Wednesday, December 11, 2013

Purnama

Bola kuning raksasa di langit malam mulai memantulkan sinarnya. Kabut dingin dan gelap memeluknya dengan kaku, bergeser tertiup angin sedikit demi sedikit. Terlalu sunyi sampai kau bisa dengar nyanyian para jangkrik atau dengkuran burung hantu yang siap berburu.

Akupun bangkit, tubuhku menegak, dan pikiranku tak fokus. Aku mencoba untuk tenang, tapi aku malah tegang. Mataku menyerngit dan hidungku mulai mengendus sesuatu yang bahkan tak berbau. Aku harus pergi sekarang juga.

Kulihat gadis kecil itu sudah tertidur pulas di dipan gubuk kecil itu. Ia tampak kelelahan setelah kejadian sore tadi. Tubuhnya lemas, wajahnya lusuh seolah baru saja dikejar hantu. Untung saja sore tadi sempat kuselamatkan dia dari begundal-begundal bajingan itu di tengah hutan. Tapi aku harus meninggalkannya sebelum ia melihatku berubah.

Dengan langkah jinjit aku keluar dari gubuk itu dan segera menuju tengah hutan, mencari tempat persembunyian teraman dan terdekat dengan sang purnama. Rambut-rambut kasar dan gelap mulai tumbuh dari kulitku. Wajahku mulai berubah, moncong dan telinga lebarku mulai muncul, diikuti dengan taring-taring dan kuku-kuku tajam yang sangar.

Aku tak pernah bisa menghindari semua ini, perubahan wujudku di setiap malam purnama. Tapi aku menikmatinya, menjadi diriku seutuhnya, menjadi bagian dari para serigala malam. Akupun tiba di puncak bukit, sendiri, dan berdiri setengah tegak. Bulan purnama tepat di atas kepalaku, seolah ia menatapku balik. Aku mengeluarkan suara khas anjing pelolong malamku, saling bersahutan dengan anjing-anjing lain yang entah ada dimana.

Malam itu, aku menjadi diriku yang lain, mencari daging segar agar segera bisa kembali menjadi manusia esok hari.

No comments:

Post a Comment