Wednesday, March 20, 2013

Sarjana

Catatan pribadi.

Setidaknya ada yang saya bawa pulang sore ini, setidaknya saya pulang tidak dengan kepala kosong. Pergi pagi dibawa arus jalanan, menguras otak seharian dan kembali mengalir bersama arus jalanan kota. Paling tidak saya menjalankannya tidak dengan sia-sia.

Saya ingin apa yang sedang saya jalankan dalam hidup saya pada nantinya akan mebuahkan hasil, bukan bertahun-tahun kuliah, menjadi sarjana dengan ijazah, tapi moral yang bobrok. Yang selalu saya tanamkan pada diri saya sejak dulu adalah jangan sampai nantinya saya menjadi sosok yang serakah dan durhaka kepada orang lain dan diri sendiri.

Jangan sampai saya menjadi hebat tanpa rendah diri, jangan sampai saya menjadi kaya tanpa berbagi, jangan sampai apa yang menjadi tujuan saya dalam hidup hanyalah mengambil, mengambil, mengambil, bukan memberi.

Tuesday, March 19, 2013

Apa?

Catatan pribadi.

Sore ini saya pulang tidak secepat biasanya. Biasanya saya hanya membutuhkan waktu sekitar satu jam perjalanan dari kampus ke rumah. Tapi tadi, hampir memakan dua jam waktu perjalanan untuk sampai ke rumah.
Saya mengurangi tarikan gas saya, tidak seperti biasanya--sedikit bersantai--menikmati apa yang bisa saya nikmati dalam perjalanan saya.
Jalan raya, rel kereta, pasar, kawasan industri, stasiun, pemukiman kumuh, hingga pemakaman. Namun pada akhirnya, tujuan saya pulang hanya satu: rumah.
Selama hampir dua jam di jalan, pikiran saya berbicara pada batin saya.
Sebenarnya, mau kemana?
Kemana tujuan hidup saya?
Kemana?
Dan pertanyaan itu terus berputar dalam diri saya.
Saya ini apa?
Ya apa?
Apa?
Entah karena pengaruh mata kuliah semester ini: Sejarah Pemikiran Modern atau bukan (walau saya yakin ini tidak ada hubungannya sam sekali), tapi itu yang sedang saya pertanyakaan. Setidaknya untuk saat ini.
Saya sudah bukan lagi remaja berumur 15 tahun, tapi juga belum menjadi dewasa berumur 20 tahun.
Dan saya masih mencari, dan akan tetap mencari.
Sebenarnya apa yang saya cari?
Apa tujuan hidup saya?
Apa? 
Bahagia.

Baiklah. Setiap orang punya "bahagia"-nya masing-masing, bahkan saya sendiri masih belum menemukan apa arti bahagia bagi saya sendiri. Materi? Fisik? Ketenaran? Atau apa?
Ada bayak hal yang saya jadikan dalam daftar "bucket list" dalam hidup saya, jika pada akhirnya nanti saya mati setelah mewujudkan semuanya, apa saya bisa dikatakan bahagia? Atau jika nanti saya mati dan menyisakan salah satu atau bahkan semua impian saya yang belum terwujud, apa hidup saya berarti tidak bahagia?

Saya tidak mau gila. Tidak. Saya yakin saya tidak akan gila. Saya hanya ingin memaknai hidup saya, agar nantinya ketika saya mati, setidaknya saya bukan manusia yang sia-sia. Setidaknya nanti, saya meninggalkan sesuatu yang bermakna bagi hidup saya dan orang lain. Setidaknya nanti, saya bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukan sekedar memenangkan tujuan pribadi dan tak acuh terhadap orang lain.

Orang lain.

Orang-orang yang di luar dari diri saya sendiri. Orang-orang yang setiap harinya ada dalam hidup saya, atau yang bahkan tidak mengenal saya sama sekali. Orang-orang yang pada akhirnya akan menyukai atau membenci saya, atau mungkin tidak keduanya.

Saya tahu bahwa pada dasarnya setiap orang punya hak untuk menyukai dan membenci, disukai dan dibenci. Cukup adil.
Masalahnya ada pada bagaimana kita bersikap pada 'Orang lain', karena penilaian mereka adalah cerminan diri kita. Tunggu, atau mungkin tidak sama sekali.
Namun pada akhirnya, 'Orang lain' tidak akan pernah berhenti menilai saya, dan sayapun tidak akan berhenti melakukan yang sebaliknya terhadap 'Orang lain'. Cukup adil.

Jika akhirnya saya mencoba untuk menjadi baik kepada lingkungan dan ternyata saya tidak pantas untuk diterima, apa mungkin saya tidak cukup baik untuk menjadi 'baik'?

Jika saya tidak bisa menjadi baik terhadap lingkungan saya, apa berarti pada akhirnya hidup saya menjadi sia-sia?

Jika saya merasa tamak dan puas tentang apa yang saya cari, maka saya tidak akan menjadi 'Orang' yang bijaksana. Bijaksana bagi saya bukan orang yang paham betul tentang filosofi, atau tentang dunia. Bijaksana bagi saya adalah, setidaknya saya tahu apa yang selama ini saya cari, apa yang sedang saya perbuat, dan apa yang menjadi tanggung jawab saya.
Dan jika pada akhirnya saya mengetahui apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup saya, saya yakin saya tidak akan menjadi 'salah' terhadap diri sendiri.

Saya ingin menjadi 'orang' yang dewasa.

Dewasa bagi saya adalah hasil dari proses dalam hidup. Dewasa bukan soal umur, dewasa bagi saya adalah fase dimana pada akhirnya saya menjadi 'matang' dan siap bertanggung jawab atas diri saya sendiri. Dan ini yang sedang saya coba terhadap diri saya. Mematangkan diri sendiri, tidak seenaknya terhadap orang lain, dan bukan berarti saya mencampuri urusan 'orang lain'.

Seseorang yang saya kenal pernah berkata dan bertanya pada saya dan dirinya sendiri, apakah yang selama ini dia lakukan dalam hidupnya adalah hal yang memang ia kehendaki untuk 'lakukan'? Atau hanya sekedar 'ketidaksengajaan' semata yang kemudian berlalu dan tidak membekas dalam hidupnya?

Dan itu yang sedang saya pertanyakan kepada diri saya sendiri. Saya tahu betul bahwa saya belum bisa mengendalikan emosi, ucapan, dan perbuatan saya sendiri. Namun jika pada akhirnya saya menyakiti lingkungan saya, itu yang akan saya sesalkan.

Saya ingin menjadi 'Orang' yang lebih baik. Bukan hanya hidup menjadi seonggok daging yang disebut manusia dan kemudian mati ditimbun tanah. Saya ingin menjadi lebih baik, berguna, dan bahagia.

Saya sedang belajar untuk menikmati hidup dengan cara saya sendiri, menghabiskan waktu lebih lama menjalani hal-hal yang saya sukai, bertemu keluarga dan teman-teman serta sahabat, mengerjakan tugas kuliah yang memang menjadi tanggung jawab saya sebagai mahasiswa, dan mengurangi waktu untuk mengetahui hal-hal yang pada dasarnya tidak perlu saya ketahui.
Dan menulis adalah salah satu cara saya untuk merasa senang, karena ketika melakukannya, ada sebuah perasaan yang membuat saya merasa lega. Saya menulis bukan merupakan paksaan, bukan pula untuk mencari popularitas. Saya menulis bukan karena saya ingin membicarakan diri saya, saya menulis karena saya merasa saya perlu 'mencatat' apa yang sempat ada di pikiran serta benak saya, agar setidaknya bisa menjadi 'bacaan' kembali ketika saya 'lupa'.
Itu dulu.

Cukup panjang.

Sunday, March 17, 2013

Dada Yang Membusuk

Baru kali ini aku melihat air matanya meleleh, mengguyur deras pipinya yang memerah. 
Bahkan tak aku lihat upayanya untuk menghapusnya. 
Lututnya gemetar, seharunsya sudah sejak tadi tubuhnya runtuh. 
Tapi tidak, dia masih berupaya untuk kokoh.
Dia memang selalu begitu.
Aku terus menatap lurus ke arahnya, dengan bibir terkatup, aku terus menerka apa yang akan terjadi.
Dia tetap bungkam.
Urat-urat di putih matanya mulai muncul.
Matanya memerah.
Dia mengerang, sambil menahan.
Aku tetap menatapnya diam, aku tetap dingin.
Dia mengutukku, dan terus mengutuk.
Membenciku sejadi-jadinya, dan aku tak terkejut akan hal itu.
Aku masih diam.
Tangan kanannya mencoba bergerak menyusuri punggungnya, lewat pundaknya.
Dan dia mendapatkannya.
Mataku mulai terbelalak, senyumku mulai menyungging manis.
Dia mencabut pisau itu, yang berlumuran darah segar, rasanya ingin sekali kujilat semuanya.
Dia melempar belati yang baru saja kutancapkan di belakang tubuhnya.
Dia terus meneriakkan kata-kata kotor, yang tidak sekotor perbuatanku.
Lalu semua ingatanku tentang apa yang pernah dia lakukan kembali berputar. 
Ini seharusnya sepadan.
Tidak, ini belum seberapa. Aku bisa lebih parah dari pada ini.
Seharusnya.
Perlahan kusaksikan tubuhnya runtuh, dengan posisi setengah sujud, ribuan bulir keringat menyentuh Bumi.
Lalu mati.
Dan aku pun pergi dengan bahagia.