Aku baru saja memejamkan mataku sebelum aku mendengar suara pintu terbuka. Terdengar langkah kaki masuk menuju ke ruang tamu, satu-satunya ruangan dengan tempat duduk panjang di kontrakan ini. Kulihat jam dinding yang menunjukan pukul 2 pagi. Akupun bangkit dari tempat tidurku untuk menghampiri sesorang yang baru saja pulang.
"Ibu lembur lagi?" tanyaku sambil mengusap mataku yang sayu.
Kulihat ibu terkejut mendapatiku belum tidur. Dia tersenyum lirih sambil melepas sepatu hak tingginya. Wajahnya letih habis digerogoti hari, sudah dua bulan terakhir dia bilang pekerjaannya menumpuk. Sejak ayah pergi, ibu harus kerja dua kali lipat dari biasanya. Dan rumah kamipun mengecil ratusan kali lipat dari sebelumnya.
"Kamu belum tidur, nak?" tanya ibu.
Aku menggeleng. Semenjak kami pindah dari rumah yang lama, ibu harus berbagi tempat tidur denganku. Dan aku tak pernah bisa tidur sebelum ibu pulang.
Akhir-akhir ini ibu terlihat berbeda, ia lebih mencolok dari biasanya. Dulu, sewaktu ayah masih sudi tinggal dengan kami, ibu tidak pernah memoles bibir tipisnya dengan lipstik merah menyala. Hanya bedak tipis dan sedikit polesan di kelopak matanya, sesederhana itu. Aroma tubuhnya sangat menyengat, seperti bau orang-orang malam dan bau asap rokok.
Ibu mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. Aku menatap dengan penasaran dari ujung ruangan, menyaksikan ibu mengeluarkan lembaran-lembaran uang pecahan Rp. 100. 000,- dan terus menghitungnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya terlihat sedih. Lalu dia menatapku sambil menghela napas.
"Besok adek jangan lupa bayar buku paket ya. Ibu mau mandi dulu, adek tidur sana," katanya sambil bersandar.
Aku bergeming. Memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang mencoba mendobrak keluar dari bibirku.
"Oh iya, bu. Tadi ada orang datang kesini, katanya cari ibu,"
"Siapa? Rentenir? Apa Bu RT? Kan pancinya udah ibu bayar tempo hari," tanyanya penasaran.
"Bukan kok, bu. Namanya Om Darwis. Katanya mau ketemu ibu. Aku bilang ibu kerja. Terus. . ."
"Terus apa, nak?"
"Terus dia bilang aku cantik, bu. Mirip ibu. Katanya kalo aku udah gede, nanti aku bisa cari duit gampang kayak ibu," jawabku dengan nada datar.
"Tapi dia nggak sentuh kamu sedikitpun kan, nak?" tanyanya lagi, dengan wajah sedikit panik.
Aku menggeleng dengan cepat. Ibu terdiam. Matanya tepejam sebentar kemudian menatap ke arahku lagi. Kulihat matanya memerah dan berair.
"Bu. . ."
"Kamu tidur sekarang. Ibu capek," jawabnya singkat sambil menatap ke arah tembok yang menguning dimakan usia.
Aku menurut. Tanpa basa-basi kuambil langkah cepat ke kasur dan loncat memeluk guling usangku. Sambil memejamkan mata, kulihat bayangan ayah muncul dalam gelap sambil berjalan menjauhi aku dan ibu, menggandeng wanita muda jelek itu yang mencuri kehidupan kami semua.
Lo nggak punya alasan lagi untuk nggak pede sama karya lo sendiri.
ReplyDelete