Friday, October 17, 2014

Hantu

Aroma kopi hitam berdansa dengan bau buku di ruangan yang redup ini. Jemariku dengan menulusuri lembar-lembar kertas yang kekuningan dan bertumpuk kaku di rak. Kemudian langkahku terhenti, mataku menangkap sesuatu yang pernah kulihat sebelumnya. Sekian tahun yang lalu.

Kuambil buku itu dengan ragu dan kubawa ke meja baca yang sudah sekian lama menjadi santapan para rayap. Degup jantungku menggema hingga aku takut akan membangunkan semua orang di rumah ini. Aku meraba sampulnya seolah membaca huruf braille. Meraba apa yang diam-diam dikatakan oleh huruf yang bukan untuk dilihat.

Aku hendak mengembalikan buku usang itu sebelum akhirnya buku itu terjatuh dan lembarannya terbuka. Selembar foto hitam-putih dengan tanggal yang tertera di belakangnya terjatuh. Di sana tertulis: 6 September 2008.

Sekejap ruangan yang seharusnya menjadi ruang membaca suamiku mendadak menjadi lorong waktu. Wajahku yang dulu masih muda, yang mirip artis sinetron, muncul di dinding. Lalu kulihat senyuman Ibu yang cantik dan kumis Bapak sayup-sayup memudar. Hingga akhirnya kulihat sesuatu yang membuat darahku berhenti mengalir. Bahkan ruang baca itupun mendadak menjadi ruang kedap udara. Seolah aku melihat hantu.

Hantu yang telah lama tidak muncul di mimpi burukku. Hantu yang sesekali meniup leherku di tengah malam saat aku berjinjit ke kamar mandi. Hantu yang dulu enggan membuatku tenang.

Wajahnya masih sama, seperti terakhir kali aku melihatnya. Waktu itu langit sedang menerima berita buruk, hingga awannya yang kelabu ingin sekali menemani. Bahkan sepoi-sepoi angin seolah gemas ingin menjenggut rambutku yang sebahu. Aku yang sendiri menunggu di depan gubuk warung yang sudah lama tutup, tak tahan ingin pulang.

Aku ingat bau badanku lebih mirip bau matahari daripada aroma minyak wangi yang dibeli Ibu setiap bulan. Dan mukaku yang berminyak bercampur debu anak sekolahan. Lalu seketika aku menghirup aroma yang dulu aku kenal. Tatapanku menjadi gelap, sontak aku menjerit terkejut. 

Kemudian kami berdua tertawa geli. Ia melepaskan kedua tangannya dari mataku dan memelukku dengan mesra. Ia menatapku nakal, seolah aku bisa membaca matanya.

Ia menarikku masuk ke warung yang tak lagi menjual apapun sejak awal tahun ajaran baru. Perlahan ia menutup pintu warung itu dan mendorongku ke dinding yang terbuat dari anyaman bambu. Lapar yang kurasa sejak pagi haripun tak tertahankan lagi hingga dengan serakah kulumat bibirnya yang merah muda. Seolah ingin membalas dendam, kedua tangannya yang kokohpun mendarat di dadaku, mencari dimana letak jantung berdetak. Meremas apa saja yang ia temukan sampai yang terdengar hanyalah desahanku. 

Dalam hitungan detik, bibirnya yang basahpun mengecup leherku yang berkeringat. Jemarinya dengan sigap menyelinap seperti banyangan di sela-sela kancing kemeja seragamku, lalu turun ke bawah punggungku, membuka ritsleting dan menurunkan rok abu-abu yang selutut itu.

Kemudian entah bagaimana caranya, tubuhku bersandar di meja warung. Yang aku ingat saat itu adalah bagaimana caranya menghirup udara sebanyak-banyaknya saat seseorang berada di atas tubuhmu sambil terus mencium bibirmu. Hal lain yang aku ingat adalah suara decitan kaki meja yang bergoyang.

Aku sedang merapikan seragamku saat aku mendengar ketukan kencang di pintu sebelum akhirnya pintu yang rapuh itu terbuka lebar. Sesosok pria berdiri di ambang pintu dengan tatapan marah dan tangan mengepal. Bapak.

Bapak langsung menghampiri kami diikuti 5 pria dewasa lain yang langsung memukuli lelakiku. Aku masih mencoba menyadarkan diriku sebelum akhirnya pipiku terbakar oleh tamparan Bapak. Bahkan saat itu, aku menjadi bisu dalam sesaat. Aku lupa bagaimana berbicara, bagaimana berkata-kata. Dan mataku masih tertuju pada kancing kemeja lelakiku yang masih terbuka.

***

Suara langkah kaki di ruang tamu membuyarkan lamunanku. Cepat-cepat kuhapus air mata yang membasahi wajahku dengan lengan bajuku dan berdiri membawa buku itu menuju rak buku. Suara langkah kaki itu semakin terdengar. Kutarik napas dalam-dalam dan tersenyum. 

Kulihat senyuman manis menyungging di wajahnya, yang baru saja pulang lembur. Kuhampiri suamiku yang kelelahan sambil merentangkan tangan. Menyambutnya dengan pelukan hangat dan ciuman bertubi-tubi di wajahnya. Ia membalas pelukan dan ciumanku sambil tersenyum manja.

"Baca buku apa?" tanyanya menatap ke buku yang belum sempat kukembalikan ke rak.

"Buku lama," jawabku tersenyum. Aku terhuyung menghampiri rak dan menyelipkan buku tua itu di antara buku-buku lainnya. Ia mengikutiku dan masih memelukku dari belakang.

"Jangan terlalu sering membaca buku seperti itu. Aku tak mau melihatmu menangis tiap malam," katanya sambil membelai rambutku.

Aku hanya tersenyum dan menciumnya lagi. Malam itu, aku tertidur di pelukan suamiku yang menjagaku dari mimpi buruk tentang hantu yang pernah mencium leherku di warung dulu.

No comments:

Post a Comment