wajahmu lelah habis disiksa hari
yang kau bilang demi kita
jadi kau putuskan lebih baik kau pergi
merajut mimpimu dulu, lalu mimpiku
jadi kuputuskan juga begitu
aku yang membungkuk lelah membopong beban
tanpamu yang sibuk memintal benang asa
duduk bersandar lemas merindu istirahat
dibawah pohon rindang bersembunyi dari matahari
yang tajam menusuk epidermis kulit legamku
kulihat dari kejauhan ada sesosok pembawa air
berjalan di tengah fatamorgana, memikul harap
dengan senyum ramah dia tawarkan bantuan
mengangkut beban agar dipikul berdua
lalu bayanganmu muncul dari kejauhan
menanti sabar di safa dan aku membisu di marwah
lalu si pembawa air tanpa ragu mengajakku pergi
mencari oasis berdua, agar tetap hidup
dan bayanganmu larut ditelan bayangan gurun
yang kuingat kau percaya aku tak mungkin pergi
lalu biarlah aku dihukum dosaku sendiri
menenggak sedikit air menunda dahaga akan rindu
perlahan kubiarkan si pembawa air pergi
mencari gadis kelelahan lain untuk ditolong
lalu biarlah aku berjanji, sayangku
aku akan terduduk di bawah pohon menanti kau pulang
dengan mandi peluh asin dari lelahnya menunggu
agar kubasuh wajahmu yang lelah dengan air mata
No comments:
Post a Comment