Friday, September 07, 2012

Sepasang Maaf yang Enggan Mengalah

Lebam di wajahku masih terasa. Perih. Ngilu. Sakit.
Luka di tanganmu masih terlihat jelas. Aku melihat titik-titik darah segar yang menetes persekian detik dari goresan luka-luka itu. Daging yang mengaga lebar bekas tertancap beling.
Dan darah yang membeku, membiru di sudut-sudut wajahku. Dan tangisanku yang mencoba mengobati lukaku sendiri. Dan eranganmu yang mencoba menghilangkan perihnya lukamu.
Kita sama-sama kalah, dan ego yang jadi pemenang.
Dan aku yang pernah menjadi air, kini pun menjadi api.
Dan kamu tetaplah api.
Dan kita, hanyalah sepasang abu dan arang yang hangus habis terbakar.
Dan setiap dosa-dosa kita yang menjadi adat.
Dan setiap jeritan-jeritan penuh benci terlontar dari mulut-mulut kita yang saling mencintai.
Dan segala kata maaf yang bahkan akan terulang lagi.
Aku rindu masanya aku selalu mengalah.
Aku rindu masanya aku mengaku kalah.
Aku rindu masanya aku menjadi salah.
Namun aku bukanlah aku yang dulu.
Bukan aku yang sejinak itu untuk menjadi jinak
Bukan aku yang selembut itu untuk menjadi lembut.
Bukan aku yang selemah itu untuk menjadi lemah.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu menjadi pemenang dari segala egomu.
Aku rindu masanya aku berhasil membuatmu merasa bangga atas keangkuhanmu.
Meski sekarang, aku menjadi kamu.
Menjadi sekeras hatimu.
Menjadi sepanas marahmu.
Menjadi sekuat dengkimu.
Aku meringkuk di pojok ruang temu. Gelap. Dan merintih kesakitan atas pedihku yang kau buat.
Dan kamu masih menatap pecahan-pecahan beling yang kau pukul dengan kepalan tanganmu yang begitu kuat, seolah beling-beling itu adalah salahku.
Dan kita, hanyalah sepasang maaf yang enggan mengalah.

No comments:

Post a Comment