Tuesday, January 28, 2014

Pukul 11 Malam

Jadi dalam tiga bulan terhitung mundur, sudah kering mata air ini dengan cuma-cuma. Entah apa yang dibisikan angin malam kepadaku hingga akhirnya aku menjerit di dalam keheningan, yang mungkin kata rindu. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, sesaat itu juga kamarku menjadi dingin, memaksaku untuk meringkuk lemah di balik selimut tipisku yang entah kapan terakhir dicuci.
Lalu semua alunan musik yang riang yang bising dari headphones-ku, kemudian sayup-sayup menghilang, berubah tanpa sadar menjadi suaramu, suara seseorang yang jauh sekali di sana, yang hanya akan membuatku ingin mengecup bibirmu.
Dan dinding kamarku kemudian dengan iseng menggodaku yang tak sanggup memeluk bayanganmu yang maya. Lalu perlahan-lahan suara tawamu muncul, renyah dan riang seperti ketika dulu aku masih kanak-kanak dan bermain petak umpet. Tawa yang dapat melepas kelelahanku memikul beban kuliah dan pekerjaan yang tiada habisnya memancingku untuk mengeluh, tawa yang hanya kau punya seorang. Tawa yang akan membuatku tersenyum, kemudian menangis, ah, mungkin ini yang disebut rindu.
Aku ingat betapa bahagianya mendengar tawamu lagi, menatap matamu yang selalu bercahaya, yang menyorot mataku, yang setelah dua bulan kau menghilang bersenang-senang dengan sibuknya duniamu yang kejam. Lalu sedikit demi sedikit hati ini, yang kesepian, yang merindukan peluk untuk melelehkan salju batinku, mulai mencair.
Belum.
Kemudian apa itu yang disebut kesedihan masih tinggal, enggan pergi entah bagaimana aku berusaha mengusirnya. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, perlahan es batu yang kusembunyikan dibalik kelopak mataku meleleh, membuat wajahku yang gendut ini basah dan asin.
Aku kesepian lagi. Yang kupikir aku tak akan pernah mengenal apa itu sepi. Walaupun kau yang selalu membuang sunyi sudah kembali. Lalu seolah semua orang yang dulu selalu tinggal kemudian mulai meninggalkan: meninggal di dalam pikiranku, menjadi bangkai yang enggan dikubur.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya, setiap malam, merasakan kesedihan yang sebenarnya tak begitu penting, namun terlalu menyakitkan sebab kesedihan ini tanpa obat kecuali peluk yang tulus.
Hingga akhirnya dalam tiga hari dua malam kusadari tubuhku yang menjadi sangat ringan setelah kehilangan tiga kilo dalam tiga hari. Betapa luar biasanya yang dulu kukira diet adalah jawabannya, sekarang menjadi pertanyaan.
Mana pernah terpikirkan untuk menjaga perasaan orang lain karena pada kenyataannya kupikir semua orang bisa memaafkan perasaan masing-masing. Dan kutahu aku salah besar.
Karena jelas sudah buktinya aku sendiri belum mampu menjaga perasaanku sendiri hingga aku terlalu sedih, menangisi kesalahan dan dosa yang kubuat sendiri, menyesal entah karena apa hingga lama-kelamaan aku akan berubah tak semanis dulu.
Sebab tawamu yang kupikir akan mengobati lukaku yang tergores oleh tajamnya dunia, harusnya bersahabat dengan tawaku sendiri yang kian lama kian sumbang. Yang sekarang aku butuhkan selain pelukmu yang tulus itu, adalah pelukku sendiri agar aku bahagia lagi.

No comments:

Post a Comment