"Bang! Gawat ini, bang!" Seru pria muda itu kepada Tigor.
"Ah! Tak usah berisik lah, kau! Kau kemanakan memang gadis itu?" Jawab Tigor sambil menggerogoti tusuk giginya.
"Sudah kubawa dia ke tempat yang abang suruh lah, bang. Tapi bang, kalau ada orang yang lihat, bagaimana ini? Bisa matilah kita!"
"Diamlah, kau! Lama-lama kau dan mulut kau yang berisik itu ikut kubuang ke kali!" ancam Tigor sambil mendorong pria itu menjauh.
Lalu Tigor menghampiri meja kecil di tengah ruangan, mengambil botol minuman kaca yang setengah penuh, dan menenggak isinya dengan serakah. Bulir-bulir tetesan bir menetes dari ujung bibirnya yang hitam terbakar rokok.
Pria muda itu masih tak tenang, nyawanya terancam, antara mati di tiang gantung, atau mati di tangan bosnya. Tubuhnya masih bau amis darah bekas kemarin malam. Pikirannya kacau, tak tenang karena penuh dosa. Lalu muncul bayangan emaknya di kampung yang ingin anaknya menjadi orang baik. Diikuti dengan bayangan bapak yang selalu mengajarkannya menjadi anak soleh.
Tak ada lagi yang bisa dia perbuat untuk menebus dosanya malam itu. Lalu dia ingat bahwa ia membawa sesuatu di kantongnya, bosnya bilang bisa digunakan jika ada bahaya. Dan dia sedang berada dalam bahaya saat ini. Dia mulai meraba saku celananya, dan mengeluarkan pistol milik bosnya. Tangannya gemetar, ragu, dan mengarah ke kepala Tigor.
Tigor menangkap bayangan anak buahnya dari ujung matanya. Hampir saja dia tersedak bir yang dia tenggak.
"Cok! Jangan aneh-aneh, kau! Turunkan pistol itu! Ucok!" seru Tigor panik, setengah mabuk.
"Maafkan aku, bang, tapi aku bukan pembunuh."
"Kalau gitu kenapa kau mau membunuhku? Aku ini abangmu, Cok! Jangan gila, kau!"
"Kalau kau memang abangku, kenapa kau suruh aku untuk membunuh Lastri?!"
Ucok setengah menangis dan menjerit. Urat-urat di kepalanya mulai terlihat seolah ingin meledak. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Air mata mulai keluar di ujung matanya. Terasa aneh baginya untuk menangis, karena menangis bukanlah hal yang pria lakukan, baginya.
"Ucok, ampun! Lemparkan pistol itu!"
"Maaf, bang," kata Ucok lirih, sambil menarik pelatuk pistolnya.
Dentuman tembakan itu menggema di gudang bekas itu. Disusul dengan suara pecahan botol bir sedetik setelahnya. Tigor ambruk seketika. Darah segar mengalir dari lubang di kepalanya, berasap seolah panas.
Lalu Ucok dengan tatapan dingin mengarahkan pistol itu ke arah pelipis kanannya. Bayangan emak di kampung muncul lagi, seolah memanggilnya untuk pulang.
Dengan hitungan detik, ia tersungkur di dekat Tigor. Dahinya membentur meja, dan kemudian menyentuh tanah. Ucok masih sempat merasakan napas terakhirnya sebelum akhirnya dia menyusul gadis yang ia buang bangkainya tadi subuh.
Monday, December 16, 2013
Thursday, December 12, 2013
Dialog Jam 2 Pagi
Aku baru saja memejamkan mataku sebelum aku mendengar suara pintu terbuka. Terdengar langkah kaki masuk menuju ke ruang tamu, satu-satunya ruangan dengan tempat duduk panjang di kontrakan ini. Kulihat jam dinding yang menunjukan pukul 2 pagi. Akupun bangkit dari tempat tidurku untuk menghampiri sesorang yang baru saja pulang.
"Ibu lembur lagi?" tanyaku sambil mengusap mataku yang sayu.
Kulihat ibu terkejut mendapatiku belum tidur. Dia tersenyum lirih sambil melepas sepatu hak tingginya. Wajahnya letih habis digerogoti hari, sudah dua bulan terakhir dia bilang pekerjaannya menumpuk. Sejak ayah pergi, ibu harus kerja dua kali lipat dari biasanya. Dan rumah kamipun mengecil ratusan kali lipat dari sebelumnya.
"Kamu belum tidur, nak?" tanya ibu.
Aku menggeleng. Semenjak kami pindah dari rumah yang lama, ibu harus berbagi tempat tidur denganku. Dan aku tak pernah bisa tidur sebelum ibu pulang.
Akhir-akhir ini ibu terlihat berbeda, ia lebih mencolok dari biasanya. Dulu, sewaktu ayah masih sudi tinggal dengan kami, ibu tidak pernah memoles bibir tipisnya dengan lipstik merah menyala. Hanya bedak tipis dan sedikit polesan di kelopak matanya, sesederhana itu. Aroma tubuhnya sangat menyengat, seperti bau orang-orang malam dan bau asap rokok.
Ibu mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. Aku menatap dengan penasaran dari ujung ruangan, menyaksikan ibu mengeluarkan lembaran-lembaran uang pecahan Rp. 100. 000,- dan terus menghitungnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya terlihat sedih. Lalu dia menatapku sambil menghela napas.
"Besok adek jangan lupa bayar buku paket ya. Ibu mau mandi dulu, adek tidur sana," katanya sambil bersandar.
Aku bergeming. Memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang mencoba mendobrak keluar dari bibirku.
"Oh iya, bu. Tadi ada orang datang kesini, katanya cari ibu,"
"Siapa? Rentenir? Apa Bu RT? Kan pancinya udah ibu bayar tempo hari," tanyanya penasaran.
"Bukan kok, bu. Namanya Om Darwis. Katanya mau ketemu ibu. Aku bilang ibu kerja. Terus. . ."
"Terus apa, nak?"
"Terus dia bilang aku cantik, bu. Mirip ibu. Katanya kalo aku udah gede, nanti aku bisa cari duit gampang kayak ibu," jawabku dengan nada datar.
"Tapi dia nggak sentuh kamu sedikitpun kan, nak?" tanyanya lagi, dengan wajah sedikit panik.
Aku menggeleng dengan cepat. Ibu terdiam. Matanya tepejam sebentar kemudian menatap ke arahku lagi. Kulihat matanya memerah dan berair.
"Bu. . ."
"Kamu tidur sekarang. Ibu capek," jawabnya singkat sambil menatap ke arah tembok yang menguning dimakan usia.
Aku menurut. Tanpa basa-basi kuambil langkah cepat ke kasur dan loncat memeluk guling usangku. Sambil memejamkan mata, kulihat bayangan ayah muncul dalam gelap sambil berjalan menjauhi aku dan ibu, menggandeng wanita muda jelek itu yang mencuri kehidupan kami semua.
"Ibu lembur lagi?" tanyaku sambil mengusap mataku yang sayu.
Kulihat ibu terkejut mendapatiku belum tidur. Dia tersenyum lirih sambil melepas sepatu hak tingginya. Wajahnya letih habis digerogoti hari, sudah dua bulan terakhir dia bilang pekerjaannya menumpuk. Sejak ayah pergi, ibu harus kerja dua kali lipat dari biasanya. Dan rumah kamipun mengecil ratusan kali lipat dari sebelumnya.
"Kamu belum tidur, nak?" tanya ibu.
Aku menggeleng. Semenjak kami pindah dari rumah yang lama, ibu harus berbagi tempat tidur denganku. Dan aku tak pernah bisa tidur sebelum ibu pulang.
Akhir-akhir ini ibu terlihat berbeda, ia lebih mencolok dari biasanya. Dulu, sewaktu ayah masih sudi tinggal dengan kami, ibu tidak pernah memoles bibir tipisnya dengan lipstik merah menyala. Hanya bedak tipis dan sedikit polesan di kelopak matanya, sesederhana itu. Aroma tubuhnya sangat menyengat, seperti bau orang-orang malam dan bau asap rokok.
Ibu mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. Aku menatap dengan penasaran dari ujung ruangan, menyaksikan ibu mengeluarkan lembaran-lembaran uang pecahan Rp. 100. 000,- dan terus menghitungnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya terlihat sedih. Lalu dia menatapku sambil menghela napas.
"Besok adek jangan lupa bayar buku paket ya. Ibu mau mandi dulu, adek tidur sana," katanya sambil bersandar.
Aku bergeming. Memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang mencoba mendobrak keluar dari bibirku.
"Oh iya, bu. Tadi ada orang datang kesini, katanya cari ibu,"
"Siapa? Rentenir? Apa Bu RT? Kan pancinya udah ibu bayar tempo hari," tanyanya penasaran.
"Bukan kok, bu. Namanya Om Darwis. Katanya mau ketemu ibu. Aku bilang ibu kerja. Terus. . ."
"Terus apa, nak?"
"Terus dia bilang aku cantik, bu. Mirip ibu. Katanya kalo aku udah gede, nanti aku bisa cari duit gampang kayak ibu," jawabku dengan nada datar.
"Tapi dia nggak sentuh kamu sedikitpun kan, nak?" tanyanya lagi, dengan wajah sedikit panik.
Aku menggeleng dengan cepat. Ibu terdiam. Matanya tepejam sebentar kemudian menatap ke arahku lagi. Kulihat matanya memerah dan berair.
"Bu. . ."
"Kamu tidur sekarang. Ibu capek," jawabnya singkat sambil menatap ke arah tembok yang menguning dimakan usia.
Aku menurut. Tanpa basa-basi kuambil langkah cepat ke kasur dan loncat memeluk guling usangku. Sambil memejamkan mata, kulihat bayangan ayah muncul dalam gelap sambil berjalan menjauhi aku dan ibu, menggandeng wanita muda jelek itu yang mencuri kehidupan kami semua.
Wednesday, December 11, 2013
Purnama
Bola kuning raksasa di langit malam mulai memantulkan sinarnya. Kabut dingin dan gelap memeluknya dengan kaku, bergeser tertiup angin sedikit demi sedikit. Terlalu sunyi sampai kau bisa dengar nyanyian para jangkrik atau dengkuran burung hantu yang siap berburu.
Akupun bangkit, tubuhku menegak, dan pikiranku tak fokus. Aku mencoba untuk tenang, tapi aku malah tegang. Mataku menyerngit dan hidungku mulai mengendus sesuatu yang bahkan tak berbau. Aku harus pergi sekarang juga.
Kulihat gadis kecil itu sudah tertidur pulas di dipan gubuk kecil itu. Ia tampak kelelahan setelah kejadian sore tadi. Tubuhnya lemas, wajahnya lusuh seolah baru saja dikejar hantu. Untung saja sore tadi sempat kuselamatkan dia dari begundal-begundal bajingan itu di tengah hutan. Tapi aku harus meninggalkannya sebelum ia melihatku berubah.
Dengan langkah jinjit aku keluar dari gubuk itu dan segera menuju tengah hutan, mencari tempat persembunyian teraman dan terdekat dengan sang purnama. Rambut-rambut kasar dan gelap mulai tumbuh dari kulitku. Wajahku mulai berubah, moncong dan telinga lebarku mulai muncul, diikuti dengan taring-taring dan kuku-kuku tajam yang sangar.
Aku tak pernah bisa menghindari semua ini, perubahan wujudku di setiap malam purnama. Tapi aku menikmatinya, menjadi diriku seutuhnya, menjadi bagian dari para serigala malam. Akupun tiba di puncak bukit, sendiri, dan berdiri setengah tegak. Bulan purnama tepat di atas kepalaku, seolah ia menatapku balik. Aku mengeluarkan suara khas anjing pelolong malamku, saling bersahutan dengan anjing-anjing lain yang entah ada dimana.
Malam itu, aku menjadi diriku yang lain, mencari daging segar agar segera bisa kembali menjadi manusia esok hari.
Akupun bangkit, tubuhku menegak, dan pikiranku tak fokus. Aku mencoba untuk tenang, tapi aku malah tegang. Mataku menyerngit dan hidungku mulai mengendus sesuatu yang bahkan tak berbau. Aku harus pergi sekarang juga.
Kulihat gadis kecil itu sudah tertidur pulas di dipan gubuk kecil itu. Ia tampak kelelahan setelah kejadian sore tadi. Tubuhnya lemas, wajahnya lusuh seolah baru saja dikejar hantu. Untung saja sore tadi sempat kuselamatkan dia dari begundal-begundal bajingan itu di tengah hutan. Tapi aku harus meninggalkannya sebelum ia melihatku berubah.
Dengan langkah jinjit aku keluar dari gubuk itu dan segera menuju tengah hutan, mencari tempat persembunyian teraman dan terdekat dengan sang purnama. Rambut-rambut kasar dan gelap mulai tumbuh dari kulitku. Wajahku mulai berubah, moncong dan telinga lebarku mulai muncul, diikuti dengan taring-taring dan kuku-kuku tajam yang sangar.
Aku tak pernah bisa menghindari semua ini, perubahan wujudku di setiap malam purnama. Tapi aku menikmatinya, menjadi diriku seutuhnya, menjadi bagian dari para serigala malam. Akupun tiba di puncak bukit, sendiri, dan berdiri setengah tegak. Bulan purnama tepat di atas kepalaku, seolah ia menatapku balik. Aku mengeluarkan suara khas anjing pelolong malamku, saling bersahutan dengan anjing-anjing lain yang entah ada dimana.
Malam itu, aku menjadi diriku yang lain, mencari daging segar agar segera bisa kembali menjadi manusia esok hari.
Sunday, November 17, 2013
Rindu Yang Tanpa Obat
Dia datang dengan kedua lengan kokoh yang merindukan pelukan.
Dengan senyum hangat yang kedinginan, dia menatapku. "Oh, akhirnya aku menemukanmu!"
Lalu dia memujiku. Memuji segala ketidaksempurnaanku, seolah aku terlalu indah baginya. Entah dia bersungguh-sungguh, atau itu hanyalah dia yang terlalu baik. Dia tak pernah berhenti menyentuhku dengan pujian, tak akan pernah. Sampai akhirnya aku meragu.
Aku takut bahwa kenyataannya kejujuran bukalah hal mulia baginya. Aku takut bukan aku yang tunggal menetap. Aku takut kalau dia... Akan pergi kemudian setelah aku terjatuh pada nyanyiannya. Dan aku takut pada ketakutanku sediri yang hanya akan menakutinya.
Tapi kemudian segalanya tentang dia menjadi segalanya bagiku. Dia datang, dia pergi semaunya. Tidak. Itu bukan maunya. Maunya dia, tetap bersamaku tertawa karena film komedi. Maunya dia, tidak pernah merindukanku. Dia memang harus pergi untuk kemudian kembali. Dia harus pergi untuk merajut mimpi-mimpinya yang masih sepotong lagi membentuk masa depan. Dengan yakin ia menawarkan aku harapan, harapan bahwa ia akan segera pulang.
Kadang aku meragu, kadang aku teguh. Kadang dia menjadi mimpi buruk di tidur siangku, kadang dia menjadi teh manis hangat di tengah malam yang dingin. Dia mampu membuatku belajar, bahwa tak semuanya mudah, bahwa tak segalanya secepat itu.
Malam-malam dingin penuh tangis kesepian. Tanpa kabar. Aku akan terduduk lesu menatap ke arah pintu, berharap ia akan tiba-tiba berada di sana, tersenyum lebar sambil bersorak, "Kejutan, sayangku!" Lalu aku menatap ke arah tempat duduk di sampingku, yang seharusnya ada dia. Ke ruang kosong di kasurku, yang seharusnya ada mata cokelatnya yang teduh.
Terlalu sering baginya mendengar tangisanku dari sini hanya karena aku merasa tak sanggup. Terlalu sering baginya untuk meyakinkanku bahwa segalanya tak seburuk itu, bahwa ia akan pulang, dan akan membuatku tersenyum lagi, karena senyumku membuatnya tersenyum. Bahwa jarak tak akan selamanya menjadi musuh bagi kami. Karena akan ada masanya akhirnya kami bersatu, dan dia akan mendengarkan ocehanku tiap hari hingga terlelap, di dalam tempat teduh bernama rumah.
Lalu dia pergi lagi, untuk waktu yang lama, sampai akhirnya dia menemukanku menunggu di balik pintu, untuk menyambutnya kembali dengan peluk.
Tuesday, June 18, 2013
Kutub
Catatan pribadi.
Setelah sekian lama saya mengabaikan halaman ini, tetiba saya teringat kalau saya masih bisa menuangkan pikiran saya di sini. Akhir-akhir ini saya sudah mulai mengasingkan diri untuk terlalu jujur kepada dunia maya, dan mencoba menahan dengan menutup mulut. Terlebih lagi setelah saya sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan ujian akhir yang membabibuta, saya jadi semakin mudah teralihkan. Sampai suatu saat saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca daripada menulis, dan mencoba untuk banyak mendengarkan dan sedikit berbicara.
Saya ingin menjadi lebih dewasa. Setelah saya bertemu banyak orang dari belahan bumi lain dan berbagi banyak cerita dan pikiran, ternyata masih ada banyak hal yang saya belum tahu dan harus saya pelajari. Dan setelahnya saya tersadar, bahwa saya harus bergerak untuk meraih apa yang saya idamkan dalam hidup. Terlalu banyak cita-cita, terlalu sedikit pergerakan. Itulah saya. Berangan setinggi-tingginya dan lupa bahwa saya masih di Bumi, di tempat yang sama dan tidak bergerak kemanapun.
Hal yang akhir-akhir ini menjadi kerak di pikiran saya adalah, mau jadi apa setelah ini? Lalu saya berpikir bahwa belajar bukan hanya menerima apa yang diajarkan dosen, tetapi mencoba, gagal dan kemudian paham bahwa ketika saya gagal, disitulah lubang yang harus saya hindari lain kali. Jadi saya berpikir keras untuk mendapat apa yang saya impikan, berusaha dan bukan hanya sekedar lihat "bagaimana nanti" tapi berpikir untuk "nanti bagaimana".
Saya sudah berkali-kali kecewa karena terlalu banyak berkespektasi tanpa ada usaha yang berarti. Jadi mulai sekarang, saya akan coba untuk lebih banyak mencoba dan tidak terlalu berharap, daripada terlalu banyak bermimpi tapi lupa untuk bangun. Orang-orang mengajarkan saya untuk tetap berpikir positif, dan seseorang pernah berkata bahwa berpikir negatiflah yang menyelamatkan kita. Dan yang saya simpulkan adalah bahwa terlalu banyak berpikir positif justru akan menjadi jebakan bagi diri sendiri, tetapi mencoba optimis seharusnya menjadi pecut bagi diri sendiri untuk bergerak, bukan berangan dan kemudian mati karena kecewa.
Setelah sekian lama saya mengabaikan halaman ini, tetiba saya teringat kalau saya masih bisa menuangkan pikiran saya di sini. Akhir-akhir ini saya sudah mulai mengasingkan diri untuk terlalu jujur kepada dunia maya, dan mencoba menahan dengan menutup mulut. Terlebih lagi setelah saya sibuk dengan tugas-tugas kuliah dan ujian akhir yang membabibuta, saya jadi semakin mudah teralihkan. Sampai suatu saat saya menghabiskan lebih banyak waktu untuk membaca daripada menulis, dan mencoba untuk banyak mendengarkan dan sedikit berbicara.
Saya ingin menjadi lebih dewasa. Setelah saya bertemu banyak orang dari belahan bumi lain dan berbagi banyak cerita dan pikiran, ternyata masih ada banyak hal yang saya belum tahu dan harus saya pelajari. Dan setelahnya saya tersadar, bahwa saya harus bergerak untuk meraih apa yang saya idamkan dalam hidup. Terlalu banyak cita-cita, terlalu sedikit pergerakan. Itulah saya. Berangan setinggi-tingginya dan lupa bahwa saya masih di Bumi, di tempat yang sama dan tidak bergerak kemanapun.
Hal yang akhir-akhir ini menjadi kerak di pikiran saya adalah, mau jadi apa setelah ini? Lalu saya berpikir bahwa belajar bukan hanya menerima apa yang diajarkan dosen, tetapi mencoba, gagal dan kemudian paham bahwa ketika saya gagal, disitulah lubang yang harus saya hindari lain kali. Jadi saya berpikir keras untuk mendapat apa yang saya impikan, berusaha dan bukan hanya sekedar lihat "bagaimana nanti" tapi berpikir untuk "nanti bagaimana".
Saya sudah berkali-kali kecewa karena terlalu banyak berkespektasi tanpa ada usaha yang berarti. Jadi mulai sekarang, saya akan coba untuk lebih banyak mencoba dan tidak terlalu berharap, daripada terlalu banyak bermimpi tapi lupa untuk bangun. Orang-orang mengajarkan saya untuk tetap berpikir positif, dan seseorang pernah berkata bahwa berpikir negatiflah yang menyelamatkan kita. Dan yang saya simpulkan adalah bahwa terlalu banyak berpikir positif justru akan menjadi jebakan bagi diri sendiri, tetapi mencoba optimis seharusnya menjadi pecut bagi diri sendiri untuk bergerak, bukan berangan dan kemudian mati karena kecewa.
Wednesday, March 20, 2013
Sarjana
Catatan pribadi.
Setidaknya ada yang saya bawa pulang sore ini, setidaknya saya pulang tidak dengan kepala kosong. Pergi pagi dibawa arus jalanan, menguras otak seharian dan kembali mengalir bersama arus jalanan kota. Paling tidak saya menjalankannya tidak dengan sia-sia.
Saya ingin apa yang sedang saya jalankan dalam hidup saya pada nantinya akan mebuahkan hasil, bukan bertahun-tahun kuliah, menjadi sarjana dengan ijazah, tapi moral yang bobrok. Yang selalu saya tanamkan pada diri saya sejak dulu adalah jangan sampai nantinya saya menjadi sosok yang serakah dan durhaka kepada orang lain dan diri sendiri.
Jangan sampai saya menjadi hebat tanpa rendah diri, jangan sampai saya menjadi kaya tanpa berbagi, jangan sampai apa yang menjadi tujuan saya dalam hidup hanyalah mengambil, mengambil, mengambil, bukan memberi.
Setidaknya ada yang saya bawa pulang sore ini, setidaknya saya pulang tidak dengan kepala kosong. Pergi pagi dibawa arus jalanan, menguras otak seharian dan kembali mengalir bersama arus jalanan kota. Paling tidak saya menjalankannya tidak dengan sia-sia.
Saya ingin apa yang sedang saya jalankan dalam hidup saya pada nantinya akan mebuahkan hasil, bukan bertahun-tahun kuliah, menjadi sarjana dengan ijazah, tapi moral yang bobrok. Yang selalu saya tanamkan pada diri saya sejak dulu adalah jangan sampai nantinya saya menjadi sosok yang serakah dan durhaka kepada orang lain dan diri sendiri.
Jangan sampai saya menjadi hebat tanpa rendah diri, jangan sampai saya menjadi kaya tanpa berbagi, jangan sampai apa yang menjadi tujuan saya dalam hidup hanyalah mengambil, mengambil, mengambil, bukan memberi.
Tuesday, March 19, 2013
Apa?
Catatan pribadi.
Sore ini saya pulang tidak secepat biasanya. Biasanya saya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kampus ke rumah. Tapi tadi, hampir memakan dua jam waktu perjalanan untuk sampai ke rumah.
Saya mengurangi tarikan gas saya, tidak seperti biasanya--sedikit bersantai--menikmati apa yang bisa saya nikmati dalam perjalanan saya.
Jalan raya, rel kereta, pasar, kawasan industri, stasiun, pemukiman kumuh, hingga pemakaman. Namun pada akhirnya, tujuan saya pulang hanya satu: rumah.
Selama hampir dua jam di jalan, pikiran saya berbicara pada batin saya.
Saya sudah bukan lagi remaja berumur 15 tahun, tapi juga belum menjadi dewasa berumur 20 tahun.
Dan saya masih mencari, dan akan tetap mencari.
Baiklah. Setiap orang punya "bahagia"-nya masing-masing, bahkan saya sendiri masih belum menemukan apa arti bahagia bagi saya sendiri. Materi? Fisik? Ketenaran? Atau apa?
Ada bayak hal yang saya jadikan dalam daftar "bucket list" dalam hidup saya, jika pada akhirnya nanti saya mati setelah mewujudkan semuanya, apa saya bisa dikatakan bahagia? Atau jika nanti saya mati dan menyisakan salah satu atau bahkan semua impian saya yang belum terwujud, apa hidup saya berarti tidak bahagia?
Saya tidak mau gila. Tidak. Saya yakin saya tidak akan gila. Saya hanya ingin memaknai hidup saya, agar nantinya ketika saya mati, setidaknya saya bukan manusia yang sia-sia. Setidaknya nanti, saya meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi hidup saya dan orang lain. Setidaknya nanti, saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan sekedar memenangkan tujuan pribadi dan tak acuh terhadap orang lain.
Orang lain.
Orang-orang yang di luar dari diri saya sendiri. Orang-orang yang setiap harinya ada dalam hidup saya, atau yang bahkan tidak mengenal saya sama sekali. Orang-orang yang pada akhirnya akan menyukai atau membenci saya, atau mungkin tidak keduanya.
Saya tahu bahwa pada dasarnya setiap orang punya hak untuk menyukai dan membenci, disukai dan dibenci. Cukup adil.
Masalahnya ada pada bagaimana kita bersikap pada 'Orang lain', karena penilaian mereka adalah cerminan diri kita. Tunggu, atau mungkin tidak sama sekali.
Namun pada akhirnya, 'Orang lain' tidak akan pernah berhenti menilai saya, dan sayapun tidak akan berhenti melakukan yang sebaliknya terhadap 'Orang lain'. Cukup adil.
Jika akhirnya saya mencoba untuk menjadi baik kepada lingkungan dan ternyata saya tidak pantas untuk diterima, apa mungkin saya tidak cukup baik untuk menjadi 'baik'?
Jika saya tidak bisa menjadi baik terhadap lingkungan saya, apa berarti pada akhirnya hidup saya menjadi sia-sia?
Jika saya merasa tamak dan puas tentang apa yang saya cari, maka saya tidak akan menjadi 'Orang' yang bijaksana. Bijaksana bagi saya bukan orang yang paham betul tentang filosofi, atau tentang dunia. Bijaksana bagi saya adalah, setidaknya saya tahu apa yang selama ini saya cari, apa yang sedang saya perbuat, dan apa yang menjadi tanggung jawab saya.
Dan jika pada akhirnya saya mengetahui apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup saya, saya yakin saya tidak akan menjadi 'salah' terhadap diri sendiri.
Saya ingin menjadi 'orang' yang dewasa.
Dewasa bagi saya adalah hasil dari proses dalam hidup. Dewasa bukan soal umur, dewasa bagi saya adalah fase dimana pada akhirnya saya menjadi 'matang' dan siap bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Dan ini yang sedang saya coba terhadap diri saya. Mematangkan diri sendiri, tidak seenaknya terhadap orang lain, dan bukan berarti saya mencampuri urusan 'orang lain'.
Seseorang yang saya kenal pernah berkata dan bertanya pada saya dan dirinya sendiri, apakah yang selama ini dia lakukan dalam hidupnya adalah hal yang memang ia kehendaki untuk 'lakukan'? Atau hanya sekedar 'ketidaksengajaan' semata yang kemudian berlalu dan tidak membekas dalam hidupnya?
Dan itu yang sedang saya pertanyakan kepada diri saya sendiri. Saya tahu betul bahwa saya belum bisa mengendalikan emosi, ucapan, dan perbuatan saya sendiri. Namun jika pada akhirnya saya menyakiti lingkungan saya, itu yang akan saya sesalkan.
Saya ingin menjadi 'Orang' yang lebih baik. Bukan hanya hidup menjadi seonggok daging yang disebut manusia dan kemudian mati ditimbun tanah. Saya ingin menjadi lebih baik, berguna, dan bahagia.
Saya sedang belajar untuk menikmati hidup dengan cara saya sendiri, menghabiskan waktu lebih lama menjalani hal-hal yang saya sukai, bertemu keluarga dan teman-teman serta sahabat, mengerjakan tugas kuliah yang memang menjadi tanggung jawab saya sebagai mahasiswa, dan mengurangi waktu untuk mengetahui hal-hal yang pada dasarnya tidak perlu saya ketahui.
Dan menulis adalah salah satu cara saya untuk merasa senang, karena ketika melakukannya, ada sebuah perasaan yang membuat saya merasa lega. Saya menulis bukan merupakan paksaan, bukan pula untuk mencari popularitas. Saya menulis bukan karena saya ingin membicarakan diri saya, saya menulis karena saya merasa saya perlu 'mencatat' apa yang sempat ada di pikiran serta benak saya, agar setidaknya bisa menjadi 'bacaan' kembali ketika saya 'lupa'.
Itu dulu.
Cukup panjang.
Sore ini saya pulang tidak secepat biasanya. Biasanya saya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kampus ke rumah. Tapi tadi, hampir memakan dua jam waktu perjalanan untuk sampai ke rumah.
Saya mengurangi tarikan gas saya, tidak seperti biasanya--sedikit bersantai--menikmati apa yang bisa saya nikmati dalam perjalanan saya.
Jalan raya, rel kereta, pasar, kawasan industri, stasiun, pemukiman kumuh, hingga pemakaman. Namun pada akhirnya, tujuan saya pulang hanya satu: rumah.
Selama hampir dua jam di jalan, pikiran saya berbicara pada batin saya.
Sebenarnya, mau kemana?Dan pertanyaan itu terus berputar dalam diri saya.
Kemana tujuan hidup saya?
Kemana?
Saya ini apa?Entah karena pengaruh mata kuliah semester ini: Sejarah Pemikiran Modern atau bukan (walau saya yakin ini tidak ada hubungannya sam sekali), tapi itu yang sedang saya pertanyakaan. Setidaknya untuk saat ini.
Ya apa?
Apa?
Saya sudah bukan lagi remaja berumur 15 tahun, tapi juga belum menjadi dewasa berumur 20 tahun.
Dan saya masih mencari, dan akan tetap mencari.
Sebenarnya apa yang saya cari?Bahagia.
Apa tujuan hidup saya?
Apa?
Baiklah. Setiap orang punya "bahagia"-nya masing-masing, bahkan saya sendiri masih belum menemukan apa arti bahagia bagi saya sendiri. Materi? Fisik? Ketenaran? Atau apa?
Ada bayak hal yang saya jadikan dalam daftar "bucket list" dalam hidup saya, jika pada akhirnya nanti saya mati setelah mewujudkan semuanya, apa saya bisa dikatakan bahagia? Atau jika nanti saya mati dan menyisakan salah satu atau bahkan semua impian saya yang belum terwujud, apa hidup saya berarti tidak bahagia?
Saya tidak mau gila. Tidak. Saya yakin saya tidak akan gila. Saya hanya ingin memaknai hidup saya, agar nantinya ketika saya mati, setidaknya saya bukan manusia yang sia-sia. Setidaknya nanti, saya meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi hidup saya dan orang lain. Setidaknya nanti, saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan sekedar memenangkan tujuan pribadi dan tak acuh terhadap orang lain.
Orang lain.
Orang-orang yang di luar dari diri saya sendiri. Orang-orang yang setiap harinya ada dalam hidup saya, atau yang bahkan tidak mengenal saya sama sekali. Orang-orang yang pada akhirnya akan menyukai atau membenci saya, atau mungkin tidak keduanya.
Saya tahu bahwa pada dasarnya setiap orang punya hak untuk menyukai dan membenci, disukai dan dibenci. Cukup adil.
Masalahnya ada pada bagaimana kita bersikap pada 'Orang lain', karena penilaian mereka adalah cerminan diri kita. Tunggu, atau mungkin tidak sama sekali.
Namun pada akhirnya, 'Orang lain' tidak akan pernah berhenti menilai saya, dan sayapun tidak akan berhenti melakukan yang sebaliknya terhadap 'Orang lain'. Cukup adil.
Jika akhirnya saya mencoba untuk menjadi baik kepada lingkungan dan ternyata saya tidak pantas untuk diterima, apa mungkin saya tidak cukup baik untuk menjadi 'baik'?
Jika saya tidak bisa menjadi baik terhadap lingkungan saya, apa berarti pada akhirnya hidup saya menjadi sia-sia?
Jika saya merasa tamak dan puas tentang apa yang saya cari, maka saya tidak akan menjadi 'Orang' yang bijaksana. Bijaksana bagi saya bukan orang yang paham betul tentang filosofi, atau tentang dunia. Bijaksana bagi saya adalah, setidaknya saya tahu apa yang selama ini saya cari, apa yang sedang saya perbuat, dan apa yang menjadi tanggung jawab saya.
Dan jika pada akhirnya saya mengetahui apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup saya, saya yakin saya tidak akan menjadi 'salah' terhadap diri sendiri.
Saya ingin menjadi 'orang' yang dewasa.
Dewasa bagi saya adalah hasil dari proses dalam hidup. Dewasa bukan soal umur, dewasa bagi saya adalah fase dimana pada akhirnya saya menjadi 'matang' dan siap bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Dan ini yang sedang saya coba terhadap diri saya. Mematangkan diri sendiri, tidak seenaknya terhadap orang lain, dan bukan berarti saya mencampuri urusan 'orang lain'.
Seseorang yang saya kenal pernah berkata dan bertanya pada saya dan dirinya sendiri, apakah yang selama ini dia lakukan dalam hidupnya adalah hal yang memang ia kehendaki untuk 'lakukan'? Atau hanya sekedar 'ketidaksengajaan' semata yang kemudian berlalu dan tidak membekas dalam hidupnya?
Dan itu yang sedang saya pertanyakan kepada diri saya sendiri. Saya tahu betul bahwa saya belum bisa mengendalikan emosi, ucapan, dan perbuatan saya sendiri. Namun jika pada akhirnya saya menyakiti lingkungan saya, itu yang akan saya sesalkan.
Saya ingin menjadi 'Orang' yang lebih baik. Bukan hanya hidup menjadi seonggok daging yang disebut manusia dan kemudian mati ditimbun tanah. Saya ingin menjadi lebih baik, berguna, dan bahagia.
Saya sedang belajar untuk menikmati hidup dengan cara saya sendiri, menghabiskan waktu lebih lama menjalani hal-hal yang saya sukai, bertemu keluarga dan teman-teman serta sahabat, mengerjakan tugas kuliah yang memang menjadi tanggung jawab saya sebagai mahasiswa, dan mengurangi waktu untuk mengetahui hal-hal yang pada dasarnya tidak perlu saya ketahui.
Dan menulis adalah salah satu cara saya untuk merasa senang, karena ketika melakukannya, ada sebuah perasaan yang membuat saya merasa lega. Saya menulis bukan merupakan paksaan, bukan pula untuk mencari popularitas. Saya menulis bukan karena saya ingin membicarakan diri saya, saya menulis karena saya merasa saya perlu 'mencatat' apa yang sempat ada di pikiran serta benak saya, agar setidaknya bisa menjadi 'bacaan' kembali ketika saya 'lupa'.
Itu dulu.
Cukup panjang.
Sunday, March 17, 2013
Dada Yang Membusuk
Baru kali ini aku melihat air matanya meleleh, mengguyur deras pipinya yang memerah.
Bahkan tak aku lihat upayanya untuk menghapusnya.
Lututnya gemetar, seharunsya sudah sejak tadi tubuhnya runtuh.
Tapi tidak, dia masih berupaya untuk kokoh.
Dia memang selalu begitu.
Aku terus menatap lurus ke arahnya, dengan bibir terkatup, aku terus menerka apa yang akan terjadi.
Dia tetap bungkam.
Urat-urat di putih matanya mulai muncul.
Matanya memerah.
Dia mengerang, sambil menahan.
Aku tetap menatapnya diam, aku tetap dingin.
Dia mengutukku, dan terus mengutuk.
Membenciku sejadi-jadinya, dan aku tak terkejut akan hal itu.
Aku masih diam.
Tangan kanannya mencoba bergerak menyusuri punggungnya, lewat pundaknya.
Dan dia mendapatkannya.
Mataku mulai terbelalak, senyumku mulai menyungging manis.
Dia mencabut pisau itu, yang berlumuran darah segar, rasanya ingin sekali kujilat semuanya.
Dia melempar belati yang baru saja kutancapkan di belakang tubuhnya.
Dia terus meneriakkan kata-kata kotor, yang tidak sekotor perbuatanku.
Lalu semua ingatanku tentang apa yang pernah dia lakukan kembali berputar.
Ini seharusnya sepadan.
Tidak, ini belum seberapa. Aku bisa lebih parah dari pada ini.
Seharusnya.
Perlahan kusaksikan tubuhnya runtuh, dengan posisi setengah sujud, ribuan bulir keringat menyentuh Bumi.
Lalu mati.
Dan aku pun pergi dengan bahagia.
Tuesday, January 15, 2013
Bayangan Di Seberang Jalan
Aku ingat kedua bola mata itu
Bulat, besar, tajam, mengarah kepadaku
Seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan
Kuat sekali, sungguh
Dan tanpa sengaja mataku menangkap pandangannya
Tak bisa terlepas, dan semakin melekat
Seolah ada sesuatu yang aku tangkap dari tatapannya
Kuat sekali, sungguh
Bulu kuduk disekujur tubuhku seketika merinding
Tak ada yang menyadari wanita diseberang sana
Hanya aku
Lalu aku kembali melirik ke wajah wanita itu
Aku melihatnya tersenyum, sangat lebar
Terlalu lebar, sampai melewati bingkai wajahnya
Bulat, besar, tajam, mengarah kepadaku
Seolah ada sesuatu yang ingin dia sampaikan
Kuat sekali, sungguh
Dan tanpa sengaja mataku menangkap pandangannya
Tak bisa terlepas, dan semakin melekat
Seolah ada sesuatu yang aku tangkap dari tatapannya
Kuat sekali, sungguh
Bulu kuduk disekujur tubuhku seketika merinding
Tak ada yang menyadari wanita diseberang sana
Hanya aku
Lalu aku kembali melirik ke wajah wanita itu
Aku melihatnya tersenyum, sangat lebar
Terlalu lebar, sampai melewati bingkai wajahnya
Tuesday, January 08, 2013
Siapalah Kau Pikir Dirimu
Hari ini ketenangan hatiku kau usik
Berani-beraninya kau datang lagi padaku, menjadi seperti biasa seolah tak ada yang pernah hilang diantara kita
Berani-beraninya kau datang lagi padaku, bertingkah seperti dulu seolah tak ada yang pernah berubah diantara kita
Berani-beraninya kau!
Lalu harus ku apakan lagi, perasaanku yang sempat memulih ini?
Ini bukan pertama kalinya kau menarik-ulur sesuatu yang mudah terputus
Sudah kesekian kalinya
Kau bermain dengan perasaanku
Perasaanku padamu yang sempat hilang ini malah kau hadirkan lagi
Hatiku yang sempat mati ini malah kau hidupkan lagi
Aku lelah harus melewati jalan yang sama berulang kali
Aku lelah harus sakit hati lagi dengan alasan yang sama berkali-kali
Aku lelah harus mengobati sakit hatiku untuk sekali lagi
Aku hanya lelah
Terlalu lelah
Berani-beraninya kau datang lagi padaku, menjadi seperti biasa seolah tak ada yang pernah hilang diantara kita
Berani-beraninya kau datang lagi padaku, bertingkah seperti dulu seolah tak ada yang pernah berubah diantara kita
Berani-beraninya kau!
Lalu harus ku apakan lagi, perasaanku yang sempat memulih ini?
Ini bukan pertama kalinya kau menarik-ulur sesuatu yang mudah terputus
Sudah kesekian kalinya
Kau bermain dengan perasaanku
Perasaanku padamu yang sempat hilang ini malah kau hadirkan lagi
Hatiku yang sempat mati ini malah kau hidupkan lagi
Aku lelah harus melewati jalan yang sama berulang kali
Aku lelah harus sakit hati lagi dengan alasan yang sama berkali-kali
Aku lelah harus mengobati sakit hatiku untuk sekali lagi
Aku hanya lelah
Terlalu lelah
Subscribe to:
Comments (Atom)