Saturday, August 04, 2012

Petir

Seolah akan ada hujan lebat datang. Langitpun menjadi gelap. Angin mulai panik dan berlari tanpa arah. Gemuruh petir saling sambar.
Semua orang mulai mencari tempat ternyaman, bersembunyi dari bahaya agar tetap aman. Pintu-pintu mereka tertutup rapat. Orang-orang di jalanan mulai saling berlomba-lomba siapa cepat dia menang.
Dan aku, masih diam dan membisu. Bergeming. Menatap senyum itu di layar ponselku, dengan sosok aku di sampingnya.
Aku menggigit bibirku sendiri, yang tanpa kusadari aku melukaiku.
Bukan kuasaku untuk menahan nangis. Aku patah hati.
Jantungku seolah melambat, namun dengan detak yang semakin kuat.
Hanya saja, nafasku melemah.
Aku kehabisan kata-kata, kehabisan cita-cita.
Mataku terbelalak, seolah bola mataku akan melompat dengan menyeramkan.
Kemudian aku terpejam.
Seolah baru saja sebuah belati ganas mengoyak punggungku.
Lalu aku menyaksikanmu melangkah mundur, dengan wajah yang kulihat mulai merabun.
Hingga cukup jauh, kau mulai membelakangiku.
Lalu punggung kokoh itu, benar-benar menjauh, pergi dariku.
Punggung kokoh yang pernah sekali aku peluk dari belakang.
Punggung kokoh yang pernah sekali kuletakkan kepalaku.
Punggung kokoh yang...
Ah, pahit.
Seolah hati, raga, pikiran dan jiwaku tersambar petir.
Kau bahkan meninggalkan aku, hanya demi masa lalumu?
Bagaimana dengan janjimu dulu, bahwa kau akan benar-benar melupakannya, dan bersatu denganku?
Bagaimana dengan impian kita dulu, bahwa kita akan benar-benar menghabiskan waktu berdua?
Bagaimana dengan cita-cita kita dulu, bahwa kita akan benar-benar tinggal bersama?
Bagaimana dengan doaku dulu, bahwa kita akan benar-benar menjadi "amin"?
Bagaimana dengan harapan mereka dulu, bahwa aku dan kau memang pantas menjadi "kita"?
Selamat berbahagia, sayangku.

No comments:

Post a Comment