Thursday, January 02, 2014

Pasar Malam Pahing

Malam itu gelap dan dingin. Hening sekali sampai yang kau dengar hanyalah suara jangkrik dan rerumputan yang kesakitan karena kau injak. Mataku terus mengikuti cahaya lampu minyak yang dibawa bapak. Aku harus siaga kalau-kalau aku terpeleset menginjak bebatuan atau kaki ayahku sendiri. 

Sebelum berangkat tadi, ibu berpesan untuk jangan jauh-jauh dari bapak, jadi kugenggam terus bajunya yang usang agar aku tak hilang dibawa hantu. 

Lima belas menit sudah kami berjalan kaki sampai akhirnya kulihat cahaya yang terang dan terdengar suara orang-orang. Banyak anak kecil yang membawa gulali dan mainan, ibu-ibu yang sibuk menawar harga barang-barang, dan bapak-bapak yang saling bercengkrama sambil menunggu istri-istri mereka. Aku sumringah, berharap akan pulang membawa gulali ke rumah.

"Pak, belikan adek gulali ya, pak." pintaku dengan kepala mengadah ke arah wajah bapak. 

Bapak tersenyum tanpa menjawab. Kami terus berjalan melewati pedagang gulali yang berarti bapak tidak akan membelikanku makanan yang kelihatannya enak itu. 

Di pasar malam yang buka setiap malam Pahing di desa ini sering diadakan pertunjukan wayang kulit. Kami berdiri di baris belakang penonton. Tubuhku yang mungil ini harus bersusah payah berjinjit untuk bisa melihat bayangan wayang-wayang di balik kain putih di panggung. Aku merasakan kedua tangan bapak mengangkat tubuhku dan menggendongku di pundaknya. Sekarang aku senang bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit kesukaan warga desa kami.

Pertunjukan wayang pun usai, para penonton mulai berhamburan menjauh dari tempat si dalang memainkan wayang-wayangnya bercerita. Kamipun segera berjalan untuk pulang, dengan perut yang kelaparan sejak berangkat tadi. Lalu bapak menarikku ke arah gerobak pedagang martabak telur. 

Kami berdiri di dekat meja si pedagang melempar-lemparkan adonan yang lama kelamaan melebar dan menipis. Aku menyaksikannya takjub. Dengan lihai si pedagang martabak melakukan atraksinya itu, dan meletakan kulit martabaknya ke penggorengan yang lebar dan rata. Aneh bagiku karena aku belum pernah melihat penggorengan selebar itu. 

Perutku semakin bergemuruh tanda kelaparan. Seolah menyadarinya, bapak mengajakku untuk pulang. Dengan enggan aku mengangguk dan pergi bersama bapak menjauhi kerumunan orang-orang di pasar malam itu.

Catatan: Kisah tentang anak laki-laki yang pergi ke pasar malam terinspirasi dari kisah ayah saya yang sering bercerita tentang kisah masa kecilnya sebagai seorang anak bungsu dari pasangan petani miskin yang tinggal di desa. 

No comments:

Post a Comment