Jari jemariku gemetar. Seolah aku baru saja keluar dari kolam penuh es batu, atau melihat hantu. Aku merasa sangat tidak nyaman. Benar-benar ini soal perasaan yang membuatku sedih. Sakit. Pilu.
Aku sedang dalam upayaku sendiri menahan rintik air mata yang mencoba berenang keluar dari bendungan mataku.
Aku mencoba menertawakan kebodohanku sendiri.
Rasanya aku selalu ingin berjanji pada diriku sendiri untuk tidak terjatuh lagi, atau untuk belajar dari kesalahanku (yang selalu sama) dan tidak mengulangi lagi.
Tapi seolah itu semua mustahil.
Rasanya aku selalu ingin menutup rapat pintu hatiku dan mendinginkan api cintaku dan tidak akan membuka dan menghidupkannya lagi hingga pada waktu yang tepat.
Tapi semua terasa seolah mustahil.
Pria itu.
Dan semua pria.
Entah mereka semua memang diciptakan untuk membuatku patah hati, atau aku yang tidak pernah memperlakukan cintaku sendiri dengan benar.
Seharusnya aku bisa bermain dengan cara mereka, tidak pernah sedalam itu untuk jatuh cinta, tapi mereka dengan lihai menggambarkan seolah mereka benar-benar mencintaiku, sehingga akhirnya aku benar-benar terjatuh pada jebakan mereka.
Entah semua pria di muka Bumi ini terlalu baik untukku, atau aku terlalu begitu buruk untuk mereka.
Hingga aku tak pantas merasakan cinta yang baik-baik.
Aku hanya ingin merasakan perasaan yang normal.
Yang tanpa beban, dan tidak terlalu dalam.
Hingga pada saat semuanya harus menghilang, aku takkan merasa kehilangan.
Seperti rasanya, aku akan kembali bermain-main dengan hati, atau bahkan takkan pernah begitu mengandalkan hati.
Aku akan belajar bagaimana cara para pria menggunakan perasaan mereka.
Thursday, November 29, 2012
Thursday, November 01, 2012
Akulah Kerikil Tajam Yang Menusuk Kulitmu
Kau menjadi gelap dalam cahaya,
Rabun,
Pudar,
Lalu kau perlahan sirna,
Lalu aku menjadi sinar dalam bayangan,
Terang,
Silau,
Lalu aku perlahan nyata.
Dan akulah, alasanmu tak akan pernah bahagia, sepertiku.
Sunday, October 14, 2012
Pria dengan Api Sedingin Salju Di Hatinya
Semudah itu baginya untuk berubah.
Mungkin dia itu kemarau di kutub, atau balok es yang membara.
Tak akan sulit baginya untuk mencintaimu disaat bahkan tak ada cinta di hatinya.
Dialah pria yang semudah itu akan menyakitimu tanpa rasa bersalah.
Lalu setelah kau menyadari kebodohanmu dia akan menyesal dan berjanji akan memperbaiki semuanya, termasuk hatimu yang telah dia hancurkan sendiri.
Meski kenyataannya, dia sedang mencoba mempermainkanmu lagi, bahkan lebih parah.
Meski kenyataannya, dia tak pernah benar-benar mencintaimu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk menghancurkanmu lagi, tanpa peduli bagaimana kau berusaha memperbaiki dirimu sendiri dahulu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk mengacuhkanmu lagi, tanpa ada rasa untuk menoleh ke arahmu.
Jangan pernah sekalipun kau ingat lagi janji manisnya.
Dia hanya seorang pria, yang memang digariskan untuk sekeras itu melunakkan hati wanita yang mencoba mengeraskan hatinya sendiri, lalu menghancurkan hati wanitanya yang rapuh.
Meski berkali-kali dia katakan betapa dia mencintaimu.
Mungkin dia itu kemarau di kutub, atau balok es yang membara.
Tak akan sulit baginya untuk mencintaimu disaat bahkan tak ada cinta di hatinya.
Dialah pria yang semudah itu akan menyakitimu tanpa rasa bersalah.
Lalu setelah kau menyadari kebodohanmu dia akan menyesal dan berjanji akan memperbaiki semuanya, termasuk hatimu yang telah dia hancurkan sendiri.
Meski kenyataannya, dia sedang mencoba mempermainkanmu lagi, bahkan lebih parah.
Meski kenyataannya, dia tak pernah benar-benar mencintaimu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk menghancurkanmu lagi, tanpa peduli bagaimana kau berusaha memperbaiki dirimu sendiri dahulu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk mengacuhkanmu lagi, tanpa ada rasa untuk menoleh ke arahmu.
Jangan pernah sekalipun kau ingat lagi janji manisnya.
Dia hanya seorang pria, yang memang digariskan untuk sekeras itu melunakkan hati wanita yang mencoba mengeraskan hatinya sendiri, lalu menghancurkan hati wanitanya yang rapuh.
Meski berkali-kali dia katakan betapa dia mencintaimu.
Wednesday, October 10, 2012
Mungkin Di Kehidupan Yang Lain, Aku Ini Jodohmu.
Aku sedang dalam upayaku mendinginkan hatiku.
Menjadi sedingin malam yang terlalu tanpa cahaya.
Mungkin aku akan segelap itu. Beku.
Kau sendiri yang meminta aku untuk mematikan lagi rasaku yang sempat kau hidupkan setelah mati suri, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk membuang lagi kepingan rinduku ini yang dulu kau pungut dari tempat sampah, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk menghancurkan lagi hatiku yang dulu kau perbaiki lagi setelah sempat kau rusak, bukan?
Kalau itu maumu, akan kucoba.
Mungkin pada sekian detik yang akan datang, setelah aku bahkan tak pernah bisa mengenal aroma tubuhmu lagi yang dulu selalu memeluk indera penciumanku, atau setelah aku bahkan tak pernah bisa mengerti arti tatapan kedua bola matamu lagi, kau akan menggandeng wanitamu yang dengan penuh bangga kau perkenalkan pada dunia.
Mungkin setelah itu tanpa sengaja kedua pasang mata kita akan berpeluk dalam beberapa saat, saling mencoba mengingat, mengenal, lalu yang kita ucap hanyalah
"Ah, sepertinya aku pernah memandang mata itu dengan penuh rindu di sebuah ruangan masa lalu, tapi milik siapa mereka? Mungkin dalam mimpi." lalu kita saling membuang pandangan masing-masing.
Mungkin setelah itu aku akan menggandeng kekasihku yang menjadi kebanggaan kedua orang tuaku, lalu di suatu tempat, kita kembali tanpa sengaja dipertemukan waktu, dan aku tak lagi bisa memahami raut wajahmu di tengah kerumunan.
Mungkin setelah itu anak-anak kita akan bermain di sebuah tempat yang sama, dan ketika mereka mengerti apa itu seharusnya mencintai, dan mereka akan saling jatuh cinta.
Atau mungkin, rencana Tuhan jauh dari itu semua.
Mungkin setelah itu di suatu waktu yang bahkan aku tak pernah bayangkan, aku menemukanmu sendiri, berjalan dari arah berlawanan, menatap ke arahku seolah kau mengenalku, dan akupun demikian, dan mungkin Tuhan kembalikan semua yang dulu pernah kita sama-sama simpan untuk orang lain, hanya saja dengan jalan cerita yang jauh lebih "sesuai dengan keinginan kita dulu" dan di waktu yang tepat.
Tapi sekarang, mari kita pura-pura tak mengenal dan seolah aku benar-benar tak pernah mencintaimu.
PS. Selamat malam, jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut malam, besok kuliah dan jangan sampai telat.
Peluk dariku yang enggan merindumu lagi.
Menjadi sedingin malam yang terlalu tanpa cahaya.
Mungkin aku akan segelap itu. Beku.
Kau sendiri yang meminta aku untuk mematikan lagi rasaku yang sempat kau hidupkan setelah mati suri, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk membuang lagi kepingan rinduku ini yang dulu kau pungut dari tempat sampah, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk menghancurkan lagi hatiku yang dulu kau perbaiki lagi setelah sempat kau rusak, bukan?
Kalau itu maumu, akan kucoba.
Mungkin pada sekian detik yang akan datang, setelah aku bahkan tak pernah bisa mengenal aroma tubuhmu lagi yang dulu selalu memeluk indera penciumanku, atau setelah aku bahkan tak pernah bisa mengerti arti tatapan kedua bola matamu lagi, kau akan menggandeng wanitamu yang dengan penuh bangga kau perkenalkan pada dunia.
Mungkin setelah itu tanpa sengaja kedua pasang mata kita akan berpeluk dalam beberapa saat, saling mencoba mengingat, mengenal, lalu yang kita ucap hanyalah
"Ah, sepertinya aku pernah memandang mata itu dengan penuh rindu di sebuah ruangan masa lalu, tapi milik siapa mereka? Mungkin dalam mimpi." lalu kita saling membuang pandangan masing-masing.
Mungkin setelah itu aku akan menggandeng kekasihku yang menjadi kebanggaan kedua orang tuaku, lalu di suatu tempat, kita kembali tanpa sengaja dipertemukan waktu, dan aku tak lagi bisa memahami raut wajahmu di tengah kerumunan.
Mungkin setelah itu anak-anak kita akan bermain di sebuah tempat yang sama, dan ketika mereka mengerti apa itu seharusnya mencintai, dan mereka akan saling jatuh cinta.
Atau mungkin, rencana Tuhan jauh dari itu semua.
Mungkin setelah itu di suatu waktu yang bahkan aku tak pernah bayangkan, aku menemukanmu sendiri, berjalan dari arah berlawanan, menatap ke arahku seolah kau mengenalku, dan akupun demikian, dan mungkin Tuhan kembalikan semua yang dulu pernah kita sama-sama simpan untuk orang lain, hanya saja dengan jalan cerita yang jauh lebih "sesuai dengan keinginan kita dulu" dan di waktu yang tepat.
Tapi sekarang, mari kita pura-pura tak mengenal dan seolah aku benar-benar tak pernah mencintaimu.
PS. Selamat malam, jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut malam, besok kuliah dan jangan sampai telat.
Peluk dariku yang enggan merindumu lagi.
Monday, October 01, 2012
Kamu, Kisah yang Tak Urung Rampung.
Aku merapikan lipatan-lipatan di pojok halaman setiap lembar. Mataku menatap kosong. Baru saja kubuka buku ini, sudah harus kututup lagi. Baru saja kumulai meneruskan catatan lamanya, sudah harus ku hentikan pada titik di kalimat terakhir.
Gantung.
Aku tertegun. Kubuka lagi dari halaman pertama, menatap pada kalimat-kalimat pembuka yang manis dan lugu. Bibirku tersenyum malu. Membaca lagi tentang bagaimana kita bertemu dan akhirnya aku jatuh hati padamu. Kedua bola mataku terus bergerak dari kiri ke kanan dan ke kiri lagi menelan sedikit demi sedikit aksara yang pernah kutulis tentangmu. Otakku mulai memainkan rekaman lama tentang kita dulu. Tentang bagaimana kita tertawa geli, tentang lelucon bodoh, tentang pelukan hangat, tentang kecupan lembutmu, tentang pupil matamu yang agak kecokelatan memantulkan wajahku, tentang pertengkaran kita, tentang aku dan kamu yang berbeda. Kita.
Aku bergeming. Bahkan suara keheningan malam yang dingin berbisik di telingaku. Tanganku menghentikan pergerakannya membolak-balikan lembaran-lembaran kertas yang mulai lusuh karena lama kusimpan dan tak kunjung kubuka lagi. Darah dalam pembuluhku mulai bingung. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis dalam sepi. Aku harus kehilanganmu lagi, untuk kedua kalinya?
Aku terlarut dalam lamunanku sendiri.
Tiba-tiba suara detik jarum jam membuyarkan semua.
Kutatap lagi buku itu, sekali lagi.
Dan gambaran aku dan kamu sekali lagi.
Kemudian dengan sekali tarikan panjang nafas, dalam-dalam, aku menghela.
Kututup buku itu, dan dengan langkah terhuyung aku menghampiri rak yang bersela. Kusisipkan kisahmu, dalam memoriku.
Friday, September 07, 2012
Sepasang Maaf yang Enggan Mengalah
Lebam di wajahku masih terasa. Perih. Ngilu. Sakit.
Luka di tanganmu masih terlihat jelas. Aku melihat titik-titik darah segar yang menetes persekian detik dari goresan luka-luka itu. Daging yang mengaga lebar bekas tertancap beling.
Dan darah yang membeku, membiru di sudut-sudut wajahku. Dan tangisanku yang mencoba mengobati lukaku sendiri. Dan eranganmu yang mencoba menghilangkan perihnya lukamu.
Kita sama-sama kalah, dan ego yang jadi pemenang.
Dan aku yang pernah menjadi air, kini pun menjadi api.
Dan kamu tetaplah api.
Dan kita, hanyalah sepasang abu dan arang yang hangus habis terbakar.
Dan setiap dosa-dosa kita yang menjadi adat.
Dan setiap jeritan-jeritan penuh benci terlontar dari mulut-mulut kita yang saling mencintai.
Dan segala kata maaf yang bahkan akan terulang lagi.
Aku rindu masanya aku selalu mengalah.
Aku rindu masanya aku mengaku kalah.
Aku rindu masanya aku menjadi salah.
Namun aku bukanlah aku yang dulu.
Bukan aku yang sejinak itu untuk menjadi jinak
Bukan aku yang selembut itu untuk menjadi lembut.
Bukan aku yang selemah itu untuk menjadi lemah.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu menjadi pemenang dari segala egomu.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu merasa bangga atas keangkuhanmu.
Meski sekarang, aku menjadi kamu.
Menjadi sekeras hatimu.
Menjadi sepanas marahmu.
Menjadi sekuat dengkimu.
Aku meringkuk di pojok ruang temu. Gelap. Dan merintih kesakitan atas pedihku yang kau buat.
Dan kamu masih menatap pecahan-pecahan beling yang kau pukul dengan kepalan tanganmu yang begitu kuat, seolah beling-beling itu adalah salahku.
Dan kita, hanyalah sepasang maaf yang enggan mengalah.
Luka di tanganmu masih terlihat jelas. Aku melihat titik-titik darah segar yang menetes persekian detik dari goresan luka-luka itu. Daging yang mengaga lebar bekas tertancap beling.
Dan darah yang membeku, membiru di sudut-sudut wajahku. Dan tangisanku yang mencoba mengobati lukaku sendiri. Dan eranganmu yang mencoba menghilangkan perihnya lukamu.
Kita sama-sama kalah, dan ego yang jadi pemenang.
Dan aku yang pernah menjadi air, kini pun menjadi api.
Dan kamu tetaplah api.
Dan kita, hanyalah sepasang abu dan arang yang hangus habis terbakar.
Dan setiap dosa-dosa kita yang menjadi adat.
Dan setiap jeritan-jeritan penuh benci terlontar dari mulut-mulut kita yang saling mencintai.
Dan segala kata maaf yang bahkan akan terulang lagi.
Aku rindu masanya aku selalu mengalah.
Aku rindu masanya aku mengaku kalah.
Aku rindu masanya aku menjadi salah.
Namun aku bukanlah aku yang dulu.
Bukan aku yang sejinak itu untuk menjadi jinak
Bukan aku yang selembut itu untuk menjadi lembut.
Bukan aku yang selemah itu untuk menjadi lemah.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu menjadi pemenang dari segala egomu.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu merasa bangga atas keangkuhanmu.
Meski sekarang, aku menjadi kamu.
Menjadi sekeras hatimu.
Menjadi sepanas marahmu.
Menjadi sekuat dengkimu.
Aku meringkuk di pojok ruang temu. Gelap. Dan merintih kesakitan atas pedihku yang kau buat.
Dan kamu masih menatap pecahan-pecahan beling yang kau pukul dengan kepalan tanganmu yang begitu kuat, seolah beling-beling itu adalah salahku.
Dan kita, hanyalah sepasang maaf yang enggan mengalah.
Sunday, September 02, 2012
Senja
Angin sore menyentuh mesra permukaan kulitku.
Dengan cahaya menguning yang memantul di wajahku.
Mataku masih membendung air mata.
Aku menggigit bibirku sendiri.
Suara kicauan burung-burung yang hendak pulang, menemani isakku.
Aku termangu.
Mengelus dengan lembut papan kayu itu,
kayu yang masih hangat baru saja ditaruh disitu.
Jari-jemariku meremas tanah yang kupijak.
"Aku ingin tetap bersamamu...", Kata hatiku.
Aku tak tahan.
Aku tak kuasa.
Kesedihanku pecah.
Tangisku meledak sejadi-jadinya.
Aku tak henti-hentinya memanggil namamu dalam tangis.
Walau aku tahu, kaupun tak akan menjawabku.
Oh, tapi aku salah.
Ada kamu di sini.
Aku merasakan hangatnya sentuhanmu di pundakku.
Seolah kau memelukku seperti biasanya.
Seolah kau berkata "Kau akan tetap bersamaku, bersama kita..."
Seolah kau benar-benar ada.
Lalu tangisku mereda.
Aku mengusap pipiku sendiri, menghapus air mata kepergian.
Aku bangkit.
Masih tetap menatap ke arahmu.
Lalu dengan ayunan kaki yang enggan melangkah,
aku meninggalkanmu.
Menjauh dari gundukan tanah yang masih basah.
Aku akan sangat merindukanmu, masa laluku.
Dengan cahaya menguning yang memantul di wajahku.
Mataku masih membendung air mata.
Aku menggigit bibirku sendiri.
Suara kicauan burung-burung yang hendak pulang, menemani isakku.
Aku termangu.
Mengelus dengan lembut papan kayu itu,
kayu yang masih hangat baru saja ditaruh disitu.
Jari-jemariku meremas tanah yang kupijak.
"Aku ingin tetap bersamamu...", Kata hatiku.
Aku tak tahan.
Aku tak kuasa.
Kesedihanku pecah.
Tangisku meledak sejadi-jadinya.
Aku tak henti-hentinya memanggil namamu dalam tangis.
Walau aku tahu, kaupun tak akan menjawabku.
Oh, tapi aku salah.
Ada kamu di sini.
Aku merasakan hangatnya sentuhanmu di pundakku.
Seolah kau memelukku seperti biasanya.
Seolah kau berkata "Kau akan tetap bersamaku, bersama kita..."
Seolah kau benar-benar ada.
Lalu tangisku mereda.
Aku mengusap pipiku sendiri, menghapus air mata kepergian.
Aku bangkit.
Masih tetap menatap ke arahmu.
Lalu dengan ayunan kaki yang enggan melangkah,
aku meninggalkanmu.
Menjauh dari gundukan tanah yang masih basah.
Aku akan sangat merindukanmu, masa laluku.
Saturday, August 04, 2012
Petir
Seolah akan ada hujan lebat datang. Langitpun menjadi gelap. Angin mulai panik dan berlari tanpa arah. Gemuruh petir saling sambar.
Semua orang mulai mencari tempat ternyaman, bersembunyi dari bahaya agar tetap aman. Pintu-pintu mereka tertutup rapat. Orang-orang di jalanan mulai saling berlomba-lomba siapa cepat dia menang.
Dan aku, masih diam dan membisu. Bergeming. Menatap senyum itu di layar ponselku, dengan sosok aku di sampingnya.
Aku menggigit bibirku sendiri, yang tanpa kusadari aku melukaiku.
Bukan kuasaku untuk menahan nangis. Aku patah hati.
Jantungku seolah melambat, namun dengan detak yang semakin kuat.
Hanya saja, nafasku melemah.
Aku kehabisan kata-kata, kehabisan cita-cita.
Mataku terbelalak, seolah bola mataku akan melompat dengan menyeramkan.
Kemudian aku terpejam.
Seolah baru saja sebuah belati ganas mengoyak punggungku.
Lalu aku menyaksikanmu melangkah mundur, dengan wajah yang kulihat mulai merabun.
Hingga cukup jauh, kau mulai membelakangiku.
Lalu punggung kokoh itu, benar-benar menjauh, pergi dariku.
Punggung kokoh yang pernah sekali aku peluk dari belakang.
Punggung kokoh yang pernah sekali kuletakkan kepalaku.
Punggung kokoh yang...
Ah, pahit.
Seolah hati, raga, pikiran dan jiwaku tersambar petir.
Kau bahkan meninggalkan aku, hanya demi masa lalumu?
Bagaimana dengan janjimu dulu, bahwa kau akan benar-benar melupakannya, dan bersatu denganku?
Bagaimana dengan impian kita dulu, bahwa kita akan benar-benar menghabiskan waktu berdua?
Bagaimana dengan cita-cita kita dulu, bahwa kita akan benar-benar tinggal bersama?
Bagaimana dengan doaku dulu, bahwa kita akan benar-benar menjadi "amin"?
Bagaimana dengan harapan mereka dulu, bahwa aku dan kau memang pantas menjadi "kita"?
Selamat berbahagia, sayangku.
Semua orang mulai mencari tempat ternyaman, bersembunyi dari bahaya agar tetap aman. Pintu-pintu mereka tertutup rapat. Orang-orang di jalanan mulai saling berlomba-lomba siapa cepat dia menang.
Dan aku, masih diam dan membisu. Bergeming. Menatap senyum itu di layar ponselku, dengan sosok aku di sampingnya.
Aku menggigit bibirku sendiri, yang tanpa kusadari aku melukaiku.
Bukan kuasaku untuk menahan nangis. Aku patah hati.
Jantungku seolah melambat, namun dengan detak yang semakin kuat.
Hanya saja, nafasku melemah.
Aku kehabisan kata-kata, kehabisan cita-cita.
Mataku terbelalak, seolah bola mataku akan melompat dengan menyeramkan.
Kemudian aku terpejam.
Seolah baru saja sebuah belati ganas mengoyak punggungku.
Lalu aku menyaksikanmu melangkah mundur, dengan wajah yang kulihat mulai merabun.
Hingga cukup jauh, kau mulai membelakangiku.
Lalu punggung kokoh itu, benar-benar menjauh, pergi dariku.
Punggung kokoh yang pernah sekali aku peluk dari belakang.
Punggung kokoh yang pernah sekali kuletakkan kepalaku.
Punggung kokoh yang...
Ah, pahit.
Seolah hati, raga, pikiran dan jiwaku tersambar petir.
Kau bahkan meninggalkan aku, hanya demi masa lalumu?
Bagaimana dengan janjimu dulu, bahwa kau akan benar-benar melupakannya, dan bersatu denganku?
Bagaimana dengan impian kita dulu, bahwa kita akan benar-benar menghabiskan waktu berdua?
Bagaimana dengan cita-cita kita dulu, bahwa kita akan benar-benar tinggal bersama?
Bagaimana dengan doaku dulu, bahwa kita akan benar-benar menjadi "amin"?
Bagaimana dengan harapan mereka dulu, bahwa aku dan kau memang pantas menjadi "kita"?
Selamat berbahagia, sayangku.
Sunday, July 29, 2012
Aku Salah
Aku hanya terlalu percaya diri.
Mempercayai diriku sendiri bahwa kau sama sepertiku.
Seperti apa yang aku rasakan, bahwa perasaanmu sama denganku.
Dengan hal yang sama, bahwa kau begitu menginginkanku.
Menginginkanku untuk menjadi milkmu, seperti mauku.
Mauku, bahwa kamu, adalah keinginanku.
Mempercayai diriku sendiri bahwa kau sama sepertiku.
Seperti apa yang aku rasakan, bahwa perasaanmu sama denganku.
Dengan hal yang sama, bahwa kau begitu menginginkanku.
Menginginkanku untuk menjadi milkmu, seperti mauku.
Mauku, bahwa kamu, adalah keinginanku.
Monday, July 16, 2012
Dendam Yang Terbawa Mati.
Gadis itu tersenyum,
menatapmu dengan penuh kemenangan.
Aku bisa melihatnya dari sorot matanya yang bersorak gembira.
Penuh kembang api di pupil matanya.
Dan kaupun menganga,
menahan perihmu sendiri atas luka.
Aku bisa melihatnya dari lubang besar yang ada di punggungmu.
Penuh darah segar mengalir enggan berhenti.
Nikmatilah.
Dendam memang sangat menyenangkan,
ketika berhasil terbalas.
Meski maaf memang sangat melegakan,
ketika berhasil diikhlaskan.
Nimatilah.
Mengabaikan memang sangat sombong,
sayang.
Dan mengejar kembali hal yang sudah kau buang,
bukankah itu melelahkan?
Nikmatilah.
Selagi aku masih bisa menyaksikan mautmu.
Nikmatilah.
Nafas terakhirmu yang enggan pergi menjauhi jiwamu,
sayangku.
menatapmu dengan penuh kemenangan.
Aku bisa melihatnya dari sorot matanya yang bersorak gembira.
Penuh kembang api di pupil matanya.
Dan kaupun menganga,
menahan perihmu sendiri atas luka.
Aku bisa melihatnya dari lubang besar yang ada di punggungmu.
Penuh darah segar mengalir enggan berhenti.
Nikmatilah.
Dendam memang sangat menyenangkan,
ketika berhasil terbalas.
Meski maaf memang sangat melegakan,
ketika berhasil diikhlaskan.
Nimatilah.
Mengabaikan memang sangat sombong,
sayang.
Dan mengejar kembali hal yang sudah kau buang,
bukankah itu melelahkan?
Nikmatilah.
Selagi aku masih bisa menyaksikan mautmu.
Nikmatilah.
Nafas terakhirmu yang enggan pergi menjauhi jiwamu,
sayangku.
Sunday, July 15, 2012
Sukma; Titisan Bidadari yang Mencuri Sang Panji.
Siang itu terik.
Awan-pun seolah enggan untuk berdamai, sampai akhirnya matahari mencoba untuk mendekat.
Aku menatapnya dari kejauhan, sosok tampan dengan lengkungan senyum yang begitu indah, lengkap dengan bulir-bulir kecil keringat di sekitar wajahnya.
Titik-titik air itu berlomba menuruni lekuk wajahnya yang terus menatap tajam kearah bola berwarna oranye itu.
Kedua bola mataku menjelajahi seisi lapangan, menelusuri setiap sudut persegi, mencari sesosok yang sedari tadi tak kunjung kutemukan.
Ah! Itu dia!
Matanya yang indah bak senja setelah hujan, begitu teduh, terus melekatkan pandangannya ke arah pria itu, pria yang tak henti-hentinya memantulkan bola basket, dan terus berusaha memasukkannya ke dalam ring.
Rambutnya yang hitam, panjang dan pastinya indah, seolah bagai padi yang bergerak seperti ombak, benar-benar memanjakan mata yang melihatnya.
Deretan gigi-gigi itu berjejer rapih dibalik senyumnya yang selalu manis, semanis es teh manis yang sedari tadi kuteguk tetesnya di bawah teriknya surya yang terlalu semangat.
Kulitnya yang dulu merah, kini menjadi kecokelatan karena matahari.
Ah, gadis itu selalu nyaris sempurna.
"Sukma!" Aku memanggilnya, sambil mendekat menghampirinya
Bentuk wajah yang cantik itu semakin jelas di tatapanku
Ia tersenyum, sejuk.
Pantas saja, pria itu; Panji, terlalu tergila-gila denganmu, Sukma.
Sukma,
Gadis itu, gadis sederhana yang dicintai Panji, pangeranku.
Gadis itu, sahabatku.
Aku duduk di samping tubuh gadis itu, yang daritadi masih menunggu sang pria itu, pria yang kuinginkan itu menghampirinya.
Aku terus menikmati parasnya yang ingin sekali aku menjadi dirinya.
Oh, rasanya aku ingin menghilang ditelan debu lapangan siang itu, bakar aku, matahari! Sekarang!
Tiba-tiba Panji sudah berada di tengah-tengah antara kami bertiga, entah sejak kapan, mungkin aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan pemandangan indah tentang Sukma.
Aroma tubuhnya yang tak asing memeluk rongga hidungku, tubuhnya basah; dijamah keringatnya sendiri.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyenangkan bagiku, dan bagi Sukma.
Panji, bisakah kau berhenti mengelus rambut gadismu itu?
Ini terasa begitu perih, walau tak pernah lebih perih dibanding ketika saat dulu kau pernah mencium ku di balik rintik hujan, sore itu, yang kemudian kau bilang aku ini sahabat terbaikmu...
Aku terdiam, memutar otak untuk tahu bagaimana caranya aku menemukan jalan agar aku tidak terjebak di tengah pemandangan yang membunuh itu.
Spontan, aku menarik rambutnya.
"Aw! Woy, sakit bego!", protes Panji sambil menatap kesal.
Aku hanya tertawa, seolah terlihat jelas saat itu, aku sedang mencari perhatiannya.
Sukma hanya tertawa renyah menyaksikan aku dan Panji saling mengejek.
Dapat kupastikan, aku akan mati karena terlalu sering membunuh diriku perlahan seperti ini.
Awan-pun seolah enggan untuk berdamai, sampai akhirnya matahari mencoba untuk mendekat.
Aku menatapnya dari kejauhan, sosok tampan dengan lengkungan senyum yang begitu indah, lengkap dengan bulir-bulir kecil keringat di sekitar wajahnya.
Titik-titik air itu berlomba menuruni lekuk wajahnya yang terus menatap tajam kearah bola berwarna oranye itu.
Kedua bola mataku menjelajahi seisi lapangan, menelusuri setiap sudut persegi, mencari sesosok yang sedari tadi tak kunjung kutemukan.
Ah! Itu dia!
Matanya yang indah bak senja setelah hujan, begitu teduh, terus melekatkan pandangannya ke arah pria itu, pria yang tak henti-hentinya memantulkan bola basket, dan terus berusaha memasukkannya ke dalam ring.
Rambutnya yang hitam, panjang dan pastinya indah, seolah bagai padi yang bergerak seperti ombak, benar-benar memanjakan mata yang melihatnya.
Deretan gigi-gigi itu berjejer rapih dibalik senyumnya yang selalu manis, semanis es teh manis yang sedari tadi kuteguk tetesnya di bawah teriknya surya yang terlalu semangat.
Kulitnya yang dulu merah, kini menjadi kecokelatan karena matahari.
Ah, gadis itu selalu nyaris sempurna.
"Sukma!" Aku memanggilnya, sambil mendekat menghampirinya
Bentuk wajah yang cantik itu semakin jelas di tatapanku
Ia tersenyum, sejuk.
Pantas saja, pria itu; Panji, terlalu tergila-gila denganmu, Sukma.
Sukma,
Gadis itu, gadis sederhana yang dicintai Panji, pangeranku.
Gadis itu, sahabatku.
Aku duduk di samping tubuh gadis itu, yang daritadi masih menunggu sang pria itu, pria yang kuinginkan itu menghampirinya.
Aku terus menikmati parasnya yang ingin sekali aku menjadi dirinya.
Oh, rasanya aku ingin menghilang ditelan debu lapangan siang itu, bakar aku, matahari! Sekarang!
Tiba-tiba Panji sudah berada di tengah-tengah antara kami bertiga, entah sejak kapan, mungkin aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan pemandangan indah tentang Sukma.
Aroma tubuhnya yang tak asing memeluk rongga hidungku, tubuhnya basah; dijamah keringatnya sendiri.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyenangkan bagiku, dan bagi Sukma.
Panji, bisakah kau berhenti mengelus rambut gadismu itu?
Ini terasa begitu perih, walau tak pernah lebih perih dibanding ketika saat dulu kau pernah mencium ku di balik rintik hujan, sore itu, yang kemudian kau bilang aku ini sahabat terbaikmu...
Aku terdiam, memutar otak untuk tahu bagaimana caranya aku menemukan jalan agar aku tidak terjebak di tengah pemandangan yang membunuh itu.
Spontan, aku menarik rambutnya.
"Aw! Woy, sakit bego!", protes Panji sambil menatap kesal.
Aku hanya tertawa, seolah terlihat jelas saat itu, aku sedang mencari perhatiannya.
Sukma hanya tertawa renyah menyaksikan aku dan Panji saling mengejek.
Dapat kupastikan, aku akan mati karena terlalu sering membunuh diriku perlahan seperti ini.
Saturday, July 14, 2012
Sebut Saja Aku ini Pemimpi, Aku Hanya Menginginkanmu, Itu Saja.
Salah apa aku ini, menangisi sesuatu yang bahkan aku tak kenal dari mana datangnya. Aku masih menatap rangkaian aksara yang berjejer rapih di layar, dengan cucuran air mata yang enggan kuhapus. Entah apa yang kutangisi, yang jelas, aku merasa benar-benar kehilangan aku.
Aku merindukan pria itu, pria yang sedang terbaring lemas di rumah sakit dengan selang infus di tangan kanannya. Terakhir kudapat kabarnya, dia masih lemas, suhu tubuhnya 38 derajat celcius, dan matanya bengkak karena setahuku dia alergi obat. Aku lemas dibuatnya.
Tapi kabar baiknya, dia sudah bisa tertawa, walau belum bisa mengabariku.
Entah aku ini yang terlalu murahan dan suka berharap, atau apalah.
Entah apa aku ini.
Tapi, kau mau tahu? Aku sudah menjadikan pria itu sebagai cita-cita rahasiaku.
Biarlah dia menganggapku ini apa.
Aku hanya menginginkan lengannya yang kokoh itu selalu ada di sampingku ketika aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku hanya menginginkan tangannya yang kuat itu selalu menggengam erat jemariku ketika aku butuh tempat untuk berlindung.
Aku hanya menginginkan senyuman itu, bibir merah yang belum terjamah asap sampahan yang bahkan aku sendiri pernah menghisapnya.
Aku hanya menginginkan kehadirannya, sosok yang sungguh aku idamkan ketika aku ingin memeluknya.
Sebut saja aku ini tak tahu diri, mencita-citakan dia yang bahkan terlalu jauh, dalam segala hal.
Untuk menatap matanya secara langsungpun aku harus memesan tiket pesawat menuju Pulau Dewata. Kau tahu, tempat indah itu bukanlah surga yang dapat dengan mudah kujangkau.
Aku mencita-citakan dirinya bukan sebagai tempat persinggahan kisahku,
aku memimpikan dirinya sebagai rumahku kelak, pelabuhan terakhirku.
Semoga.
Aku merindukan pria itu, pria yang sedang terbaring lemas di rumah sakit dengan selang infus di tangan kanannya. Terakhir kudapat kabarnya, dia masih lemas, suhu tubuhnya 38 derajat celcius, dan matanya bengkak karena setahuku dia alergi obat. Aku lemas dibuatnya.
Tapi kabar baiknya, dia sudah bisa tertawa, walau belum bisa mengabariku.
Entah aku ini yang terlalu murahan dan suka berharap, atau apalah.
Entah apa aku ini.
Tapi, kau mau tahu? Aku sudah menjadikan pria itu sebagai cita-cita rahasiaku.
Biarlah dia menganggapku ini apa.
Aku hanya menginginkan lengannya yang kokoh itu selalu ada di sampingku ketika aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku hanya menginginkan tangannya yang kuat itu selalu menggengam erat jemariku ketika aku butuh tempat untuk berlindung.
Aku hanya menginginkan senyuman itu, bibir merah yang belum terjamah asap sampahan yang bahkan aku sendiri pernah menghisapnya.
Aku hanya menginginkan kehadirannya, sosok yang sungguh aku idamkan ketika aku ingin memeluknya.
Sebut saja aku ini tak tahu diri, mencita-citakan dia yang bahkan terlalu jauh, dalam segala hal.
Untuk menatap matanya secara langsungpun aku harus memesan tiket pesawat menuju Pulau Dewata. Kau tahu, tempat indah itu bukanlah surga yang dapat dengan mudah kujangkau.
Aku mencita-citakan dirinya bukan sebagai tempat persinggahan kisahku,
aku memimpikan dirinya sebagai rumahku kelak, pelabuhan terakhirku.
Semoga.
Sekarang itu dulu.
Dulu kita saling mencari, sampai akhirnya sekarang kita saling mengabaikan.
Dulu kita saling menemukan, sampai akhirnya sekarang kita saling menghilangkan.
Dulu kita saling membanggakan, sampai akhirnya sekarang kita saling menjatuhkan.
Dulu kita saling membahagiakan, sampai akhirnya sekarang kita saling mengecewakan.
Dulu kita saling memuji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghina.
Dulu kita saling berjanji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghianati.
Dulu kita saling berharap, sampai akhirnya sekarang kita saling berputus-asa.
Dulu kita saling menjaga, sampai akhirnya sekarang saling merusak.
Dulu kita saling mencintai, sampai akhirnya sekarang kita saling membenci.
Dulu kita saling menemukan, sampai akhirnya sekarang kita saling menghilangkan.
Dulu kita saling membanggakan, sampai akhirnya sekarang kita saling menjatuhkan.
Dulu kita saling membahagiakan, sampai akhirnya sekarang kita saling mengecewakan.
Dulu kita saling memuji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghina.
Dulu kita saling berjanji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghianati.
Dulu kita saling berharap, sampai akhirnya sekarang kita saling berputus-asa.
Dulu kita saling menjaga, sampai akhirnya sekarang saling merusak.
Dulu kita saling mencintai, sampai akhirnya sekarang kita saling membenci.
Friday, July 13, 2012
Sang Capricorn - Kambing gunung yang tergelincir.
Lamunanku buyar. Tiba-tiba aku memutuskan untuk menghentikan nafasku selama 3 detik. Mataku terbelalak menatap kepada satu arah.
Kamu.
Dengan senyum yang terlalu indah bahkan redupnya hatikupun berhasil kau terangkan.
Dengan semilir angin di siang itu yang berhasil terhembus bersama langkahmu.
"Ah, cinta lama..."
Aku melukis senyum simpul dibibirku, sambil menatap ke arah jendela yang penuh dengan bulir-bulir air hujan sore itu.
Menyaksikan pemandangan indah di luar kafetaria ini sangatlah menyenangkan. Bagaimana orang-orang di luar sana sibuk menghindari hujaman air hujan yang tak henti terjun ke Bumi, bagaimana wajah-wajah mereka basah dan menggigil, bagaimana kendaraan-kendaraan itu melaju dengan tergesa-gesa agar segera menemukan tempat untuk berteduh, bagaimana mereka menutup kepala mereka dengan tangan mereka sendiri dan berharap air hujan tak akan menyusup melalui jari-jari mereka...
Ah, hujan memang selalu menggambarkan suasana hatiku.
Masih teringat jelas bagaimana sang kambing gunung itu mengajarkan aku banyak hal. Sebagai Capricorn, sifatnya yang pantang menyerah seolah menunjukkan bagaimana dia begitu pernah menginginkan aku dalam hidupnya. Bagaimana dia berusaha untuk mendapatkan aku, bagaimana dia membutuhkan aku, walau sebenarnya tidak sama sekali. Caranya memimpin kehidupannya sendiri, bagaimana dia membawa semua hidupnya menuju puncak, bagai sang kambing jantan yang mendaki bukit batu itu tanpa ragu, melangkah dari pijakan ke pijakan lain dengan mantap. Aku jatuh cinta padanya.
Mengingat kembali semasa dulu, bagaimana dia benar-benar mengajarkan aku untuk mandiri, untuk tidak manja dan lemah. Dia membawaku masuk ke dalam hidupnya. Tapi satu-satunya yang aku benci dari dirimu hanyalah wanitamu. Bagaimana dia yang jauh lebih baik dibanding aku selalu kau nomorsatukan, aku kalah, kuakui. Dalam benakku, aku punya cita-cita untuk mengalahkan dia, menyingkirkannya dan menggantikan posisinya dengan diriku. Aku berhasil, tapi hanya untuk beberapa detik di dalam setiap menitmu.
Sebagai Capricorn, kau selalu berhasil menjadi tanduk bagi tubuhmu, menancapkan kaki-kaki mu di jalan bebatuan yang tajam, tanpa ragu. Kau selalu mampu menjadi pemimpin bagi banyak orang di belakangmu, kau terdepan, dan terkadang kau enggan mundur.
Aku ingat bagaimana kau mengatur jam tayangmu, agar gadismu tak mencium busuk dari luka di punggungmu. Dan akulah luka itu.
Aku menggerogoti ragamu, dengan cintaku. Dengan segala cinta yang aku miliki, aku berhasil merapuhkan tegaknya kedua pasang kaki kambingmu, hingga kau rubuh. Dengan segala egoku untuk memilikimu, aku berhasil membuat gadismu meninggalkanmu...
Dan kini, kaupun meninggalkanku dengan luka yang membekas di hatiku, luka yang bahkan enggan hilang, luka yang hanya bisa kututupi dengan tutur, namun pada akhirnya, mereka akan melihat korengku.
Terima kasih.
Kamu.
Dengan senyum yang terlalu indah bahkan redupnya hatikupun berhasil kau terangkan.
Dengan semilir angin di siang itu yang berhasil terhembus bersama langkahmu.
"Ah, cinta lama..."
Aku melukis senyum simpul dibibirku, sambil menatap ke arah jendela yang penuh dengan bulir-bulir air hujan sore itu.
Menyaksikan pemandangan indah di luar kafetaria ini sangatlah menyenangkan. Bagaimana orang-orang di luar sana sibuk menghindari hujaman air hujan yang tak henti terjun ke Bumi, bagaimana wajah-wajah mereka basah dan menggigil, bagaimana kendaraan-kendaraan itu melaju dengan tergesa-gesa agar segera menemukan tempat untuk berteduh, bagaimana mereka menutup kepala mereka dengan tangan mereka sendiri dan berharap air hujan tak akan menyusup melalui jari-jari mereka...
Ah, hujan memang selalu menggambarkan suasana hatiku.
Masih teringat jelas bagaimana sang kambing gunung itu mengajarkan aku banyak hal. Sebagai Capricorn, sifatnya yang pantang menyerah seolah menunjukkan bagaimana dia begitu pernah menginginkan aku dalam hidupnya. Bagaimana dia berusaha untuk mendapatkan aku, bagaimana dia membutuhkan aku, walau sebenarnya tidak sama sekali. Caranya memimpin kehidupannya sendiri, bagaimana dia membawa semua hidupnya menuju puncak, bagai sang kambing jantan yang mendaki bukit batu itu tanpa ragu, melangkah dari pijakan ke pijakan lain dengan mantap. Aku jatuh cinta padanya.
Mengingat kembali semasa dulu, bagaimana dia benar-benar mengajarkan aku untuk mandiri, untuk tidak manja dan lemah. Dia membawaku masuk ke dalam hidupnya. Tapi satu-satunya yang aku benci dari dirimu hanyalah wanitamu. Bagaimana dia yang jauh lebih baik dibanding aku selalu kau nomorsatukan, aku kalah, kuakui. Dalam benakku, aku punya cita-cita untuk mengalahkan dia, menyingkirkannya dan menggantikan posisinya dengan diriku. Aku berhasil, tapi hanya untuk beberapa detik di dalam setiap menitmu.
Sebagai Capricorn, kau selalu berhasil menjadi tanduk bagi tubuhmu, menancapkan kaki-kaki mu di jalan bebatuan yang tajam, tanpa ragu. Kau selalu mampu menjadi pemimpin bagi banyak orang di belakangmu, kau terdepan, dan terkadang kau enggan mundur.
Aku ingat bagaimana kau mengatur jam tayangmu, agar gadismu tak mencium busuk dari luka di punggungmu. Dan akulah luka itu.
Aku menggerogoti ragamu, dengan cintaku. Dengan segala cinta yang aku miliki, aku berhasil merapuhkan tegaknya kedua pasang kaki kambingmu, hingga kau rubuh. Dengan segala egoku untuk memilikimu, aku berhasil membuat gadismu meninggalkanmu...
Dan kini, kaupun meninggalkanku dengan luka yang membekas di hatiku, luka yang bahkan enggan hilang, luka yang hanya bisa kututupi dengan tutur, namun pada akhirnya, mereka akan melihat korengku.
Terima kasih.
Friday, June 29, 2012
Semoga Kali ini, Aku Salah Besar.
Yang terpikirkan olehku adalah, mungkin aku tak cukup baik bagi siapapun.
Karena aku memang tak pernah.
Maksudku, mungkin aku terlalu buruk, mungkin aku tak pernah bisa berkesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Mungkin memang aku sudah digariskan, untuk itu.
Mungkin.
Entahlah, tapi segala macam pikiran buruk sedang sering singgah di benakku.
Mungkin kesalahan yang pernah kulakukan dulu memang tak pantas untuk dimaafkan.
Mungkin Tuhan kesal kepadaku.
Mungkin saja.
Mungkin, aku memang tercipta sebagai wanita yang sangat tidak baik sehingga mungkin Tuhan mungkin enggan memberikan seorang pria baik untukku.
Mungkin aku terlalu banyak bertanya.
Mungkin aku terlalu penuh prasangka.
Mungkin ada terlalu banyak kemungkinan dalam otakku.
Mungkin aku salah.
Mungkin semua kemungkinan itu tidaklah benar.
Mungkin saja.
Mungkin.
Karena aku memang tak pernah.
Maksudku, mungkin aku terlalu buruk, mungkin aku tak pernah bisa berkesempatan untuk memperbaiki diriku sendiri.
Mungkin memang aku sudah digariskan, untuk itu.
Mungkin.
Entahlah, tapi segala macam pikiran buruk sedang sering singgah di benakku.
Mungkin kesalahan yang pernah kulakukan dulu memang tak pantas untuk dimaafkan.
Mungkin Tuhan kesal kepadaku.
Mungkin saja.
Mungkin, aku memang tercipta sebagai wanita yang sangat tidak baik sehingga mungkin Tuhan mungkin enggan memberikan seorang pria baik untukku.
Mungkin aku terlalu banyak bertanya.
Mungkin aku terlalu penuh prasangka.
Mungkin ada terlalu banyak kemungkinan dalam otakku.
Mungkin aku salah.
Mungkin semua kemungkinan itu tidaklah benar.
Mungkin saja.
Mungkin.
Subscribe to:
Comments (Atom)