Bahkan tak aku lihat upayanya untuk menghapusnya.
Lututnya gemetar, seharunsya sudah sejak tadi tubuhnya runtuh.
Tapi tidak, dia masih berupaya untuk kokoh.
Dia memang selalu begitu.
Aku terus menatap lurus ke arahnya, dengan bibir terkatup, aku terus menerka apa yang akan terjadi.
Dia tetap bungkam.
Urat-urat di putih matanya mulai muncul.
Matanya memerah.
Dia mengerang, sambil menahan.
Aku tetap menatapnya diam, aku tetap dingin.
Dia mengutukku, dan terus mengutuk.
Membenciku sejadi-jadinya, dan aku tak terkejut akan hal itu.
Aku masih diam.
Tangan kanannya mencoba bergerak menyusuri punggungnya, lewat pundaknya.
Dan dia mendapatkannya.
Mataku mulai terbelalak, senyumku mulai menyungging manis.
Dia mencabut pisau itu, yang berlumuran darah segar, rasanya ingin sekali kujilat semuanya.
Dia melempar belati yang baru saja kutancapkan di belakang tubuhnya.
Dia terus meneriakkan kata-kata kotor, yang tidak sekotor perbuatanku.
Lalu semua ingatanku tentang apa yang pernah dia lakukan kembali berputar.
Ini seharusnya sepadan.
Tidak, ini belum seberapa. Aku bisa lebih parah dari pada ini.
Seharusnya.
Perlahan kusaksikan tubuhnya runtuh, dengan posisi setengah sujud, ribuan bulir keringat menyentuh Bumi.
Lalu mati.
Dan aku pun pergi dengan bahagia.
No comments:
Post a Comment