"Terkadang, sesuatu yang terdengar manis, belum tentu bisa dimakan. Yang bahkan bisa menjadi pahit, setelah kau jilat."
Udara menjadi dingin tanpa ampun, seolah Ibukota bisa turun salju. Manusia-manusia pengeluh itupun enggan keluar dari tempat persembunyian mereka dan memilih untuk meringkuk di balik selimut masing-masing sambil berdoa agar aku tak menangis. Sesekali aku menghembuskan nafas, yang akan membuat pohon-pohon menggigil dan tanpa sengaja melepas daun-daunnya. Malam ini hening dan dingin, menggambarkan suasana hatiku. Biarlah nanti tepat pergantian hari, aku akan menangis lagi, supaya lega, supaya aku tak merindu lagi.
Kuperhatikan segala sudut jalanan yang becek. Beberapa kendaraan masih sudi lalu lalang di musim hujan seperti ini, seperti orang bodoh. Para pedagang yang biasanya dengan riang menjajakan dagangan mereka, yang kadang penuh tipu daya demi laba yang besar, kini memilih untuk tinggal agar tak merugi.
Lalu sayup-sayup terdengar derap langkah gontai di atas jalanan yang licin. Seorang pria dengan kemeja lusuh berjalan dengan kepala tertunduk. Garis-garis di wajahnya menggambarkan hidupnya yang kehilangan asa. Sesekali dia merogoh kantong celananya yang kosong melompong, berharap ada keajaiban yang membuatnya mendadak kaya.
Tiba-tiba sorot matanya sedikit menyala, megarah ke depan, ke arah seorang perempuan yang terduduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Dengan ragu, pria itu menghampiri perempuan tadi. Lalu dengan diduga, wajah yang tatapannya kosong itu menoleh ke arah Gusti.
"Sendirian?" tanya Gusti canggung.
Perempuan itu menatapnya kosong tak berkedip. Ingin rasanya Gusti terus berjalan pulang menjauh dari gadis aneh itu. Tapi dinginnya malam ini membuatnya tak tega untuk meninggalkan gadis secantik itu sendirian di luar.
Gadis itu cantik. Matanya besar dan anggun dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung sempurna seperti gadis-gadis Barat. Bibirnya berisi dengan lekukan yang membingkai sempurna.
Di tengah cuaca yang bisa saja membuatnya mati kedinginan, dan suasana hati yang hampir membuatnya bunuh diri ini, rasanya enggan untuk berbicara pada siapapun. Tapi perempuan ini menarik, dan sebagai seorang lelaki tulen, hasrat untuk berdekatan dengan gadis inipun timbul.
Gusti duduk di samping perempuan itu, menatap matanya yang hampa, lalu tersenyum.
"Mbak ini cantik sekali, tapi kenapa harus sendirian malam-malam begini?" tanya Gusti mencoba ramah.
Gadis itu masih membisu. "Kenapa diem? Coba, kalau ada masalah, bisa cerita sama saya. Saya juga sebenarnya sedang pusing. Saya baru saja dipecat hari ini..." oceh Gusti tanpa henti, menceritakan gadis itu apa yang terjadi seharian.
Di tengah ceritanya yang panjang, sambil sesekali menatap kedua sepatu kulitnya yang kotor terkena cipratan air bekas hujan siang tadi, Gusti merasakan sesuatu yang hangat di paha kirinya. Mula-mula dari lutut, lalu kemudian naik hingga ke pangkal pahanya. Seketika Gusti berhenti berbicara.
Tangan gadis itu kemudian merogoh sesuatu yang berada di balik celana Gusti yang mengeras. Gusti tercengang, bingung. Ketika hendak menghentikan tangan gadis itu, Gusti terkejut. Entah sejak kapan gadis itu melepas tiga buah kancing bajunya sendiri, yang menyembulkan kedua buah dadanya yang ranum seperti buah mangga yang siap dipetik.
"Enggg... Mbak," belum sempat Gusti menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gusti merasakan sesuatu yang hangat mengulum bibirnya. Mengecup lembut dan sesekali menggigit bibir bawahnya.
"Tadi kamu bilang saya cantik, kan?" akhirnya suara gadis itu terdengar juga. Suara yang lembut, yang tak ada seorang lelakipun mampu menolak untuk dibisiknya.
Gusti mengangguk. "Iya, mbak," jawab Gusti dengan tergesa, yang tak dapat terdengar jelas karena mulutnya sedang berada di dalam bibir gadis itu.
"Aku bosan dibohongi," jawab gadis itu, tersenyum tipis.
"Mana mungkin saya berbohong? Tanya semua pria yang mbak temui, pasti semua akan bilang mbak ini cantik," kata Gusti lagi, mencoba meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar cantik.
"Semua pria sama saja! Mereka memuji hanya untuk kepuasan selangkangan mereka! Lalu setelah mendapatkan semua, mereka berhenti memuja kami para gadis dengan kata-kata manis!" teriak gadis itu.
Kedua mata yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan membara. Dahinya menyerngit, dan dia berhenti mencium Gusti. Masih menatap Gusti yang ketakutan, muncul gigi yang panjang dan runcing seperti mata pisau pada taringnya.
Gusti mematung. Darah yang tadinya hangat kini membeku di pembuluhnya. Matanya melotot menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah menghilang ditelan angin malam.
Dengan kecepatan sepersekian detik, kedua gigi taring yang seperti binatang buas itu menusuk leher Gusti, yang kemudian mulai mengunyah sebagian wajahnya. Aroma darah segar yang menggiurkan tercium dibawa hembusan nafasku. Lelaki dengan celana yang setengah terbuka itupun berhenti bergerak.
Setelah kenyang makan malam dengan menu spesial, gadis itupun mengancingkan kembali bajunya dan merapihkan rambutnya. Dengan langkah malas karena perutnya yang penuh, dia menghilang di tengah gelapnya malam.
nice thought :)
ReplyDeletegreetings from Hong Kong :)
www.basic-classic.blogspot.com
https://www.facebook.com/basicclassic
www.instagram.com/Andianti_