktuku makan malam
menu bibir tebal seksi merah muda
Entah Sejak Kapan Sesak Nafas Terasa Buta
hingga mana udara yang enggan kuraba
dan dadaku yang kembang-kempis
sampai paru-paruku seperti tuli
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
bagai dicekik jemari belati
lalu suara nafasku yang berbunyi ngiiiik
sampai ngilu aku menangis
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
yang kau ingat hanyalah bayangan bunda
memelukmu dalam linangan air mata
"sayang, tenanglah. tarik nafas, buang perlahan."
Sunday, March 16, 2014
Cerita Gurun
yang kau bilang demi kita
jadi kau putuskan lebih baik kau pergi
merajut mimpimu dulu, lalu mimpiku
jadi kuputuskan juga begitu
aku yang membungkuk lelah membopong beban
tanpamu yang sibuk memintal benang asa
duduk bersandar lemas merindu istirahat
dibawah pohon rindang bersembunyi dari matahari
yang tajam menusuk epidermis kulit legamku
kulihat dari kejauhan ada sesosok pembawa air
berjalan di tengah fatamorgana, memikul harap
dengan senyum ramah dia tawarkan bantuan
mengangkut beban agar dipikul berdua
lalu bayanganmu muncul dari kejauhan
menanti sabar di safa dan aku membisu di marwah
lalu si pembawa air tanpa ragu mengajakku pergi
mencari oasis berdua, agar tetap hidup
dan bayanganmu larut ditelan bayangan gurun
yang kuingat kau percaya aku tak mungkin pergi
lalu biarlah aku dihukum dosaku sendiri
menenggak sedikit air menunda dahaga akan rindu
perlahan kubiarkan si pembawa air pergi
mencari gadis kelelahan lain untuk ditolong
lalu biarlah aku berjanji, sayangku
aku akan terduduk di bawah pohon menanti kau pulang
dengan mandi peluh asin dari lelahnya menunggu
agar kubasuh wajahmu yang lelah dengan air mata
Monday, March 03, 2014
Sebab Rinduku Merindukan Pelukmu
Wednesday, February 12, 2014
Teka-teki Jemari
Monday, February 03, 2014
Menilai Laki-laki
mari kita pukul sama rata semuanya!
tak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah
atau lebih cerah atau lebih redup
karena hakekatnya semua adam adalah pria
dengan sesuatu di antara kedua kakinya, yang
siap mengendalikan hidup mereka dengan
nafsu, yang apapun akan mereka lakukan
demi kebahagiaan selangkangannya
lalu kita semua, wahai hawa
lupa bahwa mereka punya apa itu yang disebut hati,
yang konon katanya juga bisa merasakan cinta,
namun entah seberapa besar, itu misteri
lalu kita semua, wahai hawa
lupa bahwa kitalah yang mengendalikan selangkangan mereka
dan memupuk apa itu cinta di hati mereka,
yang kita bilang mereka brengsek
jika semua adam itu brengsek,
siapa suruh kau cicip semuanya?
ingatlah jika kau hilang, wahai hawa
mereka yang kau buat tegap akan rubuh lagi
sebab konon, tulang rusuk mereka yang hilang,
ialah dirimu yang memanggil mereka brengsek,
yang kau hujat mereka karena nafsunya
dalam membahagiakan selangkanganmu juga
Sunday, February 02, 2014
Jadi
Hal yang akan saya lakukan ketika terlalu lelah: menangis.
Dan semua arah mendadak menjadi jalan buntu, seolah sudah tak ada lagi tempat untuk berlari. Saya hanya terlalu lelah. Lelah terjebak dalam perasaan sedih yang keterlaluan, yang berlarut-larut, yang tanpa sebab dan obat. Lelah harus menangis lagi dan lagi hanya untuk merasa lebih baik, yang justru membuat semuanya menjadi sangat sangat buruk.
Lelah harus mencari cara untuk bisa tertawa tanpa beban dan tulus lagi.
Yang orang bilang untuk menghindari depressi adalah dengan tidak merasa kesepian, yang karenanya saya harus berbicara dengan orang-orang.
Meskipun berbicara dengan orang lain hanya akan membuat saya merasa semakin kesepian. Dan tidak berbicara hanya akan membuat semuanya memburuk
Dan bertemu orang-orang akan membuat saya membenci diri saya sendiri.
Karena orang-orang hanya akan menertawakan kesedihan saya, hanya akan menyepelekan apa yang terjadi dan berpikir semua hanya dilebih-lebihkan.
Dan tak ada yang peduli. Brengsek.
Mencoba untuk bergerak dan melakukan sesuatu akan membuat jiwa saya sakit, dan diam tanpa melakukan apapun hanya akan membuat semuanya bertambah sakit.
Saya hanya ingin melarikan diri ke tempat di mana tak ada jalan buntu, atau jalanan tak berujung.
Friday, January 31, 2014
Penat
Sepi,
Gelap,
Dingin.
Menyusup ke setiap pelosok bayangan tanpa bintang,
Mencoba kembali merasakan hangatnya darahku sendiri.
Agak perih
Luka itu tersenyum malu dipergelangan tanganku,
Menatap ramah pada setiap darah yang menetes,
Aku suka bagaimana nadiku berdenyut lemah namun pasti.
Aku bukan pemabuk,
Tapi malam ini izinkan aku menenggak setetes alkohol itu,
Paling tidak untuk mencoba berpura lupa ingatan.
Aku hanya lelah dengan diri sendiri.
Untuk malam ini, maukah kau temani aku berdansa?
Tuesday, January 28, 2014
Pukul 11 Malam
Lalu semua alunan musik yang riang yang bising dari headphones-ku, kemudian sayup-sayup menghilang, berubah tanpa sadar menjadi suaramu, suara seseorang yang jauh sekali di sana, yang hanya akan membuatku ingin mengecup bibirmu.
Dan dinding kamarku kemudian dengan iseng menggodaku yang tak sanggup memeluk bayanganmu yang maya. Lalu perlahan-lahan suara tawamu muncul, renyah dan riang seperti ketika dulu aku masih kanak-kanak dan bermain petak umpet. Tawa yang dapat melepas kelelahanku memikul beban kuliah dan pekerjaan yang tiada habisnya memancingku untuk mengeluh, tawa yang hanya kau punya seorang. Tawa yang akan membuatku tersenyum, kemudian menangis, ah, mungkin ini yang disebut rindu.
Aku ingat betapa bahagianya mendengar tawamu lagi, menatap matamu yang selalu bercahaya, yang menyorot mataku, yang setelah dua bulan kau menghilang bersenang-senang dengan sibuknya duniamu yang kejam. Lalu sedikit demi sedikit hati ini, yang kesepian, yang merindukan peluk untuk melelehkan salju batinku, mulai mencair.
Belum.
Kemudian apa itu yang disebut kesedihan masih tinggal, enggan pergi entah bagaimana aku berusaha mengusirnya. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, perlahan es batu yang kusembunyikan dibalik kelopak mataku meleleh, membuat wajahku yang gendut ini basah dan asin.
Aku kesepian lagi. Yang kupikir aku tak akan pernah mengenal apa itu sepi. Walaupun kau yang selalu membuang sunyi sudah kembali. Lalu seolah semua orang yang dulu selalu tinggal kemudian mulai meninggalkan: meninggal di dalam pikiranku, menjadi bangkai yang enggan dikubur.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya, setiap malam, merasakan kesedihan yang sebenarnya tak begitu penting, namun terlalu menyakitkan sebab kesedihan ini tanpa obat kecuali peluk yang tulus.
Hingga akhirnya dalam tiga hari dua malam kusadari tubuhku yang menjadi sangat ringan setelah kehilangan tiga kilo dalam tiga hari. Betapa luar biasanya yang dulu kukira diet adalah jawabannya, sekarang menjadi pertanyaan.
Mana pernah terpikirkan untuk menjaga perasaan orang lain karena pada kenyataannya kupikir semua orang bisa memaafkan perasaan masing-masing. Dan kutahu aku salah besar.
Karena jelas sudah buktinya aku sendiri belum mampu menjaga perasaanku sendiri hingga aku terlalu sedih, menangisi kesalahan dan dosa yang kubuat sendiri, menyesal entah karena apa hingga lama-kelamaan aku akan berubah tak semanis dulu.
Sebab tawamu yang kupikir akan mengobati lukaku yang tergores oleh tajamnya dunia, harusnya bersahabat dengan tawaku sendiri yang kian lama kian sumbang. Yang sekarang aku butuhkan selain pelukmu yang tulus itu, adalah pelukku sendiri agar aku bahagia lagi.
Jika Aku Mati, Akankah Ada yang Menangis?
tenggelam ditelan bayanganku sendiri atau
lenyap bersama nada,
maukah engkau atau
atau siapapun itu berusaha mencariku?
atau paling tidak khawatir dan
resah akan kepergianku?
aku hanya bertanya-tanya tentang
orang-orang yang mengaku
sayang padaku itu,
apakah mereka benar-benar peduli,
atau hanya iba terhadap rahasiaku?
Wednesday, January 22, 2014
Perempuan yang Membenci Pujian
Udara menjadi dingin tanpa ampun, seolah Ibukota bisa turun salju. Manusia-manusia pengeluh itupun enggan keluar dari tempat persembunyian mereka dan memilih untuk meringkuk di balik selimut masing-masing sambil berdoa agar aku tak menangis. Sesekali aku menghembuskan nafas, yang akan membuat pohon-pohon menggigil dan tanpa sengaja melepas daun-daunnya. Malam ini hening dan dingin, menggambarkan suasana hatiku. Biarlah nanti tepat pergantian hari, aku akan menangis lagi, supaya lega, supaya aku tak merindu lagi.
Kuperhatikan segala sudut jalanan yang becek. Beberapa kendaraan masih sudi lalu lalang di musim hujan seperti ini, seperti orang bodoh. Para pedagang yang biasanya dengan riang menjajakan dagangan mereka, yang kadang penuh tipu daya demi laba yang besar, kini memilih untuk tinggal agar tak merugi.
Lalu sayup-sayup terdengar derap langkah gontai di atas jalanan yang licin. Seorang pria dengan kemeja lusuh berjalan dengan kepala tertunduk. Garis-garis di wajahnya menggambarkan hidupnya yang kehilangan asa. Sesekali dia merogoh kantong celananya yang kosong melompong, berharap ada keajaiban yang membuatnya mendadak kaya.
Tiba-tiba sorot matanya sedikit menyala, megarah ke depan, ke arah seorang perempuan yang terduduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Dengan ragu, pria itu menghampiri perempuan tadi. Lalu dengan diduga, wajah yang tatapannya kosong itu menoleh ke arah Gusti.
"Sendirian?" tanya Gusti canggung.
Perempuan itu menatapnya kosong tak berkedip. Ingin rasanya Gusti terus berjalan pulang menjauh dari gadis aneh itu. Tapi dinginnya malam ini membuatnya tak tega untuk meninggalkan gadis secantik itu sendirian di luar.
Gadis itu cantik. Matanya besar dan anggun dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung sempurna seperti gadis-gadis Barat. Bibirnya berisi dengan lekukan yang membingkai sempurna.
Di tengah cuaca yang bisa saja membuatnya mati kedinginan, dan suasana hati yang hampir membuatnya bunuh diri ini, rasanya enggan untuk berbicara pada siapapun. Tapi perempuan ini menarik, dan sebagai seorang lelaki tulen, hasrat untuk berdekatan dengan gadis inipun timbul.
Gusti duduk di samping perempuan itu, menatap matanya yang hampa, lalu tersenyum.
"Mbak ini cantik sekali, tapi kenapa harus sendirian malam-malam begini?" tanya Gusti mencoba ramah.
Gadis itu masih membisu. "Kenapa diem? Coba, kalau ada masalah, bisa cerita sama saya. Saya juga sebenarnya sedang pusing. Saya baru saja dipecat hari ini..." oceh Gusti tanpa henti, menceritakan gadis itu apa yang terjadi seharian.
Di tengah ceritanya yang panjang, sambil sesekali menatap kedua sepatu kulitnya yang kotor terkena cipratan air bekas hujan siang tadi, Gusti merasakan sesuatu yang hangat di paha kirinya. Mula-mula dari lutut, lalu kemudian naik hingga ke pangkal pahanya. Seketika Gusti berhenti berbicara.
Tangan gadis itu kemudian merogoh sesuatu yang berada di balik celana Gusti yang mengeras. Gusti tercengang, bingung. Ketika hendak menghentikan tangan gadis itu, Gusti terkejut. Entah sejak kapan gadis itu melepas tiga buah kancing bajunya sendiri, yang menyembulkan kedua buah dadanya yang ranum seperti buah mangga yang siap dipetik.
"Enggg... Mbak," belum sempat Gusti menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gusti merasakan sesuatu yang hangat mengulum bibirnya. Mengecup lembut dan sesekali menggigit bibir bawahnya.
"Tadi kamu bilang saya cantik, kan?" akhirnya suara gadis itu terdengar juga. Suara yang lembut, yang tak ada seorang lelakipun mampu menolak untuk dibisiknya.
Gusti mengangguk. "Iya, mbak," jawab Gusti dengan tergesa, yang tak dapat terdengar jelas karena mulutnya sedang berada di dalam bibir gadis itu.
"Aku bosan dibohongi," jawab gadis itu, tersenyum tipis.
"Mana mungkin saya berbohong? Tanya semua pria yang mbak temui, pasti semua akan bilang mbak ini cantik," kata Gusti lagi, mencoba meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar cantik.
"Semua pria sama saja! Mereka memuji hanya untuk kepuasan selangkangan mereka! Lalu setelah mendapatkan semua, mereka berhenti memuja kami para gadis dengan kata-kata manis!" teriak gadis itu.
Kedua mata yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan membara. Dahinya menyerngit, dan dia berhenti mencium Gusti. Masih menatap Gusti yang ketakutan, muncul gigi yang panjang dan runcing seperti mata pisau pada taringnya.
Gusti mematung. Darah yang tadinya hangat kini membeku di pembuluhnya. Matanya melotot menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah menghilang ditelan angin malam.
Dengan kecepatan sepersekian detik, kedua gigi taring yang seperti binatang buas itu menusuk leher Gusti, yang kemudian mulai mengunyah sebagian wajahnya. Aroma darah segar yang menggiurkan tercium dibawa hembusan nafasku. Lelaki dengan celana yang setengah terbuka itupun berhenti bergerak.
Setelah kenyang makan malam dengan menu spesial, gadis itupun mengancingkan kembali bajunya dan merapihkan rambutnya. Dengan langkah malas karena perutnya yang penuh, dia menghilang di tengah gelapnya malam.
Monday, January 20, 2014
Perawan
gagal jadi pemenang
mustahil jadi yang pertama
tak akan kau pernah perawani aku
karena habis aku dengan pria malam itu
lima tahun lalu
jauh sebelum aku mengenalmu
jauh sebelum aku mengerti
apalah arti sebuah kesucian
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
jangan kau panggil aku lacur
aku hanya membayar apa itu
yang disebut kenikmatan
dan terlalu dini
rapuh sampai tak sanggup berontak
kau lihat tangan pria yang kuat itu
yang pernah mencengkram pergelangan tanganku
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
aku dulu pernah sebersih itu
apa yang kau sebut gadis perawan
yang harum bagai kembang desa
embun pagi hari dengan senyum menggoda santun
dan dada yang bersembunyi malu
atau birahi yang belum lahir
malah bau matahari anak sekolah
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
kau bilang enggan rasanya menciumku lagi
setelah kau tahu betapa kotornya gadismu
kau kira aku tidur dengan lima pejantan
yang kau pikir semua nafsuku
jangan kau panggil aku lacur
lima tahun lalu
aku pernah perawan
Thursday, January 16, 2014
Adakalanya
adakalanya aku penat menutup duka,
adakalanya aku bosan berpura-pura,
adakalanya aku lemah berdiri tegak
jika aku pada akhirnya pergi, atau bahkan menghilang,
mungkinkah itu artinya aku muak bersabar kepadamu?
atau aku sudah letih berbaik hati lagi?
kadang aku bosan sebaik ini,
atau bahkan terlalu jahat.
Tuesday, January 14, 2014
Tentang Pemikiranmu Selama ini, Kau Salah Besar
di halaman depan menyambut mata
larik-larik sajak yang kuukir,
bukan semata-mata aku menangis
adakalanya aku bosan tertawa,
jadi kuputuskan untuk merenung
dan jika kau berpikir itu semua selalu tentangmu,
kau salah besar
dan jika kau merasa aku masih ada untukmu,
kau salah besar
dan jika kau menganggap rasa ini masih sama,
kau salah besar
Monday, January 13, 2014
Berkunjunglah, Aku akan Menjadikanmu Sebagai Tamuku
(atau selama apapun kau mau) di tempat baruku
bukan, aku tak ada niatan apapun
untuk meninggalkan rumah lamaku
dan memulai hidup baru
bukan, aku tak bermaksud sama sekali
berselingkuh dan menelantarkan milikku
yang sudah hampir tua dan selalu setia ini
aku hanya butuh tempat baru,
untuk membuka jiwa yang baru
datanglah, dengan sajian seadanya
kuharap tak ada sungkan untuk datang lagi.
Aku yang Enggan Kau Akui
setakbergunanya aku, bahkan aku kau abaikan
setakbergunanya aku, hingga aku menjadi satu
dari barisan yang terlupakan
aku hanyalah lalat hijau yang hinggap
di ujung sedotan minumanmu,
aku hanyalah spasi antara huruf terakhir dan tanda baca
yang memisahkan tanpa arti,
aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah
setelah membersihkan dosamu dengan luka,
bagaimana kamu yang pernah begitu menginginkanku
lalu seolah aku yang terlalu menginginkanmu,
dan tentang segala kata maaf yang bukan salahku,
dan tentang segala duka yang kusembunyikan di balik bahagiaku,
dan kamu yang selalu memanjakan perihnya lukaku,
aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.
Sunday, January 12, 2014
Kenapa Belum Pulang?
Aku yang Membenci Sunyi
mungkin aku jugalah bagian dari mereka
yang mencintai ketenangan
mungkin aku bukanlah bagian dari mereka
yang mencintai kesunyian
aku membenci sunyi
seperti aku membenci kegelapan
aku benci mendengar bisikan angin malam
atau dinginnya sepi
atau bayanganmu yang sayup-sayup muncul
dan suara lebutmu yang membelai rindu
atau pelukmu yang enggan pergi
dan kehadiranmu yang mati
aku bicara bukannya tak setia
atau tak mau sendiri
hanya aku enggan terjebak sunyi
dan kehadiranmu yang mati
Friday, January 10, 2014
Bukan Kota Baik Hati
Lima belas menit kemudian Tarjino memarkirkan taksinya untuk mampir di warung kecil pinggir jalan. Di depan warung itu ada tiga pria dengan kacing baju terbuka yang menyembulkan perut buncit mereka, sibuk bermain kartu dan berbincang sambil sesekali menyeruput kopi hitam mereka.
"Hey, bang! Gimana hari ini? Lancar?" tanya pria dengan kumis tebal.
"Aduh. . . Gak tau lah, mas. Hari gini kayaknya orang-orang udah punya mobil pribadi ya? Sepi nih taksi saya," jawab Tarjino sambil tersenyum, menghampiri ketiga pria yang sudah ada di warung tersebut sebelumnya.
"Ya gitulah, bang. Jakarta ini memang keras," balas pria kumis tebal tadi tanpa melirik ke arah Tarjino.
Tarjino tersenyum pahit. Perutnya kosong seharian, jadi badannya pun agak lemas. Lalu dia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.
Terdengar Tarjino sedang menyapa seseorang di seberang telepon, "Halo, Assalamualaikum, bu. . . Maaf bu, bapak hari ini belum bisa bawa pulang uangnya. . . Iya . . . Coba tanya Bu RT bisa gak dipinjamin lagi uangnya. . . Oh, bulan kemarin belum lunas ya? Adek gimana, sudah agak sehat? Oh ya sudah, nanti bapak usahakan ya, bu. Ibu tenang aja. . . Wassalamualaikum. . ."
Setelah menutup teleponnya, salah seorang pria bertato yang tengah bermain kartu tadi berceletuk.
"Bang Tar, kalau abang memang butuh uang, temanku ada yang kemarin dapat jutaan dalam semalam," katanya.
"Wah, kok bisa mas?" tanya Tarjino penasaran.
Sebagai isyarat memanggil, pria tersebut menggerakan tangannya. Tarjino pun menghampirinya dan membungkuk. Sambil membisikan kata-kata di telinga Tarjino, pria tersebut sesekali menghisap rokoknya. Tarjino pun sesekali mengangguk dan mengkerutkan dahinya.
"Kok agak berisiko yang, mas?" tanya Tarjino ragu.
"Ya, kalau abang memang mau dapat uang cepat, memang harus begitu, bang. Ingat, Jakarta ini gak sebaik itu untuk menafkahi isteri dan anakmu yang sakit-sakitan itu di kampung. Tapi ya, semua terserah abang. Kalau abang mau, biar kuhubungi nanti temanku," jawabnya santai.
Tarjino hanya bergeming, memikirkan nasib keluarganya, dan juga dirinya sendiri.
Tuesday, January 07, 2014
Tadinya
kupikir awalnya aku akan menjauhimu
kupikir awalnya aku akan meninggalkanmu
kemudian aku salah
rasa ini ternyata masih tetap sama
seperti sejak awal kita bertemu
Sunday, January 05, 2014
Barangkali
Kabut
bersama dinginnya udara,
ditelan gelapnya cahaya,
rupamu semakin samar.
aku mencoba meraih asap itu.
dengan terus berlari, aku mengejarmu,
dengan terus menghilang, aku kehilanganmu.
kabut.
sampai akhirnya,
matahari mulai memanjat tebing siang,
embun yang tadinya tidur, mulai terbangun,
kaupun menghilang, ditelan hari.
Malam-malam Tak Terhitung Terjaga Karena Rindu
Jangan berhenti atau mati
Aku gerah dan ingin marah
Hanya peluk yang membuatku sejuk
Terlalu jauh sampai mengeluh
Perih sampai harus merintih
Sayang, cepat kau pulang
Ada senyum yang siap dikulum
Banyak berita sebagai cerita
Mari kita tidur dalam lindur
Saturday, January 04, 2014
Pada Kedua Bola Matamu, Tuhan Titipkan Bahagiaku
Bersama kalimat-kalimatmu, aku tenggelam dalam janjimu.
Bersama rengekan kekanak-kanakanmu, aku tak mampu membenci.
Bersama peluhku yang menetes, bebanku larut.
Mungkin pada hangatnya pelukmu, dinginnya acuh hatiku mencair.
Sekali lagi, aku benar-benar tak mampu membenci.
Bersama tawa dan lelucon bodoh, air mataku larut dalam bahagia.
Bersama bayanganmu yang semu, aku mencoba menemukan aku.
Friday, January 03, 2014
Ibuku
Kenyataannya di kedua telapak tangannya lah Tuhan aminkan doa
Kenyataannya di telapak kakinya lah Tuhan titipkan surga
Pada peluknya kau temukan rumah ternyaman
Pada senyumnya kau melarikan diri dari dunia
Pada tangisnya kau harusnya hapuskan luka