Saturday, July 14, 2012

Sebut Saja Aku ini Pemimpi, Aku Hanya Menginginkanmu, Itu Saja.

Salah apa aku ini, menangisi sesuatu yang bahkan aku tak kenal dari mana datangnya. Aku masih menatap rangkaian aksara yang berjejer rapih di layar, dengan cucuran air mata yang enggan kuhapus. Entah apa yang kutangisi, yang jelas, aku merasa benar-benar kehilangan aku.
Aku merindukan pria itu, pria yang sedang terbaring lemas di rumah sakit dengan selang infus di tangan kanannya. Terakhir kudapat kabarnya, dia masih lemas, suhu tubuhnya 38 derajat celcius, dan matanya bengkak karena setahuku dia alergi obat. Aku lemas dibuatnya.
Tapi kabar baiknya, dia sudah bisa tertawa, walau belum bisa mengabariku.
Entah aku ini yang terlalu murahan dan suka berharap, atau apalah.
Entah apa aku ini.
Tapi, kau mau tahu? Aku sudah menjadikan pria itu sebagai cita-cita rahasiaku.
Biarlah dia menganggapku ini apa.
Aku hanya menginginkan lengannya yang kokoh itu selalu ada di sampingku ketika aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku hanya menginginkan tangannya yang kuat itu selalu menggengam erat jemariku ketika aku butuh tempat untuk berlindung.
Aku hanya menginginkan senyuman itu, bibir merah yang belum terjamah asap sampahan yang bahkan aku sendiri pernah menghisapnya.
Aku hanya menginginkan kehadirannya, sosok yang sungguh aku idamkan ketika aku ingin memeluknya.
Sebut saja aku ini tak tahu diri, mencita-citakan dia yang bahkan terlalu jauh, dalam segala hal.
Untuk menatap matanya secara langsungpun aku harus memesan tiket pesawat menuju Pulau Dewata. Kau tahu, tempat indah itu bukanlah surga yang dapat dengan mudah kujangkau.
Aku mencita-citakan dirinya bukan sebagai tempat persinggahan kisahku,
aku memimpikan dirinya sebagai rumahku kelak, pelabuhan terakhirku.
Semoga.

No comments:

Post a Comment