Gantung.
Aku tertegun. Kubuka lagi dari halaman pertama, menatap pada kalimat-kalimat pembuka yang manis dan lugu. Bibirku tersenyum malu. Membaca lagi tentang bagaimana kita bertemu dan akhirnya aku jatuh hati padamu. Kedua bola mataku terus bergerak dari kiri ke kanan dan ke kiri lagi menelan sedikit demi sedikit aksara yang pernah kutulis tentangmu. Otakku mulai memainkan rekaman lama tentang kita dulu. Tentang bagaimana kita tertawa geli, tentang lelucon bodoh, tentang pelukan hangat, tentang kecupan lembutmu, tentang pupil matamu yang agak kecokelatan memantulkan wajahku, tentang pertengkaran kita, tentang aku dan kamu yang berbeda. Kita.
Aku bergeming. Bahkan suara keheningan malam yang dingin berbisik di telingaku. Tanganku menghentikan pergerakannya membolak-balikan lembaran-lembaran kertas yang mulai lusuh karena lama kusimpan dan tak kunjung kubuka lagi. Darah dalam pembuluhku mulai bingung. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis dalam sepi. Aku harus kehilanganmu lagi, untuk kedua kalinya?
Aku terlarut dalam lamunanku sendiri.
Tiba-tiba suara detik jarum jam membuyarkan semua.
Kutatap lagi buku itu, sekali lagi.
Dan gambaran aku dan kamu sekali lagi.
Kemudian dengan sekali tarikan panjang nafas, dalam-dalam, aku menghela.
Kututup buku itu, dan dengan langkah terhuyung aku menghampiri rak yang bersela. Kusisipkan kisahmu, dalam memoriku.
No comments:
Post a Comment