Sunday, December 11, 2011

Sang Capricorn: Pertemuan yang Mengawali Cerita Lama.

September, 2009.

masih jelas betul ingatan ku. kulihat kau yang menungguku di Mall malam itu. setelah sebelumnya aku menghabiskan waktuku bersama kawan-kawanku, aku menghampirimu yang terus menatap jam tangan hitam mu.

senyuman penuh arti yang menyambutku itu, menjadi pembuka kisah kita. sentuhan lembut tanganmu saat kita berjabat tangan, dan tatapan mu yang tetap melekat kemataku, membuatku salah tingkah dalam pertemuan pertama.
"jadi, mau kemana?" tanya mu.
"atur saja." jawabku dengan malu.
berjalan menyusuri Mall dengan pipi tersipu bersama mu, dengan beberapa obrolan kaku yang kau mulai benar-benar menandakan pada setiap mata yang melihat bahwa kita memang baru kenal.

berlanjut, pertama kali perbincangan tatap muka itu, di restoran cepat saji. membahas apapun, hal-hal basi namun menyenangkan yang kita bangun agar suasana tak sekaku sebelumnya. ingat tentang lelucon lampu merah yang berhasil membuatku tertawa? dan masih, tatapan matamu tetap melekat pada mataku.

lalu kau antar aku, kerumah ku. terlalu larut malam. dan entah kenapa, kamu yang tetap keras untuk tidak mau langsung pulang berhasil mampir beberapa saat di teras rumahku, malam itu. mebicarakan banyak hal yang tanpa bosan aku berceloteh. aku kagum caramu memperhatikan setiap ocehan ku, yang aku pun lebih sering bergurau. bagaimana bibirmu tetap tersenyum sambil terus menanggapiku seperti "oh, ya? lalu?". dan seolah memang hanya ada kamu disana. dan ayahku... ya, bahkan dia tak tertarik sedikit pun untuk mengintrogasiku tentang apapun pada dirimu yang baru ku kenal.

dan pelukan perpisahan yang kau berikan pada ku, masih terasa hangatnya hingga saat ini. sejak itu semakin sering kita bertukar kabar. ku ulang, kita. dua orang yang sedang berusaha mendekatkan diri kepada masing-masingnya seolah lupa bahwa ada dunia di belakangnya.

***

"Iya, aku mantannya" kata wanita itu. wanita dengan perawakan yang mungil menjawab pertanyaanku.
aku hanya mengangguk. dia, aku anggap menjadi kakak ku saat itu. dan kamu, adalah mantan kekasihnya, saat itu. apakah itu masalah besar? tanyaku pada diri sendiri.
"masa lalu hanyalah masa lalu, bukan?" tanya ku pada diri sendiri berharap aku tak perlu mencari jawabannya.

dan kita, berlanjut. aku ingat saat itu kamu mengundangku (dan temanku) untuk datang dan mampir ke tempatmu biasa berkumpul dengan teman-temanmu. mereka, yang menyambutku dengan hangat selalu tersenyum padaku. bagaimana aku tidak merasa bangga ketika kawan-kawanmu menyambut baik diriku?
bagaimana mereka menyapaku seolah aku memang sudah lama menjadi bagian dari mereka.
tapi yang kurasakan saat itu seperti ada yang janggal, entah apa. entah penampilan ku, entah sikapku atau apapun. tapi paling tidak, itulah yang membuka ku pada dunia baru, kehidupanmu.

No comments:

Post a Comment