Sunday, October 14, 2012

Pria dengan Api Sedingin Salju Di Hatinya

Semudah itu baginya untuk berubah.
Mungkin dia itu kemarau di kutub, atau balok es yang membara.
Tak akan sulit baginya untuk mencintaimu disaat bahkan tak ada cinta di hatinya.
Dialah pria yang semudah itu akan menyakitimu tanpa rasa bersalah.
Lalu setelah kau menyadari kebodohanmu dia akan menyesal dan berjanji akan memperbaiki semuanya, termasuk hatimu yang telah dia hancurkan sendiri.
Meski kenyataannya, dia sedang mencoba mempermainkanmu lagi, bahkan lebih parah.
Meski kenyataannya, dia tak pernah benar-benar mencintaimu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk menghancurkanmu lagi, tanpa peduli bagaimana kau berusaha memperbaiki dirimu sendiri dahulu.
Bukanlah hal yang sulit baginya untuk mengacuhkanmu lagi, tanpa ada rasa untuk menoleh ke arahmu.
Jangan pernah sekalipun kau ingat lagi janji manisnya.
Dia hanya seorang pria, yang memang digariskan untuk sekeras itu melunakkan hati wanita yang mencoba mengeraskan hatinya sendiri, lalu menghancurkan hati wanitanya yang rapuh.
Meski berkali-kali dia katakan betapa dia mencintaimu.

Wednesday, October 10, 2012

Mungkin Di Kehidupan Yang Lain, Aku Ini Jodohmu.

Aku sedang dalam upayaku mendinginkan hatiku.
Menjadi sedingin malam yang terlalu tanpa cahaya.
Mungkin aku akan segelap itu. Beku.
Kau sendiri yang meminta aku untuk mematikan lagi rasaku yang sempat kau hidupkan setelah mati suri, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk membuang lagi kepingan rinduku ini yang dulu kau pungut dari tempat sampah, bukan?
Kau sendiri yang meminta aku untuk menghancurkan lagi hatiku yang dulu kau perbaiki lagi setelah sempat kau rusak, bukan?
Kalau itu maumu, akan kucoba.
Mungkin pada sekian detik yang akan datang, setelah aku bahkan tak pernah bisa mengenal aroma tubuhmu lagi yang dulu selalu memeluk indera penciumanku, atau setelah aku bahkan tak pernah bisa mengerti arti tatapan kedua bola matamu lagi, kau akan menggandeng wanitamu yang dengan penuh bangga kau perkenalkan pada dunia.
Mungkin setelah itu tanpa sengaja kedua pasang mata kita akan berpeluk dalam beberapa saat, saling mencoba mengingat, mengenal, lalu yang kita ucap hanyalah
"Ah, sepertinya aku pernah memandang mata itu dengan penuh rindu di sebuah ruangan masa lalu, tapi milik siapa mereka? Mungkin dalam mimpi." lalu kita saling membuang pandangan masing-masing.
Mungkin setelah itu aku akan menggandeng kekasihku yang menjadi kebanggaan kedua orang tuaku, lalu di suatu tempat, kita kembali tanpa sengaja dipertemukan waktu, dan aku tak lagi bisa memahami raut wajahmu di tengah kerumunan.
Mungkin setelah itu anak-anak kita akan bermain di sebuah tempat yang sama, dan ketika mereka mengerti apa itu seharusnya mencintai, dan mereka akan saling jatuh cinta.
Atau mungkin, rencana Tuhan jauh dari itu semua.
Mungkin setelah itu di suatu waktu yang bahkan aku tak pernah bayangkan, aku menemukanmu sendiri, berjalan dari arah berlawanan, menatap ke arahku seolah kau mengenalku, dan akupun demikian, dan mungkin Tuhan kembalikan semua yang dulu pernah kita sama-sama simpan untuk orang lain, hanya saja dengan jalan cerita yang jauh lebih "sesuai dengan keinginan kita dulu" dan di waktu yang tepat.
Tapi sekarang, mari kita pura-pura tak mengenal dan seolah aku benar-benar tak pernah mencintaimu.




PS. Selamat malam, jangan lupa makan dan jangan tidur terlalu larut malam, besok kuliah dan jangan sampai telat.
Peluk dariku yang enggan merindumu lagi.

Monday, October 01, 2012

Kamu, Kisah yang Tak Urung Rampung.

Aku merapikan lipatan-lipatan di pojok halaman setiap lembar. Mataku menatap kosong. Baru saja kubuka buku ini, sudah harus kututup lagi. Baru saja kumulai meneruskan catatan lamanya, sudah harus ku hentikan pada titik di kalimat terakhir.
Gantung.
Aku tertegun. Kubuka lagi dari halaman pertama, menatap pada kalimat-kalimat pembuka yang manis dan lugu. Bibirku tersenyum malu. Membaca lagi tentang bagaimana kita bertemu dan akhirnya aku jatuh hati padamu. Kedua bola mataku terus bergerak dari kiri ke kanan dan ke kiri lagi menelan sedikit demi sedikit aksara yang pernah kutulis tentangmu. Otakku mulai memainkan rekaman lama tentang kita dulu. Tentang bagaimana kita tertawa geli, tentang lelucon bodoh, tentang pelukan hangat, tentang kecupan lembutmu, tentang pupil matamu yang agak kecokelatan memantulkan wajahku, tentang pertengkaran kita, tentang aku dan kamu yang berbeda. Kita.
Aku bergeming. Bahkan suara keheningan malam yang dingin berbisik di telingaku. Tanganku menghentikan pergerakannya membolak-balikan lembaran-lembaran kertas yang mulai lusuh karena lama kusimpan dan tak kunjung kubuka lagi. Darah dalam pembuluhku mulai bingung. Mataku berkaca-kaca. Aku menangis dalam sepi. Aku harus kehilanganmu lagi, untuk kedua kalinya?
Aku terlarut dalam lamunanku sendiri.
Tiba-tiba suara detik jarum jam membuyarkan semua.
Kutatap lagi buku itu, sekali lagi.
Dan gambaran aku dan kamu sekali lagi.
Kemudian dengan sekali tarikan panjang nafas, dalam-dalam, aku menghela.
Kututup buku itu, dan dengan langkah terhuyung aku menghampiri rak yang bersela. Kusisipkan kisahmu, dalam memoriku.