Monday, December 16, 2013

Sejak Kapan Kau Jadi Abangku?

"Bang! Gawat ini, bang!" Seru pria muda itu kepada Tigor.

"Ah! Tak usah berisik lah, kau! Kau kemanakan memang gadis itu?" Jawab Tigor sambil menggerogoti tusuk giginya.

"Sudah kubawa dia ke tempat yang abang suruh lah, bang. Tapi bang, kalau ada orang yang lihat, bagaimana ini? Bisa matilah kita!"

"Diamlah, kau! Lama-lama kau dan mulut kau yang berisik itu ikut kubuang ke kali!" ancam Tigor sambil mendorong pria itu menjauh.

Lalu Tigor menghampiri meja kecil di tengah ruangan, mengambil botol minuman kaca yang setengah penuh, dan menenggak isinya dengan serakah. Bulir-bulir tetesan bir menetes dari ujung bibirnya yang hitam terbakar rokok.

Pria muda itu masih tak tenang, nyawanya terancam, antara mati di tiang gantung, atau mati di tangan bosnya. Tubuhnya masih bau amis darah bekas kemarin malam. Pikirannya kacau, tak tenang karena penuh dosa. Lalu muncul bayangan emaknya di kampung yang ingin anaknya menjadi orang baik. Diikuti dengan bayangan bapak yang selalu mengajarkannya menjadi anak soleh.

Tak ada lagi yang bisa dia perbuat untuk menebus dosanya malam itu. Lalu dia ingat bahwa ia membawa sesuatu di kantongnya, bosnya bilang bisa digunakan jika ada bahaya. Dan dia sedang berada dalam bahaya saat ini. Dia mulai meraba saku celananya, dan mengeluarkan pistol milik bosnya. Tangannya gemetar, ragu, dan mengarah ke kepala Tigor.

Tigor menangkap bayangan anak buahnya dari ujung matanya. Hampir saja dia tersedak bir yang dia tenggak.

"Cok! Jangan aneh-aneh, kau! Turunkan pistol itu! Ucok!" seru Tigor panik, setengah mabuk.

"Maafkan aku, bang, tapi aku bukan pembunuh."

"Kalau gitu kenapa kau mau membunuhku? Aku ini abangmu, Cok! Jangan gila, kau!"

"Kalau kau memang abangku, kenapa kau suruh aku untuk membunuh Lastri?!"

Ucok setengah menangis dan menjerit. Urat-urat di kepalanya mulai terlihat seolah ingin meledak. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Air mata mulai keluar di ujung matanya. Terasa aneh baginya untuk menangis, karena menangis bukanlah hal yang pria lakukan, baginya.

"Ucok, ampun! Lemparkan pistol itu!"

"Maaf, bang," kata Ucok lirih, sambil menarik pelatuk pistolnya.

Dentuman tembakan itu menggema di gudang bekas itu. Disusul dengan suara pecahan botol bir sedetik setelahnya. Tigor ambruk seketika. Darah segar mengalir dari lubang di kepalanya, berasap seolah panas.

Lalu Ucok dengan tatapan dingin mengarahkan pistol itu ke arah pelipis kanannya. Bayangan emak di kampung muncul lagi, seolah memanggilnya untuk pulang.

Dengan hitungan detik, ia tersungkur di dekat Tigor. Dahinya membentur meja, dan kemudian menyentuh tanah. Ucok masih sempat merasakan napas terakhirnya sebelum akhirnya dia menyusul gadis yang ia buang bangkainya tadi subuh.

Thursday, December 12, 2013

Dialog Jam 2 Pagi

Aku baru saja memejamkan mataku sebelum aku mendengar suara pintu terbuka. Terdengar langkah kaki masuk menuju ke ruang tamu, satu-satunya ruangan dengan tempat duduk panjang di kontrakan ini. Kulihat jam dinding yang menunjukan pukul 2 pagi. Akupun bangkit dari tempat tidurku untuk menghampiri sesorang yang baru saja pulang.

"Ibu lembur lagi?" tanyaku sambil mengusap mataku yang sayu.

Kulihat ibu terkejut mendapatiku belum tidur. Dia tersenyum lirih sambil melepas sepatu hak tingginya. Wajahnya letih habis digerogoti hari, sudah dua bulan terakhir dia bilang pekerjaannya menumpuk. Sejak ayah pergi, ibu harus kerja dua kali lipat dari biasanya. Dan rumah kamipun mengecil ratusan kali lipat dari sebelumnya.

"Kamu belum tidur, nak?" tanya ibu.

Aku menggeleng. Semenjak kami pindah dari rumah yang lama, ibu harus berbagi tempat tidur denganku. Dan aku tak pernah bisa tidur sebelum ibu pulang.

Akhir-akhir ini ibu terlihat berbeda, ia lebih mencolok dari biasanya. Dulu, sewaktu ayah masih sudi tinggal dengan kami, ibu tidak pernah memoles bibir tipisnya dengan lipstik merah menyala. Hanya bedak tipis dan sedikit polesan di kelopak matanya, sesederhana itu. Aroma tubuhnya sangat menyengat, seperti bau orang-orang malam dan bau asap rokok.

Ibu mengeluarkan amplop cokelat dari tasnya. Aku menatap dengan penasaran dari ujung ruangan, menyaksikan ibu mengeluarkan lembaran-lembaran uang pecahan Rp. 100. 000,- dan terus menghitungnya. Bibirnya tersenyum, tapi matanya terlihat sedih. Lalu dia menatapku sambil menghela napas.

"Besok adek jangan lupa bayar buku paket ya. Ibu mau mandi dulu, adek tidur sana," katanya sambil bersandar.

Aku bergeming. Memikirkan bagaimana caranya mengeluarkan kata-kata yang mencoba mendobrak keluar dari bibirku.

"Oh iya, bu. Tadi ada orang datang kesini, katanya cari ibu,"

"Siapa? Rentenir? Apa Bu RT? Kan pancinya udah ibu bayar tempo hari," tanyanya penasaran.

"Bukan kok, bu. Namanya Om Darwis. Katanya mau ketemu ibu. Aku bilang ibu kerja. Terus. . ."

"Terus apa, nak?"

"Terus dia bilang aku cantik, bu. Mirip ibu. Katanya kalo aku udah gede, nanti aku bisa cari duit gampang kayak ibu," jawabku dengan nada datar.

"Tapi dia nggak sentuh kamu sedikitpun kan, nak?" tanyanya lagi, dengan wajah sedikit panik.

Aku menggeleng dengan cepat. Ibu terdiam. Matanya tepejam sebentar kemudian menatap ke arahku lagi. Kulihat matanya memerah dan berair.

"Bu. . ."

"Kamu tidur sekarang. Ibu capek," jawabnya singkat sambil menatap ke arah tembok yang menguning dimakan usia.

Aku menurut. Tanpa basa-basi kuambil langkah cepat ke kasur dan loncat memeluk guling usangku. Sambil memejamkan mata, kulihat bayangan ayah muncul dalam gelap sambil berjalan menjauhi aku dan ibu, menggandeng wanita muda jelek itu yang mencuri kehidupan kami semua.

Wednesday, December 11, 2013

Purnama

Bola kuning raksasa di langit malam mulai memantulkan sinarnya. Kabut dingin dan gelap memeluknya dengan kaku, bergeser tertiup angin sedikit demi sedikit. Terlalu sunyi sampai kau bisa dengar nyanyian para jangkrik atau dengkuran burung hantu yang siap berburu.

Akupun bangkit, tubuhku menegak, dan pikiranku tak fokus. Aku mencoba untuk tenang, tapi aku malah tegang. Mataku menyerngit dan hidungku mulai mengendus sesuatu yang bahkan tak berbau. Aku harus pergi sekarang juga.

Kulihat gadis kecil itu sudah tertidur pulas di dipan gubuk kecil itu. Ia tampak kelelahan setelah kejadian sore tadi. Tubuhnya lemas, wajahnya lusuh seolah baru saja dikejar hantu. Untung saja sore tadi sempat kuselamatkan dia dari begundal-begundal bajingan itu di tengah hutan. Tapi aku harus meninggalkannya sebelum ia melihatku berubah.

Dengan langkah jinjit aku keluar dari gubuk itu dan segera menuju tengah hutan, mencari tempat persembunyian teraman dan terdekat dengan sang purnama. Rambut-rambut kasar dan gelap mulai tumbuh dari kulitku. Wajahku mulai berubah, moncong dan telinga lebarku mulai muncul, diikuti dengan taring-taring dan kuku-kuku tajam yang sangar.

Aku tak pernah bisa menghindari semua ini, perubahan wujudku di setiap malam purnama. Tapi aku menikmatinya, menjadi diriku seutuhnya, menjadi bagian dari para serigala malam. Akupun tiba di puncak bukit, sendiri, dan berdiri setengah tegak. Bulan purnama tepat di atas kepalaku, seolah ia menatapku balik. Aku mengeluarkan suara khas anjing pelolong malamku, saling bersahutan dengan anjing-anjing lain yang entah ada dimana.

Malam itu, aku menjadi diriku yang lain, mencari daging segar agar segera bisa kembali menjadi manusia esok hari.