Angin sore menyentuh mesra permukaan kulitku.
Dengan cahaya menguning yang memantul di wajahku.
Mataku masih membendung air mata.
Aku menggigit bibirku sendiri.
Suara kicauan burung-burung yang hendak pulang, menemani isakku.
Aku termangu.
Mengelus dengan lembut papan kayu itu,
kayu yang masih hangat baru saja ditaruh disitu.
Jari-jemariku meremas tanah yang kupijak.
"Aku ingin tetap bersamamu...", Kata hatiku.
Aku tak tahan.
Aku tak kuasa.
Kesedihanku pecah.
Tangisku meledak sejadi-jadinya.
Aku tak henti-hentinya memanggil namamu dalam tangis.
Walau aku tahu, kaupun tak akan menjawabku.
Oh, tapi aku salah.
Ada kamu di sini.
Aku merasakan hangatnya sentuhanmu di pundakku.
Seolah kau memelukku seperti biasanya.
Seolah kau berkata "Kau akan tetap bersamaku, bersama kita..."
Seolah kau benar-benar ada.
Lalu tangisku mereda.
Aku mengusap pipiku sendiri, menghapus air mata kepergian.
Aku bangkit.
Masih tetap menatap ke arahmu.
Lalu dengan ayunan kaki yang enggan melangkah,
aku meninggalkanmu.
Menjauh dari gundukan tanah yang masih basah.
Aku akan sangat merindukanmu, masa laluku.
No comments:
Post a Comment