Friday, July 13, 2012

Sang Capricorn - Kambing gunung yang tergelincir.

Lamunanku buyar. Tiba-tiba aku memutuskan untuk menghentikan nafasku selama 3 detik. Mataku terbelalak menatap kepada satu arah.
Kamu.
Dengan senyum yang terlalu indah bahkan redupnya hatikupun berhasil kau terangkan.
Dengan semilir angin di siang itu yang berhasil terhembus bersama langkahmu.

"Ah, cinta lama..."
Aku melukis senyum simpul dibibirku, sambil menatap ke arah jendela yang penuh dengan bulir-bulir air hujan sore itu.
Menyaksikan pemandangan indah di luar kafetaria ini sangatlah menyenangkan. Bagaimana orang-orang di luar sana sibuk menghindari hujaman air hujan yang tak henti terjun ke Bumi, bagaimana wajah-wajah mereka basah dan menggigil, bagaimana kendaraan-kendaraan itu melaju dengan tergesa-gesa agar segera menemukan tempat untuk berteduh, bagaimana mereka menutup kepala mereka dengan tangan mereka sendiri dan berharap air hujan tak akan menyusup melalui jari-jari mereka...
Ah, hujan memang selalu menggambarkan suasana hatiku.

Masih teringat jelas bagaimana sang kambing gunung itu mengajarkan aku banyak hal. Sebagai Capricorn, sifatnya yang pantang menyerah seolah menunjukkan bagaimana dia begitu pernah menginginkan aku dalam hidupnya. Bagaimana dia berusaha untuk mendapatkan aku, bagaimana dia membutuhkan aku, walau sebenarnya tidak sama sekali. Caranya memimpin kehidupannya sendiri, bagaimana dia membawa semua hidupnya menuju puncak, bagai sang kambing jantan yang mendaki bukit batu itu tanpa ragu, melangkah dari pijakan ke pijakan lain dengan mantap. Aku jatuh cinta padanya.


Mengingat kembali semasa dulu, bagaimana dia benar-benar mengajarkan aku untuk mandiri, untuk tidak manja dan lemah. Dia membawaku masuk ke dalam hidupnya. Tapi satu-satunya yang aku benci dari dirimu hanyalah wanitamu. Bagaimana dia yang jauh lebih baik dibanding aku selalu kau nomorsatukan, aku kalah, kuakui. Dalam benakku, aku punya cita-cita untuk mengalahkan dia, menyingkirkannya dan menggantikan posisinya dengan diriku. Aku berhasil, tapi hanya untuk beberapa detik di dalam setiap menitmu.

Sebagai Capricorn, kau selalu berhasil menjadi tanduk bagi tubuhmu, menancapkan kaki-kaki mu di jalan bebatuan yang tajam, tanpa ragu. Kau selalu mampu menjadi pemimpin bagi banyak orang di belakangmu, kau terdepan, dan terkadang kau enggan mundur.

Aku ingat bagaimana kau mengatur jam tayangmu, agar gadismu tak mencium busuk dari luka di punggungmu. Dan akulah luka itu.

Aku menggerogoti ragamu, dengan cintaku. Dengan segala cinta yang aku miliki, aku berhasil merapuhkan tegaknya kedua pasang kaki kambingmu, hingga kau rubuh. Dengan segala egoku untuk memilikimu, aku berhasil membuat gadismu meninggalkanmu...

Dan kini, kaupun meninggalkanku dengan luka yang membekas di hatiku, luka yang bahkan enggan hilang, luka yang hanya bisa kututupi dengan tutur, namun pada akhirnya, mereka akan melihat korengku.

Terima kasih.

No comments:

Post a Comment