Aku menyelam dalam keheningan malam.
Sepi,
Gelap,
Dingin.
Menyusup ke setiap pelosok bayangan tanpa bintang,
Mencoba kembali merasakan hangatnya darahku sendiri.
Agak perih
Luka itu tersenyum malu dipergelangan tanganku,
Menatap ramah pada setiap darah yang menetes,
Aku suka bagaimana nadiku berdenyut lemah namun pasti.
Aku bukan pemabuk,
Tapi malam ini izinkan aku menenggak setetes alkohol itu,
Paling tidak untuk mencoba berpura lupa ingatan.
Aku hanya lelah dengan diri sendiri.
Untuk malam ini, maukah kau temani aku berdansa?
Friday, January 31, 2014
Tuesday, January 28, 2014
Pukul 11 Malam
Jadi dalam tiga bulan terhitung mundur, sudah kering mata air ini dengan cuma-cuma. Entah apa yang dibisikan angin malam kepadaku hingga akhirnya aku menjerit di dalam keheningan, yang mungkin kata rindu. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, sesaat itu juga kamarku menjadi dingin, memaksaku untuk meringkuk lemah di balik selimut tipisku yang entah kapan terakhir dicuci.
Lalu semua alunan musik yang riang yang bising dari headphones-ku, kemudian sayup-sayup menghilang, berubah tanpa sadar menjadi suaramu, suara seseorang yang jauh sekali di sana, yang hanya akan membuatku ingin mengecup bibirmu.
Dan dinding kamarku kemudian dengan iseng menggodaku yang tak sanggup memeluk bayanganmu yang maya. Lalu perlahan-lahan suara tawamu muncul, renyah dan riang seperti ketika dulu aku masih kanak-kanak dan bermain petak umpet. Tawa yang dapat melepas kelelahanku memikul beban kuliah dan pekerjaan yang tiada habisnya memancingku untuk mengeluh, tawa yang hanya kau punya seorang. Tawa yang akan membuatku tersenyum, kemudian menangis, ah, mungkin ini yang disebut rindu.
Aku ingat betapa bahagianya mendengar tawamu lagi, menatap matamu yang selalu bercahaya, yang menyorot mataku, yang setelah dua bulan kau menghilang bersenang-senang dengan sibuknya duniamu yang kejam. Lalu sedikit demi sedikit hati ini, yang kesepian, yang merindukan peluk untuk melelehkan salju batinku, mulai mencair.
Belum.
Kemudian apa itu yang disebut kesedihan masih tinggal, enggan pergi entah bagaimana aku berusaha mengusirnya. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, perlahan es batu yang kusembunyikan dibalik kelopak mataku meleleh, membuat wajahku yang gendut ini basah dan asin.
Aku kesepian lagi. Yang kupikir aku tak akan pernah mengenal apa itu sepi. Walaupun kau yang selalu membuang sunyi sudah kembali. Lalu seolah semua orang yang dulu selalu tinggal kemudian mulai meninggalkan: meninggal di dalam pikiranku, menjadi bangkai yang enggan dikubur.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya, setiap malam, merasakan kesedihan yang sebenarnya tak begitu penting, namun terlalu menyakitkan sebab kesedihan ini tanpa obat kecuali peluk yang tulus.
Hingga akhirnya dalam tiga hari dua malam kusadari tubuhku yang menjadi sangat ringan setelah kehilangan tiga kilo dalam tiga hari. Betapa luar biasanya yang dulu kukira diet adalah jawabannya, sekarang menjadi pertanyaan.
Mana pernah terpikirkan untuk menjaga perasaan orang lain karena pada kenyataannya kupikir semua orang bisa memaafkan perasaan masing-masing. Dan kutahu aku salah besar.
Karena jelas sudah buktinya aku sendiri belum mampu menjaga perasaanku sendiri hingga aku terlalu sedih, menangisi kesalahan dan dosa yang kubuat sendiri, menyesal entah karena apa hingga lama-kelamaan aku akan berubah tak semanis dulu.
Sebab tawamu yang kupikir akan mengobati lukaku yang tergores oleh tajamnya dunia, harusnya bersahabat dengan tawaku sendiri yang kian lama kian sumbang. Yang sekarang aku butuhkan selain pelukmu yang tulus itu, adalah pelukku sendiri agar aku bahagia lagi.
Lalu semua alunan musik yang riang yang bising dari headphones-ku, kemudian sayup-sayup menghilang, berubah tanpa sadar menjadi suaramu, suara seseorang yang jauh sekali di sana, yang hanya akan membuatku ingin mengecup bibirmu.
Dan dinding kamarku kemudian dengan iseng menggodaku yang tak sanggup memeluk bayanganmu yang maya. Lalu perlahan-lahan suara tawamu muncul, renyah dan riang seperti ketika dulu aku masih kanak-kanak dan bermain petak umpet. Tawa yang dapat melepas kelelahanku memikul beban kuliah dan pekerjaan yang tiada habisnya memancingku untuk mengeluh, tawa yang hanya kau punya seorang. Tawa yang akan membuatku tersenyum, kemudian menangis, ah, mungkin ini yang disebut rindu.
Aku ingat betapa bahagianya mendengar tawamu lagi, menatap matamu yang selalu bercahaya, yang menyorot mataku, yang setelah dua bulan kau menghilang bersenang-senang dengan sibuknya duniamu yang kejam. Lalu sedikit demi sedikit hati ini, yang kesepian, yang merindukan peluk untuk melelehkan salju batinku, mulai mencair.
Belum.
Kemudian apa itu yang disebut kesedihan masih tinggal, enggan pergi entah bagaimana aku berusaha mengusirnya. Yang kadang tepat pada pukul 11 malam, ketika seisi penghuni atap rumah kecil ini mulai terlelap selain aku, perlahan es batu yang kusembunyikan dibalik kelopak mataku meleleh, membuat wajahku yang gendut ini basah dan asin.
Aku kesepian lagi. Yang kupikir aku tak akan pernah mengenal apa itu sepi. Walaupun kau yang selalu membuang sunyi sudah kembali. Lalu seolah semua orang yang dulu selalu tinggal kemudian mulai meninggalkan: meninggal di dalam pikiranku, menjadi bangkai yang enggan dikubur.
Lalu aku menangis sejadi-jadinya, setiap malam, merasakan kesedihan yang sebenarnya tak begitu penting, namun terlalu menyakitkan sebab kesedihan ini tanpa obat kecuali peluk yang tulus.
Hingga akhirnya dalam tiga hari dua malam kusadari tubuhku yang menjadi sangat ringan setelah kehilangan tiga kilo dalam tiga hari. Betapa luar biasanya yang dulu kukira diet adalah jawabannya, sekarang menjadi pertanyaan.
Mana pernah terpikirkan untuk menjaga perasaan orang lain karena pada kenyataannya kupikir semua orang bisa memaafkan perasaan masing-masing. Dan kutahu aku salah besar.
Karena jelas sudah buktinya aku sendiri belum mampu menjaga perasaanku sendiri hingga aku terlalu sedih, menangisi kesalahan dan dosa yang kubuat sendiri, menyesal entah karena apa hingga lama-kelamaan aku akan berubah tak semanis dulu.
Sebab tawamu yang kupikir akan mengobati lukaku yang tergores oleh tajamnya dunia, harusnya bersahabat dengan tawaku sendiri yang kian lama kian sumbang. Yang sekarang aku butuhkan selain pelukmu yang tulus itu, adalah pelukku sendiri agar aku bahagia lagi.
Jika Aku Mati, Akankah Ada yang Menangis?
jika suatu saat aku menghilang,
tenggelam ditelan bayanganku sendiri atau
lenyap bersama nada,
maukah engkau atau
atau siapapun itu berusaha mencariku?
atau paling tidak khawatir dan
resah akan kepergianku?
aku hanya bertanya-tanya tentang
orang-orang yang mengaku
sayang padaku itu,
apakah mereka benar-benar peduli,
atau hanya iba terhadap rahasiaku?
tenggelam ditelan bayanganku sendiri atau
lenyap bersama nada,
maukah engkau atau
atau siapapun itu berusaha mencariku?
atau paling tidak khawatir dan
resah akan kepergianku?
aku hanya bertanya-tanya tentang
orang-orang yang mengaku
sayang padaku itu,
apakah mereka benar-benar peduli,
atau hanya iba terhadap rahasiaku?
Wednesday, January 22, 2014
Perempuan yang Membenci Pujian
"Terkadang, sesuatu yang terdengar manis, belum tentu bisa dimakan. Yang bahkan bisa menjadi pahit, setelah kau jilat."
Udara menjadi dingin tanpa ampun, seolah Ibukota bisa turun salju. Manusia-manusia pengeluh itupun enggan keluar dari tempat persembunyian mereka dan memilih untuk meringkuk di balik selimut masing-masing sambil berdoa agar aku tak menangis. Sesekali aku menghembuskan nafas, yang akan membuat pohon-pohon menggigil dan tanpa sengaja melepas daun-daunnya. Malam ini hening dan dingin, menggambarkan suasana hatiku. Biarlah nanti tepat pergantian hari, aku akan menangis lagi, supaya lega, supaya aku tak merindu lagi.
Kuperhatikan segala sudut jalanan yang becek. Beberapa kendaraan masih sudi lalu lalang di musim hujan seperti ini, seperti orang bodoh. Para pedagang yang biasanya dengan riang menjajakan dagangan mereka, yang kadang penuh tipu daya demi laba yang besar, kini memilih untuk tinggal agar tak merugi.
Lalu sayup-sayup terdengar derap langkah gontai di atas jalanan yang licin. Seorang pria dengan kemeja lusuh berjalan dengan kepala tertunduk. Garis-garis di wajahnya menggambarkan hidupnya yang kehilangan asa. Sesekali dia merogoh kantong celananya yang kosong melompong, berharap ada keajaiban yang membuatnya mendadak kaya.
Tiba-tiba sorot matanya sedikit menyala, megarah ke depan, ke arah seorang perempuan yang terduduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Dengan ragu, pria itu menghampiri perempuan tadi. Lalu dengan diduga, wajah yang tatapannya kosong itu menoleh ke arah Gusti.
"Sendirian?" tanya Gusti canggung.
Perempuan itu menatapnya kosong tak berkedip. Ingin rasanya Gusti terus berjalan pulang menjauh dari gadis aneh itu. Tapi dinginnya malam ini membuatnya tak tega untuk meninggalkan gadis secantik itu sendirian di luar.
Gadis itu cantik. Matanya besar dan anggun dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung sempurna seperti gadis-gadis Barat. Bibirnya berisi dengan lekukan yang membingkai sempurna.
Di tengah cuaca yang bisa saja membuatnya mati kedinginan, dan suasana hati yang hampir membuatnya bunuh diri ini, rasanya enggan untuk berbicara pada siapapun. Tapi perempuan ini menarik, dan sebagai seorang lelaki tulen, hasrat untuk berdekatan dengan gadis inipun timbul.
Gusti duduk di samping perempuan itu, menatap matanya yang hampa, lalu tersenyum.
"Mbak ini cantik sekali, tapi kenapa harus sendirian malam-malam begini?" tanya Gusti mencoba ramah.
Gadis itu masih membisu. "Kenapa diem? Coba, kalau ada masalah, bisa cerita sama saya. Saya juga sebenarnya sedang pusing. Saya baru saja dipecat hari ini..." oceh Gusti tanpa henti, menceritakan gadis itu apa yang terjadi seharian.
Di tengah ceritanya yang panjang, sambil sesekali menatap kedua sepatu kulitnya yang kotor terkena cipratan air bekas hujan siang tadi, Gusti merasakan sesuatu yang hangat di paha kirinya. Mula-mula dari lutut, lalu kemudian naik hingga ke pangkal pahanya. Seketika Gusti berhenti berbicara.
Tangan gadis itu kemudian merogoh sesuatu yang berada di balik celana Gusti yang mengeras. Gusti tercengang, bingung. Ketika hendak menghentikan tangan gadis itu, Gusti terkejut. Entah sejak kapan gadis itu melepas tiga buah kancing bajunya sendiri, yang menyembulkan kedua buah dadanya yang ranum seperti buah mangga yang siap dipetik.
"Enggg... Mbak," belum sempat Gusti menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gusti merasakan sesuatu yang hangat mengulum bibirnya. Mengecup lembut dan sesekali menggigit bibir bawahnya.
"Tadi kamu bilang saya cantik, kan?" akhirnya suara gadis itu terdengar juga. Suara yang lembut, yang tak ada seorang lelakipun mampu menolak untuk dibisiknya.
Gusti mengangguk. "Iya, mbak," jawab Gusti dengan tergesa, yang tak dapat terdengar jelas karena mulutnya sedang berada di dalam bibir gadis itu.
"Aku bosan dibohongi," jawab gadis itu, tersenyum tipis.
"Mana mungkin saya berbohong? Tanya semua pria yang mbak temui, pasti semua akan bilang mbak ini cantik," kata Gusti lagi, mencoba meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar cantik.
"Semua pria sama saja! Mereka memuji hanya untuk kepuasan selangkangan mereka! Lalu setelah mendapatkan semua, mereka berhenti memuja kami para gadis dengan kata-kata manis!" teriak gadis itu.
Kedua mata yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan membara. Dahinya menyerngit, dan dia berhenti mencium Gusti. Masih menatap Gusti yang ketakutan, muncul gigi yang panjang dan runcing seperti mata pisau pada taringnya.
Gusti mematung. Darah yang tadinya hangat kini membeku di pembuluhnya. Matanya melotot menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah menghilang ditelan angin malam.
Dengan kecepatan sepersekian detik, kedua gigi taring yang seperti binatang buas itu menusuk leher Gusti, yang kemudian mulai mengunyah sebagian wajahnya. Aroma darah segar yang menggiurkan tercium dibawa hembusan nafasku. Lelaki dengan celana yang setengah terbuka itupun berhenti bergerak.
Setelah kenyang makan malam dengan menu spesial, gadis itupun mengancingkan kembali bajunya dan merapihkan rambutnya. Dengan langkah malas karena perutnya yang penuh, dia menghilang di tengah gelapnya malam.
Udara menjadi dingin tanpa ampun, seolah Ibukota bisa turun salju. Manusia-manusia pengeluh itupun enggan keluar dari tempat persembunyian mereka dan memilih untuk meringkuk di balik selimut masing-masing sambil berdoa agar aku tak menangis. Sesekali aku menghembuskan nafas, yang akan membuat pohon-pohon menggigil dan tanpa sengaja melepas daun-daunnya. Malam ini hening dan dingin, menggambarkan suasana hatiku. Biarlah nanti tepat pergantian hari, aku akan menangis lagi, supaya lega, supaya aku tak merindu lagi.
Kuperhatikan segala sudut jalanan yang becek. Beberapa kendaraan masih sudi lalu lalang di musim hujan seperti ini, seperti orang bodoh. Para pedagang yang biasanya dengan riang menjajakan dagangan mereka, yang kadang penuh tipu daya demi laba yang besar, kini memilih untuk tinggal agar tak merugi.
Lalu sayup-sayup terdengar derap langkah gontai di atas jalanan yang licin. Seorang pria dengan kemeja lusuh berjalan dengan kepala tertunduk. Garis-garis di wajahnya menggambarkan hidupnya yang kehilangan asa. Sesekali dia merogoh kantong celananya yang kosong melompong, berharap ada keajaiban yang membuatnya mendadak kaya.
Tiba-tiba sorot matanya sedikit menyala, megarah ke depan, ke arah seorang perempuan yang terduduk di sebuah bangku panjang terbuat dari kayu. Dengan ragu, pria itu menghampiri perempuan tadi. Lalu dengan diduga, wajah yang tatapannya kosong itu menoleh ke arah Gusti.
"Sendirian?" tanya Gusti canggung.
Perempuan itu menatapnya kosong tak berkedip. Ingin rasanya Gusti terus berjalan pulang menjauh dari gadis aneh itu. Tapi dinginnya malam ini membuatnya tak tega untuk meninggalkan gadis secantik itu sendirian di luar.
Gadis itu cantik. Matanya besar dan anggun dengan bulu mata yang lentik. Hidungnya mancung sempurna seperti gadis-gadis Barat. Bibirnya berisi dengan lekukan yang membingkai sempurna.
Di tengah cuaca yang bisa saja membuatnya mati kedinginan, dan suasana hati yang hampir membuatnya bunuh diri ini, rasanya enggan untuk berbicara pada siapapun. Tapi perempuan ini menarik, dan sebagai seorang lelaki tulen, hasrat untuk berdekatan dengan gadis inipun timbul.
Gusti duduk di samping perempuan itu, menatap matanya yang hampa, lalu tersenyum.
"Mbak ini cantik sekali, tapi kenapa harus sendirian malam-malam begini?" tanya Gusti mencoba ramah.
Gadis itu masih membisu. "Kenapa diem? Coba, kalau ada masalah, bisa cerita sama saya. Saya juga sebenarnya sedang pusing. Saya baru saja dipecat hari ini..." oceh Gusti tanpa henti, menceritakan gadis itu apa yang terjadi seharian.
Di tengah ceritanya yang panjang, sambil sesekali menatap kedua sepatu kulitnya yang kotor terkena cipratan air bekas hujan siang tadi, Gusti merasakan sesuatu yang hangat di paha kirinya. Mula-mula dari lutut, lalu kemudian naik hingga ke pangkal pahanya. Seketika Gusti berhenti berbicara.
Tangan gadis itu kemudian merogoh sesuatu yang berada di balik celana Gusti yang mengeras. Gusti tercengang, bingung. Ketika hendak menghentikan tangan gadis itu, Gusti terkejut. Entah sejak kapan gadis itu melepas tiga buah kancing bajunya sendiri, yang menyembulkan kedua buah dadanya yang ranum seperti buah mangga yang siap dipetik.
"Enggg... Mbak," belum sempat Gusti menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba Gusti merasakan sesuatu yang hangat mengulum bibirnya. Mengecup lembut dan sesekali menggigit bibir bawahnya.
"Tadi kamu bilang saya cantik, kan?" akhirnya suara gadis itu terdengar juga. Suara yang lembut, yang tak ada seorang lelakipun mampu menolak untuk dibisiknya.
Gusti mengangguk. "Iya, mbak," jawab Gusti dengan tergesa, yang tak dapat terdengar jelas karena mulutnya sedang berada di dalam bibir gadis itu.
"Aku bosan dibohongi," jawab gadis itu, tersenyum tipis.
"Mana mungkin saya berbohong? Tanya semua pria yang mbak temui, pasti semua akan bilang mbak ini cantik," kata Gusti lagi, mencoba meyakinkan bahwa gadis ini benar-benar cantik.
"Semua pria sama saja! Mereka memuji hanya untuk kepuasan selangkangan mereka! Lalu setelah mendapatkan semua, mereka berhenti memuja kami para gadis dengan kata-kata manis!" teriak gadis itu.
Kedua mata yang tadinya dingin, kini menjadi panas dan membara. Dahinya menyerngit, dan dia berhenti mencium Gusti. Masih menatap Gusti yang ketakutan, muncul gigi yang panjang dan runcing seperti mata pisau pada taringnya.
Gusti mematung. Darah yang tadinya hangat kini membeku di pembuluhnya. Matanya melotot menyaksikan apa yang ada di hadapannya. Mulutnya seolah hendak mengatakan sesuatu, tetapi suaranya seolah menghilang ditelan angin malam.
Dengan kecepatan sepersekian detik, kedua gigi taring yang seperti binatang buas itu menusuk leher Gusti, yang kemudian mulai mengunyah sebagian wajahnya. Aroma darah segar yang menggiurkan tercium dibawa hembusan nafasku. Lelaki dengan celana yang setengah terbuka itupun berhenti bergerak.
Setelah kenyang makan malam dengan menu spesial, gadis itupun mengancingkan kembali bajunya dan merapihkan rambutnya. Dengan langkah malas karena perutnya yang penuh, dia menghilang di tengah gelapnya malam.
Monday, January 20, 2014
Perawan
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
gagal jadi pemenang
mustahil jadi yang pertama
tak akan kau pernah perawani aku
karena habis aku dengan pria malam itu
lima tahun lalu
jauh sebelum aku mengenalmu
jauh sebelum aku mengerti
apalah arti sebuah kesucian
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
jangan kau panggil aku lacur
aku hanya membayar apa itu
yang disebut kenikmatan
dan terlalu dini
rapuh sampai tak sanggup berontak
kau lihat tangan pria yang kuat itu
yang pernah mencengkram pergelangan tanganku
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
aku dulu pernah sebersih itu
apa yang kau sebut gadis perawan
yang harum bagai kembang desa
embun pagi hari dengan senyum menggoda santun
dan dada yang bersembunyi malu
atau birahi yang belum lahir
malah bau matahari anak sekolah
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
kau bilang enggan rasanya menciumku lagi
setelah kau tahu betapa kotornya gadismu
kau kira aku tidur dengan lima pejantan
yang kau pikir semua nafsuku
jangan kau panggil aku lacur
lima tahun lalu
aku pernah perawan
gagal jadi pemenang
mustahil jadi yang pertama
tak akan kau pernah perawani aku
karena habis aku dengan pria malam itu
lima tahun lalu
jauh sebelum aku mengenalmu
jauh sebelum aku mengerti
apalah arti sebuah kesucian
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
jangan kau panggil aku lacur
aku hanya membayar apa itu
yang disebut kenikmatan
dan terlalu dini
rapuh sampai tak sanggup berontak
kau lihat tangan pria yang kuat itu
yang pernah mencengkram pergelangan tanganku
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
aku dulu pernah sebersih itu
apa yang kau sebut gadis perawan
yang harum bagai kembang desa
embun pagi hari dengan senyum menggoda santun
dan dada yang bersembunyi malu
atau birahi yang belum lahir
malah bau matahari anak sekolah
marahlah sesukamu, sejadi-jadinya
kau bilang enggan rasanya menciumku lagi
setelah kau tahu betapa kotornya gadismu
kau kira aku tidur dengan lima pejantan
yang kau pikir semua nafsuku
jangan kau panggil aku lacur
lima tahun lalu
aku pernah perawan
Thursday, January 16, 2014
Adakalanya
adakalanya aku lelah menahan tabah,
adakalanya aku penat menutup duka,
adakalanya aku bosan berpura-pura,
adakalanya aku lemah berdiri tegak
jika aku pada akhirnya pergi, atau bahkan menghilang,
mungkinkah itu artinya aku muak bersabar kepadamu?
atau aku sudah letih berbaik hati lagi?
kadang aku bosan sebaik ini,
atau bahkan terlalu jahat.
adakalanya aku penat menutup duka,
adakalanya aku bosan berpura-pura,
adakalanya aku lemah berdiri tegak
jika aku pada akhirnya pergi, atau bahkan menghilang,
mungkinkah itu artinya aku muak bersabar kepadamu?
atau aku sudah letih berbaik hati lagi?
kadang aku bosan sebaik ini,
atau bahkan terlalu jahat.
Tuesday, January 14, 2014
Tentang Pemikiranmu Selama ini, Kau Salah Besar
kepada untaian aksara yang berjejer rapih,
di halaman depan menyambut mata
larik-larik sajak yang kuukir,
bukan semata-mata aku menangis
adakalanya aku bosan tertawa,
jadi kuputuskan untuk merenung
dan jika kau berpikir itu semua selalu tentangmu,
kau salah besar
dan jika kau merasa aku masih ada untukmu,
kau salah besar
dan jika kau menganggap rasa ini masih sama,
kau salah besar
di halaman depan menyambut mata
larik-larik sajak yang kuukir,
bukan semata-mata aku menangis
adakalanya aku bosan tertawa,
jadi kuputuskan untuk merenung
dan jika kau berpikir itu semua selalu tentangmu,
kau salah besar
dan jika kau merasa aku masih ada untukmu,
kau salah besar
dan jika kau menganggap rasa ini masih sama,
kau salah besar
Monday, January 13, 2014
Berkunjunglah, Aku akan Menjadikanmu Sebagai Tamuku
kau boleh singgah sebentar,
(atau selama apapun kau mau) di tempat baruku
bukan, aku tak ada niatan apapun
untuk meninggalkan rumah lamaku
dan memulai hidup baru
bukan, aku tak bermaksud sama sekali
berselingkuh dan menelantarkan milikku
yang sudah hampir tua dan selalu setia ini
aku hanya butuh tempat baru,
untuk membuka jiwa yang baru
datanglah, dengan sajian seadanya
kuharap tak ada sungkan untuk datang lagi.
(atau selama apapun kau mau) di tempat baruku
bukan, aku tak ada niatan apapun
untuk meninggalkan rumah lamaku
dan memulai hidup baru
bukan, aku tak bermaksud sama sekali
berselingkuh dan menelantarkan milikku
yang sudah hampir tua dan selalu setia ini
aku hanya butuh tempat baru,
untuk membuka jiwa yang baru
datanglah, dengan sajian seadanya
kuharap tak ada sungkan untuk datang lagi.
Aku yang Enggan Kau Akui
setakbergunanya aku, bahkan kau enggan mengerti
setakbergunanya aku, bahkan aku kau abaikan
setakbergunanya aku, hingga aku menjadi satu
dari barisan yang terlupakan
aku hanyalah lalat hijau yang hinggap
di ujung sedotan minumanmu,
aku hanyalah spasi antara huruf terakhir dan tanda baca
yang memisahkan tanpa arti,
aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah
setelah membersihkan dosamu dengan luka,
bagaimana kamu yang pernah begitu menginginkanku
lalu seolah aku yang terlalu menginginkanmu,
dan tentang segala kata maaf yang bukan salahku,
dan tentang segala duka yang kusembunyikan di balik bahagiaku,
dan kamu yang selalu memanjakan perihnya lukaku,
aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.
setakbergunanya aku, bahkan aku kau abaikan
setakbergunanya aku, hingga aku menjadi satu
dari barisan yang terlupakan
aku hanyalah lalat hijau yang hinggap
di ujung sedotan minumanmu,
aku hanyalah spasi antara huruf terakhir dan tanda baca
yang memisahkan tanpa arti,
aku hanyalah sisa-sisa karet penghapus yang terpisah
setelah membersihkan dosamu dengan luka,
bagaimana kamu yang pernah begitu menginginkanku
lalu seolah aku yang terlalu menginginkanmu,
dan tentang segala kata maaf yang bukan salahku,
dan tentang segala duka yang kusembunyikan di balik bahagiaku,
dan kamu yang selalu memanjakan perihnya lukaku,
aku hanyalah aku, yang tak pernah kau akui.
Sunday, January 12, 2014
Kenapa Belum Pulang?
kenapa belum pulang?
apa ada makanan yang lebih enak di dapur orang?
apa ada undangan makan malam?
apa ada lembur lagi?
kenapa belum pulang?
apa ada pelukan yang selalu menyambutmu di pintu orang?
apa ada kecupan hangat tiap malam?
apa ada rumah lagi?
Aku yang Membenci Sunyi
mungkin aku jugalah bagian dari mereka
yang mencintai ketenangan
mungkin aku bukanlah bagian dari mereka
yang mencintai kesunyian
aku membenci sunyi
seperti aku membenci kegelapan
aku benci mendengar bisikan angin malam
atau dinginnya sepi
atau bayanganmu yang sayup-sayup muncul
dan suara lebutmu yang membelai rindu
atau pelukmu yang enggan pergi
dan kehadiranmu yang mati
aku bicara bukannya tak setia
atau tak mau sendiri
hanya aku enggan terjebak sunyi
dan kehadiranmu yang mati
Friday, January 10, 2014
Bukan Kota Baik Hati
Mobil taksi berwarna biru muda itu melesat di jalan raya. Terjebak di antara kendaraan lain yang saling mencari celah untuk menjauh dari penatnya hiruk-pikuk ibu kota yang penuh dengki. Sambil sesekali menenggak air dari botol minum 1 liter untuk mengisi perutnya yang sebenarnya lebih butuh nasi dibanding air, si supir terus mengendarai mobil yang menjadi sumber pencahariannya itu. Sesekali ia melirik ke pinggir jalan kalau-kalau ada calon penumpang yang siap untuk diangkut. Di bawah terpaan cahaya lampu jalanan ala Jakarta malam hari, mobilnya terus berusaha keluar dari kemacetan yang semakin hari semakin menggila.
Lima belas menit kemudian Tarjino memarkirkan taksinya untuk mampir di warung kecil pinggir jalan. Di depan warung itu ada tiga pria dengan kacing baju terbuka yang menyembulkan perut buncit mereka, sibuk bermain kartu dan berbincang sambil sesekali menyeruput kopi hitam mereka.
"Hey, bang! Gimana hari ini? Lancar?" tanya pria dengan kumis tebal.
"Aduh. . . Gak tau lah, mas. Hari gini kayaknya orang-orang udah punya mobil pribadi ya? Sepi nih taksi saya," jawab Tarjino sambil tersenyum, menghampiri ketiga pria yang sudah ada di warung tersebut sebelumnya.
"Ya gitulah, bang. Jakarta ini memang keras," balas pria kumis tebal tadi tanpa melirik ke arah Tarjino.
Tarjino tersenyum pahit. Perutnya kosong seharian, jadi badannya pun agak lemas. Lalu dia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.
Terdengar Tarjino sedang menyapa seseorang di seberang telepon, "Halo, Assalamualaikum, bu. . . Maaf bu, bapak hari ini belum bisa bawa pulang uangnya. . . Iya . . . Coba tanya Bu RT bisa gak dipinjamin lagi uangnya. . . Oh, bulan kemarin belum lunas ya? Adek gimana, sudah agak sehat? Oh ya sudah, nanti bapak usahakan ya, bu. Ibu tenang aja. . . Wassalamualaikum. . ."
Setelah menutup teleponnya, salah seorang pria bertato yang tengah bermain kartu tadi berceletuk.
"Bang Tar, kalau abang memang butuh uang, temanku ada yang kemarin dapat jutaan dalam semalam," katanya.
"Wah, kok bisa mas?" tanya Tarjino penasaran.
Sebagai isyarat memanggil, pria tersebut menggerakan tangannya. Tarjino pun menghampirinya dan membungkuk. Sambil membisikan kata-kata di telinga Tarjino, pria tersebut sesekali menghisap rokoknya. Tarjino pun sesekali mengangguk dan mengkerutkan dahinya.
"Kok agak berisiko yang, mas?" tanya Tarjino ragu.
"Ya, kalau abang memang mau dapat uang cepat, memang harus begitu, bang. Ingat, Jakarta ini gak sebaik itu untuk menafkahi isteri dan anakmu yang sakit-sakitan itu di kampung. Tapi ya, semua terserah abang. Kalau abang mau, biar kuhubungi nanti temanku," jawabnya santai.
Tarjino hanya bergeming, memikirkan nasib keluarganya, dan juga dirinya sendiri.
Lima belas menit kemudian Tarjino memarkirkan taksinya untuk mampir di warung kecil pinggir jalan. Di depan warung itu ada tiga pria dengan kacing baju terbuka yang menyembulkan perut buncit mereka, sibuk bermain kartu dan berbincang sambil sesekali menyeruput kopi hitam mereka.
"Hey, bang! Gimana hari ini? Lancar?" tanya pria dengan kumis tebal.
"Aduh. . . Gak tau lah, mas. Hari gini kayaknya orang-orang udah punya mobil pribadi ya? Sepi nih taksi saya," jawab Tarjino sambil tersenyum, menghampiri ketiga pria yang sudah ada di warung tersebut sebelumnya.
"Ya gitulah, bang. Jakarta ini memang keras," balas pria kumis tebal tadi tanpa melirik ke arah Tarjino.
Tarjino tersenyum pahit. Perutnya kosong seharian, jadi badannya pun agak lemas. Lalu dia mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya, kemudian menghubungi seseorang.
Terdengar Tarjino sedang menyapa seseorang di seberang telepon, "Halo, Assalamualaikum, bu. . . Maaf bu, bapak hari ini belum bisa bawa pulang uangnya. . . Iya . . . Coba tanya Bu RT bisa gak dipinjamin lagi uangnya. . . Oh, bulan kemarin belum lunas ya? Adek gimana, sudah agak sehat? Oh ya sudah, nanti bapak usahakan ya, bu. Ibu tenang aja. . . Wassalamualaikum. . ."
Setelah menutup teleponnya, salah seorang pria bertato yang tengah bermain kartu tadi berceletuk.
"Bang Tar, kalau abang memang butuh uang, temanku ada yang kemarin dapat jutaan dalam semalam," katanya.
"Wah, kok bisa mas?" tanya Tarjino penasaran.
Sebagai isyarat memanggil, pria tersebut menggerakan tangannya. Tarjino pun menghampirinya dan membungkuk. Sambil membisikan kata-kata di telinga Tarjino, pria tersebut sesekali menghisap rokoknya. Tarjino pun sesekali mengangguk dan mengkerutkan dahinya.
"Kok agak berisiko yang, mas?" tanya Tarjino ragu.
"Ya, kalau abang memang mau dapat uang cepat, memang harus begitu, bang. Ingat, Jakarta ini gak sebaik itu untuk menafkahi isteri dan anakmu yang sakit-sakitan itu di kampung. Tapi ya, semua terserah abang. Kalau abang mau, biar kuhubungi nanti temanku," jawabnya santai.
Tarjino hanya bergeming, memikirkan nasib keluarganya, dan juga dirinya sendiri.
Tuesday, January 07, 2014
Tadinya
kupikir awalnya aku akan membencimu
kupikir awalnya aku akan menjauhimu
kupikir awalnya aku akan meninggalkanmu
kemudian aku salah
rasa ini ternyata masih tetap sama
seperti sejak awal kita bertemu
kupikir awalnya aku akan menjauhimu
kupikir awalnya aku akan meninggalkanmu
kemudian aku salah
rasa ini ternyata masih tetap sama
seperti sejak awal kita bertemu
Sunday, January 05, 2014
Barangkali
dia yang datang berkali-kali
kau yang pergi berkali-kali
mungkin pernah aku sekali salah
peluknya yang kukira lenganmu
mungkin pernah aku sekali salah
kecupnya yang kukira bibirmu
mungkin selama ini, kau yang selalu salah
mungkin kau hanyalah rumah yang tak pernah pulang
atau mungkin itu aku
Kabut
sosokmu hilang.
bersama dinginnya udara,
ditelan gelapnya cahaya,
rupamu semakin samar.
aku mencoba meraih asap itu.
dengan terus berlari, aku mengejarmu,
dengan terus menghilang, aku kehilanganmu.
kabut.
sampai akhirnya,
matahari mulai memanjat tebing siang,
embun yang tadinya tidur, mulai terbangun,
kaupun menghilang, ditelan hari.
bersama dinginnya udara,
ditelan gelapnya cahaya,
rupamu semakin samar.
aku mencoba meraih asap itu.
dengan terus berlari, aku mengejarmu,
dengan terus menghilang, aku kehilanganmu.
kabut.
sampai akhirnya,
matahari mulai memanjat tebing siang,
embun yang tadinya tidur, mulai terbangun,
kaupun menghilang, ditelan hari.
Malam-malam Tak Terhitung Terjaga Karena Rindu
Barangkali rindu ini menjadi candu
Jangan berhenti atau mati
Aku gerah dan ingin marah
Hanya peluk yang membuatku sejuk
Terlalu jauh sampai mengeluh
Perih sampai harus merintih
Sayang, cepat kau pulang
Ada senyum yang siap dikulum
Banyak berita sebagai cerita
Mari kita tidur dalam lindur
Jangan berhenti atau mati
Aku gerah dan ingin marah
Hanya peluk yang membuatku sejuk
Terlalu jauh sampai mengeluh
Perih sampai harus merintih
Sayang, cepat kau pulang
Ada senyum yang siap dikulum
Banyak berita sebagai cerita
Mari kita tidur dalam lindur
Saturday, January 04, 2014
Pada Kedua Bola Matamu, Tuhan Titipkan Bahagiaku
Mungkin pada lembut kecup bibirmu, Tuhan sisipkan sititik sentuhan surga.
Bersama kalimat-kalimatmu, aku tenggelam dalam janjimu.
Bersama kalimat-kalimatmu, aku tenggelam dalam janjimu.
Mungkin pada manja rayumu, luluh amarahku bisa meleleh.
Bersama rengekan kekanak-kanakanmu, aku tak mampu membenci.
Bersama rengekan kekanak-kanakanmu, aku tak mampu membenci.
Mungkin pada kokohnya pundakmu, penat keluh kepalaku menghilang.
Bersama peluhku yang menetes, bebanku larut.
Mungkin pada hangatnya pelukmu, dinginnya acuh hatiku mencair.
Sekali lagi, aku benar-benar tak mampu membenci.
Bersama peluhku yang menetes, bebanku larut.
Mungkin pada hangatnya pelukmu, dinginnya acuh hatiku mencair.
Sekali lagi, aku benar-benar tak mampu membenci.
Mungkin pada teduhnya senyummu, sedihku memudar.
Bersama tawa dan lelucon bodoh, air mataku larut dalam bahagia.
Bersama tawa dan lelucon bodoh, air mataku larut dalam bahagia.
Mungkin pada perginya sosokmu, separuh dari diriku menghilang.
Bersama bayanganmu yang semu, aku mencoba menemukan aku.
Bersama bayanganmu yang semu, aku mencoba menemukan aku.
Friday, January 03, 2014
Ibuku
Kenyataannya di pundaknya lah Tuhan bebankan kehidupan yang penuh dosa
Kenyataannya di kedua telapak tangannya lah Tuhan aminkan doa
Kenyataannya di telapak kakinya lah Tuhan titipkan surga
Pada peluknya kau temukan rumah ternyaman
Pada senyumnya kau melarikan diri dari dunia
Pada tangisnya kau harusnya hapuskan luka
Kenyataannya di kedua telapak tangannya lah Tuhan aminkan doa
Kenyataannya di telapak kakinya lah Tuhan titipkan surga
Pada peluknya kau temukan rumah ternyaman
Pada senyumnya kau melarikan diri dari dunia
Pada tangisnya kau harusnya hapuskan luka
Mengarang Kemungkinan Tentang Besok
Aku meletakkan kenanganku pada detik jarum jam yang berdetak seirama dengan degup jantungku. Aku membiarkannya larut dalam waktu.
Mungkin setelah akhirnya aku berhasil melewati semuanya, entah di tempat mana, di belahan Bumi yang mereka bilang bulat ini kelak kita akan kembali bertemu.
Mungkin ketika itu kau akan mendapati aku yang banyak berubah, tidak seperti sekarang ini dan begitupun denganmu. Lalu kau akan mencoba mengenali aku yang baru, dan kau akan bertanya “Apakah ini kamu?” padaku.
Dan mungkin aku akan mendapatimu yang bahkan sudah aku hapuskan sejak lama dalam diriku. Yang butuh bertahun-tahun untuk bisa melupakanmu pada diriku dan semua tentang kita. Lalu aku akan berpura-pura lupa ingatan dan aku akan membalas dengan “Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” kepadamu.
Itu jika aku mampu.
Atau mungkin ternyata, keadaannya hatiku masih sama seperti sejak dulu, sejak awal aku jatuh cinta padamu.
Mungkin pada akhirnya aku akan menjawab dengan “Ya, ini aku! Kau masih mengenalku?” lalu akhirnya kita akan melalui kisah yang sama seperti dulu dan kemarin hanya saja semoga tanpa mengulangi kesalahan yang sama.
Thursday, January 02, 2014
Pasar Malam Pahing
Malam itu gelap dan dingin. Hening sekali sampai yang kau dengar hanyalah suara jangkrik dan rerumputan yang kesakitan karena kau injak. Mataku terus mengikuti cahaya lampu minyak yang dibawa bapak. Aku harus siaga kalau-kalau aku terpeleset menginjak bebatuan atau kaki ayahku sendiri.
Sebelum berangkat tadi, ibu berpesan untuk jangan jauh-jauh dari bapak, jadi kugenggam terus bajunya yang usang agar aku tak hilang dibawa hantu.
Lima belas menit sudah kami berjalan kaki sampai akhirnya kulihat cahaya yang terang dan terdengar suara orang-orang. Banyak anak kecil yang membawa gulali dan mainan, ibu-ibu yang sibuk menawar harga barang-barang, dan bapak-bapak yang saling bercengkrama sambil menunggu istri-istri mereka. Aku sumringah, berharap akan pulang membawa gulali ke rumah.
"Pak, belikan adek gulali ya, pak." pintaku dengan kepala mengadah ke arah wajah bapak.
Bapak tersenyum tanpa menjawab. Kami terus berjalan melewati pedagang gulali yang berarti bapak tidak akan membelikanku makanan yang kelihatannya enak itu.
Di pasar malam yang buka setiap malam Pahing di desa ini sering diadakan pertunjukan wayang kulit. Kami berdiri di baris belakang penonton. Tubuhku yang mungil ini harus bersusah payah berjinjit untuk bisa melihat bayangan wayang-wayang di balik kain putih di panggung. Aku merasakan kedua tangan bapak mengangkat tubuhku dan menggendongku di pundaknya. Sekarang aku senang bisa menyaksikan pertunjukan wayang kulit kesukaan warga desa kami.
Pertunjukan wayang pun usai, para penonton mulai berhamburan menjauh dari tempat si dalang memainkan wayang-wayangnya bercerita. Kamipun segera berjalan untuk pulang, dengan perut yang kelaparan sejak berangkat tadi. Lalu bapak menarikku ke arah gerobak pedagang martabak telur.
Kami berdiri di dekat meja si pedagang melempar-lemparkan adonan yang lama kelamaan melebar dan menipis. Aku menyaksikannya takjub. Dengan lihai si pedagang martabak melakukan atraksinya itu, dan meletakan kulit martabaknya ke penggorengan yang lebar dan rata. Aneh bagiku karena aku belum pernah melihat penggorengan selebar itu.
Perutku semakin bergemuruh tanda kelaparan. Seolah menyadarinya, bapak mengajakku untuk pulang. Dengan enggan aku mengangguk dan pergi bersama bapak menjauhi kerumunan orang-orang di pasar malam itu.
Catatan: Kisah tentang anak laki-laki yang pergi ke pasar malam terinspirasi dari kisah ayah saya yang sering bercerita tentang kisah masa kecilnya sebagai seorang anak bungsu dari pasangan petani miskin yang tinggal di desa.
Ayah
Matanya memerah kurang tidur
Tubuhnya lelah sepulang kerja
Perutnya menggerutu, meminta nasi
Anak gadisnya belum juga pulang
Wednesday, January 01, 2014
Bulan Kedua
Jadi begini,
Kukira semalam kau akan datang
Kukira semalam aku akan tenang
Kukira semalam kita akan senang
Habis sudah hitungan mundur 2 bulan,
Pelukmu tak juga pulang
Masih saja aku menunggu, menunggu, menunggu
Kau bilang kau akan pulang
Kau bilang kau akan pulang
Kau bilang kau akan pulang
Dan aku akan tetap menunggu, menunggu, menunggu
Subscribe to:
Comments (Atom)