Monday, March 24, 2014

Satu Menit Keheningan dari Satu Tahun Penantian

tawa yang lebih ramai dari pawai mendadak sepi
ditelan rindu yang kian hari kian ganas.
dan kutangkap senyummu yang terhapus sedih,
kedua mata yang pernah kukecup dalam tidur.

dan sebuah pertanyaan: kenapa kau enggan bicara?
lalu kau mengecup bibir yang tak mengenal diam.
dan sebuah pernyataan: kau berbicara lewat matamu.
lalu aku tenggelam dalam lautan pupil yang kecokelatan.

dan tangisan yang kau sembunyikan dibalik kalimat:
"tenang, sayangku. berilah aku dua bulan dan aku akan pulang."
ternyata lebih pedih dari air mataku. sebab kau bilang
laki-laki pantang menangis, jadi kau putuskan untuk kuat.

dan semakin hari dua bulan terus bertambah tanpa henti
hingga dikalikan menjadi dua tahun dan abad.
dan kau yang tak kunjung pulang, duhai sayangku
hanya memupuk duka di antara kita yang luka.


No comments:

Post a Comment