dan urat-urat yang ungu kehijauan, kau bilang tanda perkasa
sampai telur-telur di kedua lenganmu, yang siap meledak
dan rambut yang mengintip di dadamu yang sekokoh baja
dan tanganmu, si petualang sejati
yang mendaki gunung kau sebut buah dada
atau puncak volcano
hingga tebing curam yang meraung-raung
dan tanganmu, si petualang sejati
enggan pulang, walau kadang merindu rumah
selama kau masih mengembara di hutanku
aku tak akan menjadi gempa
No comments:
Post a Comment