Friday, January 10, 2014

Bukan Kota Baik Hati

Mobil taksi berwarna biru muda itu melesat di jalan raya. Terjebak di antara kendaraan lain yang saling mencari celah untuk menjauh dari penatnya hiruk-pikuk ibu kota yang penuh dengki. Sambil sesekali menenggak air dari botol minum 1 liter untuk mengisi perutnya yang sebenarnya lebih butuh nasi dibanding air, si supir terus mengendarai mobil yang menjadi sumber pencahariannya itu. Sesekali ia melirik ke pinggir jalan kalau-kalau ada calon penumpang yang siap untuk diangkut. Di bawah terpaan cahaya lampu jalanan ala Jakarta malam hari, mobilnya terus berusaha keluar dari kemacetan yang semakin hari semakin menggila.

Lima belas menit kemudian Tarjino memarkirkan taksinya untuk mampir di warung kecil pinggir jalan. Di depan warung itu ada tiga pria dengan kacing baju terbuka yang menyembulkan perut buncit mereka, sibuk bermain kartu dan berbincang sambil sesekali menyeruput kopi hitam mereka.

"Hey, bang! Gimana hari ini? Lancar?" tanya pria dengan kumis tebal.

"Aduh. . . Gak tau lah, mas. Hari gini kayaknya orang-orang udah punya mobil pribadi ya? Sepi nih taksi saya," jawab Tarjino sambil tersenyum, menghampiri ketiga pria yang sudah ada di warung tersebut sebelumnya.

"Ya gitulah, bang. Jakarta ini memang keras," balas pria kumis tebal tadi tanpa melirik ke arah Tarjino.

Tarjino tersenyum pahit. Perutnya kosong seharian, jadi badannya pun agak lemas. Lalu dia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.

Terdengar Tarjino sedang menyapa seseorang di seberang telepon, "Halo, Assalamualaikum, bu. . . Maaf bu, bapak hari ini belum bisa bawa pulang uangnya. . . Iya . . . Coba tanya Bu RT bisa gak dipinjamin lagi uangnya. . . Oh, bulan kemarin belum lunas ya? Adek gimana, sudah agak sehat? Oh ya sudah, nanti bapak usahakan ya, bu. Ibu tenang aja. . . Wassalamualaikum. . ."

Setelah menutup teleponnya, salah seorang pria bertato yang tengah bermain kartu tadi berceletuk.

"Bang Tar, kalau abang memang butuh uang, temanku ada yang kemarin dapat jutaan dalam semalam," katanya.

"Wah, kok bisa mas?" tanya Tarjino penasaran.

Sebagai isyarat memanggil, pria tersebut menggerakan tangannya. Tarjino pun menghampirinya dan membungkuk. Sambil membisikan kata-kata di telinga Tarjino, pria tersebut sesekali menghisap rokoknya. Tarjino pun sesekali mengangguk dan mengkerutkan dahinya.

"Kok agak berisiko yang, mas?" tanya Tarjino ragu.

"Ya, kalau abang memang mau dapat uang cepat, memang harus begitu, bang. Ingat, Jakarta ini gak sebaik itu untuk menafkahi isteri dan anakmu yang sakit-sakitan itu di kampung. Tapi ya, semua terserah abang. Kalau abang mau, biar kuhubungi nanti temanku," jawabnya santai.

Tarjino hanya bergeming, memikirkan nasib keluarganya, dan juga dirinya sendiri.


No comments:

Post a Comment