angka nol di lembaran uang yang berkurang
satu persatu hingga menjadi terlalu nol
itulah alasan kami membanting tulang
dan menjual daging kami sendiri
Monday, March 31, 2014
Sunday, March 30, 2014
Aku Tertidur dengan Buku-buku
aku yang sendiri membaca mimpi-mimpi
dan kisah-kisah yang sepi dan maya
dan kasih-kasih yang mati dan kaya
andai kau tahu aku tidur dengan bantal buku
dan pulas mengendus bau kertas
dalam pelukan angan-angan yang mungkin
akan terjadi atau mungkin tidak sama sekali
Friday, March 28, 2014
Tanganmu, Si Petualang Sejati
lenganmu muncul di balik mataku yang memejam
dan urat-urat yang ungu kehijauan, kau bilang tanda perkasa
sampai telur-telur di kedua lenganmu, yang siap meledak
dan rambut yang mengintip di dadamu yang sekokoh baja
dan tanganmu, si petualang sejati
yang mendaki gunung kau sebut buah dada
atau puncak volcano
hingga tebing curam yang meraung-raung
dan tanganmu, si petualang sejati
enggan pulang, walau kadang merindu rumah
selama kau masih mengembara di hutanku
aku tak akan menjadi gempa
Amore
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau akan berpuisi
dan lukisan yang berbunga atau berwarna zebra
hingga lagu-lagu yang lebih indah dari siulan sore
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau melihat kupu-kupu
dan senyuman dari bibir tua yang rapuh
hingga tangisan dari mata yang muda dan berapi
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau merasakan surga
atau bahkan luka yang lebih dalam dari neraka
hingga laku-laku yang mengejutkan bagai kematian
Puisi ini akhirnya dimuat di Buletin Stomata Edisi VI Bulan September. Klik di sini untuk mengunduh.
sebab dengan begitulah kau akan berpuisi
dan lukisan yang berbunga atau berwarna zebra
hingga lagu-lagu yang lebih indah dari siulan sore
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau melihat kupu-kupu
dan senyuman dari bibir tua yang rapuh
hingga tangisan dari mata yang muda dan berapi
cintailah seseorang
sebab dengan begitulah kau merasakan surga
atau bahkan luka yang lebih dalam dari neraka
hingga laku-laku yang mengejutkan bagai kematian
Puisi ini akhirnya dimuat di Buletin Stomata Edisi VI Bulan September. Klik di sini untuk mengunduh.
Monday, March 24, 2014
Satu Menit Keheningan dari Satu Tahun Penantian
tawa yang lebih ramai dari pawai mendadak sepi
ditelan rindu yang kian hari kian ganas.
dan kutangkap senyummu yang terhapus sedih,
kedua mata yang pernah kukecup dalam tidur.
dan sebuah pertanyaan: kenapa kau enggan bicara?
lalu kau mengecup bibir yang tak mengenal diam.
dan sebuah pernyataan: kau berbicara lewat matamu.
lalu aku tenggelam dalam lautan pupil yang kecokelatan.
dan tangisan yang kau sembunyikan dibalik kalimat:
"tenang, sayangku. berilah aku dua bulan dan aku akan pulang."
ternyata lebih pedih dari air mataku. sebab kau bilang
laki-laki pantang menangis, jadi kau putuskan untuk kuat.
dan semakin hari dua bulan terus bertambah tanpa henti
hingga dikalikan menjadi dua tahun dan abad.
dan kau yang tak kunjung pulang, duhai sayangku
hanya memupuk duka di antara kita yang luka.
Sekawanan yang Menjadi Musuh: Jarak, Waktu, dan Kita
mungkin siang-siang seperti ini. saat jika kau berdiri 20 menit di bawah langit dengan
baju sehari-hari, lenganmu akan lebih gelap dari warna pahamu. di mana aku pernah
duduk di pangkuanmu dengan senyuman yang lebih nakal dari rindu yang membuat resah.
dan hutang yang harus lunas akhir bulan. mungkin di siang-siang seperti ini. saat kau terlelap dalam
malammu sendiri di sana. kau sedang meminang mimpi yang kuharap ada rambutku.
rambut panjang yang sekali kau belai. dan sesekali terselip di sela jemarimu. mungkin di sana
aku akan pulang, sayang. dan terlelap di malam yang sama.
dan ketika bisikan malam yang ngeri, yang membangunkan bulu kuduk datang. dan
desahan dari balik selimut yang keluar diam-diam. dan tanganmu yang serupa pendaki
gunung enggan turun. dan bokong gadismu yang kau anggap lebih indah dari purnama.
dan ombak yang menampar karang-karang. dan peluhmu yang jatuh di wajahku. dan
ciuman-ciuman yang lebih mirip makan malam. dan penahan dada merah jambu,
yang kau lepas pengaitnya sebelum kau masuk. dan beberapa 'ssstt' untuk mengheningkan nafsu.
kemudian kala matahari malu-malu datang di timur. dan ayam-ayam jantan yang sungkan begadang
membangunkan kita yang lelap. dan mata yang sembab sisa semalam. dan kasurku yang terasa
lebih luas dari tadi malam. dan sosokmu yang hilang lagi setelah berkunjung di mimpiku. dan pagi
yang sepi lagi. dan hari yang berat lagi. dan kita yang kelak akan bertemu kembali setelah semuanya
tertidur.
lebih luas dari tadi malam. dan sosokmu yang hilang lagi setelah berkunjung di mimpiku. dan pagi
yang sepi lagi. dan hari yang berat lagi. dan kita yang kelak akan bertemu kembali setelah semuanya
tertidur.
Sunday, March 23, 2014
Hitam Itu Asal Usul Pelangi
aku akan menghapus segala putih
di muka bumi yang tak pernah datar
sebab putih tak akan putih
entah warna susu atau gading
tak pernah kuingat menyukai putih
warna paling jauh dari pelangi
yang padahal asal segala warna-warni
tempat seluncur bidadari mandi
atau memang aku jauh dari suci
sebab putih akan menjadi kotor
atau kadang menghitam legam
tapi hitam tak akan pernah putih
di muka bumi yang tak pernah datar
sebab putih tak akan putih
entah warna susu atau gading
tak pernah kuingat menyukai putih
warna paling jauh dari pelangi
yang padahal asal segala warna-warni
tempat seluncur bidadari mandi
atau memang aku jauh dari suci
sebab putih akan menjadi kotor
atau kadang menghitam legam
tapi hitam tak akan pernah putih
Pendusta Hati
dua orang yang saling menatap
didekap pilu dalam kenangan
kaku, detak detik menggema
mereka yang membangun suasana
dua hati yang pernah mencinta
dihantam nyeri tentang waktu
pedih, andai bisa kembali
sekarang saling melumat bibir sesama
seperti dulu kala bersama
mereka, di ruang itu
yang dulu sepasang kekasih
dan saling mendustakan hati
kembali menjadi dulu tak semudah memulai
yang pecah mungkin tak akan utuh
yang utuh terlanjur pecah
tentang dua jiwa yang diledek rindu
aku masih ingin memelukmu, sayang.
didekap pilu dalam kenangan
kaku, detak detik menggema
mereka yang membangun suasana
dua hati yang pernah mencinta
dihantam nyeri tentang waktu
pedih, andai bisa kembali
sekarang saling melumat bibir sesama
seperti dulu kala bersama
mereka, di ruang itu
yang dulu sepasang kekasih
dan saling mendustakan hati
kembali menjadi dulu tak semudah memulai
yang pecah mungkin tak akan utuh
yang utuh terlanjur pecah
tentang dua jiwa yang diledek rindu
aku masih ingin memelukmu, sayang.
Stomata
mungkin hijau daun yang mendaunkan hijau
seperti aksara yang dirajut pada sajak
atau pada untaian majas dalam prosa
atau mungkin di atas lembaran hitam putih
yang secara cuma-cuma ditebar
biarlah sastra menjadi sastra
yang mungkin bukan untuk semua orang
biarlah sastra menjadi sastra
yang hitam putih walau kadang kelabu
Monday, March 17, 2014
Bibirmu Adalah Alasan Untuk Lapar
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
tak apa, buatlah aku cemburu
bahkan rengekan cacing di perut
terlalu nyaring sampai kuhiraukan
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
yang harusnya daritadi habis kulumat
lapar akan bisikan nakal di telinga
turun sedikit kecup di tengkuk
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
jangan berani kau kabur dari meja makan
sebab lima menit lagi waktuku makan malam
menu bibir tebal seksi merah muda
tak apa, buatlah aku cemburu
bahkan rengekan cacing di perut
terlalu nyaring sampai kuhiraukan
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
yang harusnya daritadi habis kulumat
lapar akan bisikan nakal di telinga
turun sedikit kecup di tengkuk
kau kunyah teruslah bibirmu itu!
jangan berani kau kabur dari meja makan
sebab lima menit lagi waktuku makan malam
menu bibir tebal seksi merah muda
Entah Sejak Kapan Sesak Nafas Terasa Buta
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
hingga mana udara yang enggan kuraba
dan dadaku yang kembang-kempis
sampai paru-paruku seperti tuli
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
bagai dicekik jemari belati
lalu suara nafasku yang berbunyi ngiiiik
sampai ngilu aku menangis
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
yang kau ingat hanyalah bayangan bunda
memelukmu dalam linangan air mata
"sayang, tenanglah. tarik nafas, buang perlahan."
hingga mana udara yang enggan kuraba
dan dadaku yang kembang-kempis
sampai paru-paruku seperti tuli
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
bagai dicekik jemari belati
lalu suara nafasku yang berbunyi ngiiiik
sampai ngilu aku menangis
entah sejak kapan sesak nafas terasa buta
yang kau ingat hanyalah bayangan bunda
memelukmu dalam linangan air mata
"sayang, tenanglah. tarik nafas, buang perlahan."
Sunday, March 16, 2014
Cerita Gurun
wajahmu lelah habis disiksa hari
yang kau bilang demi kita
jadi kau putuskan lebih baik kau pergi
merajut mimpimu dulu, lalu mimpiku
jadi kuputuskan juga begitu
aku yang membungkuk lelah membopong beban
tanpamu yang sibuk memintal benang asa
duduk bersandar lemas merindu istirahat
dibawah pohon rindang bersembunyi dari matahari
yang tajam menusuk epidermis kulit legamku
kulihat dari kejauhan ada sesosok pembawa air
berjalan di tengah fatamorgana, memikul harap
dengan senyum ramah dia tawarkan bantuan
mengangkut beban agar dipikul berdua
lalu bayanganmu muncul dari kejauhan
menanti sabar di safa dan aku membisu di marwah
lalu si pembawa air tanpa ragu mengajakku pergi
mencari oasis berdua, agar tetap hidup
dan bayanganmu larut ditelan bayangan gurun
yang kuingat kau percaya aku tak mungkin pergi
lalu biarlah aku dihukum dosaku sendiri
menenggak sedikit air menunda dahaga akan rindu
perlahan kubiarkan si pembawa air pergi
mencari gadis kelelahan lain untuk ditolong
lalu biarlah aku berjanji, sayangku
aku akan terduduk di bawah pohon menanti kau pulang
dengan mandi peluh asin dari lelahnya menunggu
agar kubasuh wajahmu yang lelah dengan air mata
yang kau bilang demi kita
jadi kau putuskan lebih baik kau pergi
merajut mimpimu dulu, lalu mimpiku
jadi kuputuskan juga begitu
aku yang membungkuk lelah membopong beban
tanpamu yang sibuk memintal benang asa
duduk bersandar lemas merindu istirahat
dibawah pohon rindang bersembunyi dari matahari
yang tajam menusuk epidermis kulit legamku
kulihat dari kejauhan ada sesosok pembawa air
berjalan di tengah fatamorgana, memikul harap
dengan senyum ramah dia tawarkan bantuan
mengangkut beban agar dipikul berdua
lalu bayanganmu muncul dari kejauhan
menanti sabar di safa dan aku membisu di marwah
lalu si pembawa air tanpa ragu mengajakku pergi
mencari oasis berdua, agar tetap hidup
dan bayanganmu larut ditelan bayangan gurun
yang kuingat kau percaya aku tak mungkin pergi
lalu biarlah aku dihukum dosaku sendiri
menenggak sedikit air menunda dahaga akan rindu
perlahan kubiarkan si pembawa air pergi
mencari gadis kelelahan lain untuk ditolong
lalu biarlah aku berjanji, sayangku
aku akan terduduk di bawah pohon menanti kau pulang
dengan mandi peluh asin dari lelahnya menunggu
agar kubasuh wajahmu yang lelah dengan air mata
Monday, March 03, 2014
Sebab Rinduku Merindukan Pelukmu
Rindu tengah diam tersungkur
Menanti tangan tulus mengulur lugu
Rindu lelah menjadi rindu
Yang tak kau acuhkan sejak lahir
Yang bahkan tak pernah kau dengar
Yang enggan kau mengerti hadirnya
Rindu berlari mencari sepasang lengan
Menjadi musuh penantian abadi
Rindu lelah menjadi rindu
Subscribe to:
Comments (Atom)