Monday, March 24, 2014

Sekawanan yang Menjadi Musuh: Jarak, Waktu, dan Kita

mungkin siang-siang seperti ini. saat jika kau berdiri 20 menit di bawah langit dengan
baju sehari-hari, lenganmu akan lebih gelap dari warna pahamu. di mana aku pernah 
duduk di pangkuanmu dengan senyuman yang lebih nakal dari rindu yang membuat resah. 
dan hutang yang harus lunas akhir bulan. mungkin di siang-siang seperti ini. saat kau terlelap dalam
malammu sendiri di sana. kau sedang meminang mimpi yang kuharap ada rambutku. 
rambut panjang yang sekali kau belai. dan sesekali terselip di sela jemarimu. mungkin di sana 
aku akan pulang, sayang. dan terlelap di malam yang sama.

dan ketika bisikan malam yang ngeri, yang membangunkan bulu kuduk datang. dan
desahan dari balik selimut yang keluar diam-diam. dan tanganmu yang serupa pendaki
gunung enggan turun. dan bokong gadismu yang kau anggap lebih indah dari purnama. 
dan ombak yang menampar karang-karang. dan peluhmu yang jatuh di wajahku. dan 
ciuman-ciuman yang lebih mirip makan malam. dan penahan dada merah jambu, 
yang kau lepas pengaitnya sebelum kau masuk. dan beberapa 'ssstt' untuk mengheningkan nafsu.

kemudian kala matahari malu-malu datang di timur. dan ayam-ayam jantan yang sungkan begadang
membangunkan kita yang lelap. dan mata yang sembab sisa semalam. dan kasurku yang terasa
lebih luas dari tadi malam. dan sosokmu yang hilang lagi setelah berkunjung di mimpiku. dan pagi
yang sepi lagi. dan hari yang berat lagi. dan kita yang kelak akan bertemu kembali setelah semuanya
tertidur.


No comments:

Post a Comment