Sunday, July 15, 2012

Sukma; Titisan Bidadari yang Mencuri Sang Panji.

Siang itu terik.
Awan-pun seolah enggan untuk berdamai, sampai akhirnya matahari mencoba untuk mendekat.
Aku menatapnya dari kejauhan, sosok tampan dengan lengkungan senyum yang begitu indah, lengkap dengan bulir-bulir kecil keringat di sekitar wajahnya.
Titik-titik air itu berlomba menuruni lekuk wajahnya yang terus menatap tajam kearah bola berwarna oranye itu.
Kedua bola mataku menjelajahi seisi lapangan, menelusuri setiap sudut persegi, mencari sesosok yang sedari tadi tak kunjung kutemukan.
Ah! Itu dia!
Matanya yang indah bak senja setelah hujan, begitu teduh, terus melekatkan pandangannya ke arah pria itu, pria yang tak henti-hentinya memantulkan bola basket, dan terus berusaha memasukkannya ke dalam ring.
Rambutnya yang hitam, panjang dan pastinya indah, seolah bagai padi yang bergerak seperti ombak, benar-benar memanjakan mata yang melihatnya.
Deretan gigi-gigi itu berjejer rapih dibalik senyumnya yang selalu manis, semanis es teh manis yang sedari tadi kuteguk tetesnya di bawah teriknya surya yang terlalu semangat.
Kulitnya yang dulu merah, kini menjadi kecokelatan karena matahari.
Ah, gadis itu selalu nyaris sempurna.
"Sukma!" Aku memanggilnya, sambil mendekat menghampirinya
Bentuk wajah yang cantik itu semakin jelas di tatapanku
Ia tersenyum, sejuk.
Pantas saja, pria itu; Panji, terlalu tergila-gila denganmu, Sukma.
Sukma,
Gadis itu, gadis sederhana yang dicintai Panji, pangeranku.
Gadis itu, sahabatku.
Aku duduk di samping tubuh gadis itu, yang daritadi masih menunggu sang pria itu, pria yang kuinginkan itu menghampirinya.
Aku terus menikmati parasnya yang ingin sekali aku menjadi dirinya.
Oh, rasanya aku ingin menghilang ditelan debu lapangan siang itu, bakar aku, matahari! Sekarang!
Tiba-tiba Panji sudah berada di tengah-tengah antara kami bertiga, entah sejak kapan, mungkin aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan pemandangan indah tentang Sukma.
Aroma tubuhnya yang tak asing memeluk rongga hidungku, tubuhnya basah; dijamah keringatnya sendiri.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyenangkan bagiku, dan bagi Sukma.
Panji, bisakah kau berhenti mengelus rambut gadismu itu?
Ini terasa begitu perih, walau tak pernah lebih perih dibanding ketika saat dulu kau pernah mencium ku di balik rintik hujan, sore itu, yang kemudian kau bilang aku ini sahabat terbaikmu...
Aku terdiam, memutar otak untuk tahu bagaimana caranya aku menemukan jalan agar aku tidak terjebak di tengah pemandangan yang membunuh itu.
Spontan, aku menarik rambutnya.
"Aw! Woy, sakit bego!", protes Panji sambil menatap kesal.
Aku hanya tertawa, seolah terlihat jelas saat itu, aku sedang mencari perhatiannya.
Sukma hanya tertawa renyah menyaksikan aku dan Panji saling mengejek.

Dapat kupastikan, aku akan mati karena terlalu sering membunuh diriku perlahan seperti ini.

No comments:

Post a Comment