Sunday, July 29, 2012

Aku Salah

Aku hanya terlalu percaya diri.
Mempercayai diriku sendiri bahwa kau sama sepertiku.
Seperti apa yang aku rasakan, bahwa perasaanmu sama denganku.
Dengan hal yang sama, bahwa kau begitu menginginkanku.
Menginginkanku untuk menjadi milkmu, seperti mauku.
Mauku, bahwa kamu, adalah keinginanku.

Monday, July 16, 2012

Dendam Yang Terbawa Mati.

Gadis itu tersenyum,
menatapmu dengan penuh kemenangan.
Aku bisa melihatnya dari sorot matanya yang bersorak gembira.
Penuh kembang api di pupil matanya.

Dan kaupun menganga,
menahan perihmu sendiri atas luka.
Aku bisa melihatnya dari lubang besar yang ada di punggungmu.
Penuh darah segar mengalir enggan berhenti.

Nikmatilah.
Dendam memang sangat menyenangkan,
ketika berhasil terbalas.
Meski maaf memang sangat melegakan,
ketika berhasil diikhlaskan.

Nimatilah.
Mengabaikan memang sangat sombong,
sayang.
Dan mengejar kembali hal yang sudah kau buang,
bukankah itu melelahkan?

Nikmatilah.
Selagi aku masih bisa menyaksikan mautmu.
Nikmatilah.
Nafas terakhirmu yang enggan pergi menjauhi jiwamu,
sayangku.

Sunday, July 15, 2012

Sukma; Titisan Bidadari yang Mencuri Sang Panji.

Siang itu terik.
Awan-pun seolah enggan untuk berdamai, sampai akhirnya matahari mencoba untuk mendekat.
Aku menatapnya dari kejauhan, sosok tampan dengan lengkungan senyum yang begitu indah, lengkap dengan bulir-bulir kecil keringat di sekitar wajahnya.
Titik-titik air itu berlomba menuruni lekuk wajahnya yang terus menatap tajam kearah bola berwarna oranye itu.
Kedua bola mataku menjelajahi seisi lapangan, menelusuri setiap sudut persegi, mencari sesosok yang sedari tadi tak kunjung kutemukan.
Ah! Itu dia!
Matanya yang indah bak senja setelah hujan, begitu teduh, terus melekatkan pandangannya ke arah pria itu, pria yang tak henti-hentinya memantulkan bola basket, dan terus berusaha memasukkannya ke dalam ring.
Rambutnya yang hitam, panjang dan pastinya indah, seolah bagai padi yang bergerak seperti ombak, benar-benar memanjakan mata yang melihatnya.
Deretan gigi-gigi itu berjejer rapih dibalik senyumnya yang selalu manis, semanis es teh manis yang sedari tadi kuteguk tetesnya di bawah teriknya surya yang terlalu semangat.
Kulitnya yang dulu merah, kini menjadi kecokelatan karena matahari.
Ah, gadis itu selalu nyaris sempurna.
"Sukma!" Aku memanggilnya, sambil mendekat menghampirinya
Bentuk wajah yang cantik itu semakin jelas di tatapanku
Ia tersenyum, sejuk.
Pantas saja, pria itu; Panji, terlalu tergila-gila denganmu, Sukma.
Sukma,
Gadis itu, gadis sederhana yang dicintai Panji, pangeranku.
Gadis itu, sahabatku.
Aku duduk di samping tubuh gadis itu, yang daritadi masih menunggu sang pria itu, pria yang kuinginkan itu menghampirinya.
Aku terus menikmati parasnya yang ingin sekali aku menjadi dirinya.
Oh, rasanya aku ingin menghilang ditelan debu lapangan siang itu, bakar aku, matahari! Sekarang!
Tiba-tiba Panji sudah berada di tengah-tengah antara kami bertiga, entah sejak kapan, mungkin aku tidak menyadarinya karena terlalu sibuk memperhatikan pemandangan indah tentang Sukma.
Aroma tubuhnya yang tak asing memeluk rongga hidungku, tubuhnya basah; dijamah keringatnya sendiri.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap menyenangkan bagiku, dan bagi Sukma.
Panji, bisakah kau berhenti mengelus rambut gadismu itu?
Ini terasa begitu perih, walau tak pernah lebih perih dibanding ketika saat dulu kau pernah mencium ku di balik rintik hujan, sore itu, yang kemudian kau bilang aku ini sahabat terbaikmu...
Aku terdiam, memutar otak untuk tahu bagaimana caranya aku menemukan jalan agar aku tidak terjebak di tengah pemandangan yang membunuh itu.
Spontan, aku menarik rambutnya.
"Aw! Woy, sakit bego!", protes Panji sambil menatap kesal.
Aku hanya tertawa, seolah terlihat jelas saat itu, aku sedang mencari perhatiannya.
Sukma hanya tertawa renyah menyaksikan aku dan Panji saling mengejek.

Dapat kupastikan, aku akan mati karena terlalu sering membunuh diriku perlahan seperti ini.

Saturday, July 14, 2012

Sebut Saja Aku ini Pemimpi, Aku Hanya Menginginkanmu, Itu Saja.

Salah apa aku ini, menangisi sesuatu yang bahkan aku tak kenal dari mana datangnya. Aku masih menatap rangkaian aksara yang berjejer rapih di layar, dengan cucuran air mata yang enggan kuhapus. Entah apa yang kutangisi, yang jelas, aku merasa benar-benar kehilangan aku.
Aku merindukan pria itu, pria yang sedang terbaring lemas di rumah sakit dengan selang infus di tangan kanannya. Terakhir kudapat kabarnya, dia masih lemas, suhu tubuhnya 38 derajat celcius, dan matanya bengkak karena setahuku dia alergi obat. Aku lemas dibuatnya.
Tapi kabar baiknya, dia sudah bisa tertawa, walau belum bisa mengabariku.
Entah aku ini yang terlalu murahan dan suka berharap, atau apalah.
Entah apa aku ini.
Tapi, kau mau tahu? Aku sudah menjadikan pria itu sebagai cita-cita rahasiaku.
Biarlah dia menganggapku ini apa.
Aku hanya menginginkan lengannya yang kokoh itu selalu ada di sampingku ketika aku butuh tempat untuk bersandar.
Aku hanya menginginkan tangannya yang kuat itu selalu menggengam erat jemariku ketika aku butuh tempat untuk berlindung.
Aku hanya menginginkan senyuman itu, bibir merah yang belum terjamah asap sampahan yang bahkan aku sendiri pernah menghisapnya.
Aku hanya menginginkan kehadirannya, sosok yang sungguh aku idamkan ketika aku ingin memeluknya.
Sebut saja aku ini tak tahu diri, mencita-citakan dia yang bahkan terlalu jauh, dalam segala hal.
Untuk menatap matanya secara langsungpun aku harus memesan tiket pesawat menuju Pulau Dewata. Kau tahu, tempat indah itu bukanlah surga yang dapat dengan mudah kujangkau.
Aku mencita-citakan dirinya bukan sebagai tempat persinggahan kisahku,
aku memimpikan dirinya sebagai rumahku kelak, pelabuhan terakhirku.
Semoga.

Sekarang itu dulu.

Dulu kita saling mencari, sampai akhirnya sekarang kita saling mengabaikan.
Dulu kita saling menemukan, sampai akhirnya sekarang kita saling menghilangkan.
Dulu kita saling membanggakan, sampai akhirnya sekarang kita saling menjatuhkan.
Dulu kita saling membahagiakan, sampai akhirnya sekarang kita saling mengecewakan.
Dulu kita saling memuji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghina.
Dulu kita saling berjanji, sampai akhirnya sekarang kita saling menghianati.
Dulu kita saling berharap, sampai akhirnya sekarang kita saling berputus-asa.
Dulu kita saling menjaga, sampai akhirnya sekarang saling merusak.
Dulu kita saling mencintai, sampai akhirnya sekarang kita saling membenci.

Friday, July 13, 2012

Sang Capricorn - Kambing gunung yang tergelincir.

Lamunanku buyar. Tiba-tiba aku memutuskan untuk menghentikan nafasku selama 3 detik. Mataku terbelalak menatap kepada satu arah.
Kamu.
Dengan senyum yang terlalu indah bahkan redupnya hatikupun berhasil kau terangkan.
Dengan semilir angin di siang itu yang berhasil terhembus bersama langkahmu.

"Ah, cinta lama..."
Aku melukis senyum simpul dibibirku, sambil menatap ke arah jendela yang penuh dengan bulir-bulir air hujan sore itu.
Menyaksikan pemandangan indah di luar kafetaria ini sangatlah menyenangkan. Bagaimana orang-orang di luar sana sibuk menghindari hujaman air hujan yang tak henti terjun ke Bumi, bagaimana wajah-wajah mereka basah dan menggigil, bagaimana kendaraan-kendaraan itu melaju dengan tergesa-gesa agar segera menemukan tempat untuk berteduh, bagaimana mereka menutup kepala mereka dengan tangan mereka sendiri dan berharap air hujan tak akan menyusup melalui jari-jari mereka...
Ah, hujan memang selalu menggambarkan suasana hatiku.

Masih teringat jelas bagaimana sang kambing gunung itu mengajarkan aku banyak hal. Sebagai Capricorn, sifatnya yang pantang menyerah seolah menunjukkan bagaimana dia begitu pernah menginginkan aku dalam hidupnya. Bagaimana dia berusaha untuk mendapatkan aku, bagaimana dia membutuhkan aku, walau sebenarnya tidak sama sekali. Caranya memimpin kehidupannya sendiri, bagaimana dia membawa semua hidupnya menuju puncak, bagai sang kambing jantan yang mendaki bukit batu itu tanpa ragu, melangkah dari pijakan ke pijakan lain dengan mantap. Aku jatuh cinta padanya.


Mengingat kembali semasa dulu, bagaimana dia benar-benar mengajarkan aku untuk mandiri, untuk tidak manja dan lemah. Dia membawaku masuk ke dalam hidupnya. Tapi satu-satunya yang aku benci dari dirimu hanyalah wanitamu. Bagaimana dia yang jauh lebih baik dibanding aku selalu kau nomorsatukan, aku kalah, kuakui. Dalam benakku, aku punya cita-cita untuk mengalahkan dia, menyingkirkannya dan menggantikan posisinya dengan diriku. Aku berhasil, tapi hanya untuk beberapa detik di dalam setiap menitmu.

Sebagai Capricorn, kau selalu berhasil menjadi tanduk bagi tubuhmu, menancapkan kaki-kaki mu di jalan bebatuan yang tajam, tanpa ragu. Kau selalu mampu menjadi pemimpin bagi banyak orang di belakangmu, kau terdepan, dan terkadang kau enggan mundur.

Aku ingat bagaimana kau mengatur jam tayangmu, agar gadismu tak mencium busuk dari luka di punggungmu. Dan akulah luka itu.

Aku menggerogoti ragamu, dengan cintaku. Dengan segala cinta yang aku miliki, aku berhasil merapuhkan tegaknya kedua pasang kaki kambingmu, hingga kau rubuh. Dengan segala egoku untuk memilikimu, aku berhasil membuat gadismu meninggalkanmu...

Dan kini, kaupun meninggalkanku dengan luka yang membekas di hatiku, luka yang bahkan enggan hilang, luka yang hanya bisa kututupi dengan tutur, namun pada akhirnya, mereka akan melihat korengku.

Terima kasih.