Sunday, November 01, 2015

Duapuluh Sekian

Catatan pribadi.

Akhirnya sekarang saya sudah berumur dua puluh sekian.

Minggu lalu akhirnya saya resmi menyatakan bahwa saya sudah dua puluh satu tahun menjadi saya, menjadi manusia. Tapi entah sudah menjadi orang atau belum.

Entah kenapa, di setiap ulang tahun saya, atau beberapa hari/minggu/bulan sebelum saya berulang tahun di setiap tahunnya, selalu saja ada hal-hal yang tidak pernah diduga terjadi kepada saya. Seolah semesta ingin saya belajar sebelum saya semakin tua, sebelum semakin dekat dengan kematian.

Misalnya, di ulang tahun saya yang ketujuh belas, mantan pacar saya mendadak memutuskan hubungan kami beberapa hari sebelum tanggal 8 Oktober. Lalu teman-teman sepermainan saya jaman SMA dulu mendadak menjauhi saya saat itu. Walaupun saya sedikit berharap mereka hanya berpura-pura dan memberikan kejutan kepada saya, tapi ternyata mereka benar-benar menjauhi saya.

Pada masa SMA dahulu, saya adalah tipe orang yang selalu mempunyai teman. Siapa sih, yang dulu tidak mengenal saya di sekolah? Paling-paling ya alumni yang sudah lulus bertahun-tahun sebelum saya masuk. Tapi tiba-tiba, seorang saya, harus menjadi sendiri di hari ulang tahun saya waktu itu.

Kemudian di ulang tahun saya yang kedelapan belas, saya masuk kuliah di kampus yang tidak saya inginkan. Tidak pernah terpikir sedikitpun untuk menjalankan studi di kampus itu. Dan disaat saya sedang mencoba menyesuaikan diri dan menerima nasib, mantan saya yang pernah memutuskan saya di ulang tahun sebelumnya sekarang melakukan hal yang sama, dua kali.

Bagaimana saya yang saat itu sedang belajar untuk legowo, tidak mengenal siapapun di tempat baru, saya harus menjadi benar-benar sendiri.

Kemudian saat saya akhirnya bisa beradaptasi dan menikmati hidup, saya mendapat dua kue ulang tahun di tahun kesembilan belas. Saya menghabiskan ulang tahun saya dengan teman-teman kuliah, dan teman-teman SMA dulu.

Mungkin ulang tahun saya yang kesembilan belas adalah ulang tahun terindah yang saya pernah alami. Dimana saya sangat merasa tidak sendiri. Dimana saya merasa ternyata ada orang-orang yang peduli.

Tahun selanjutnya, saya mendapat banyak hadiah dari teman-teman sepermainan di kampus. Kami membuat sebuah perjanjian untuk memberi kado kepada satu sama lain saat ulang tahun kami yang kedua puluh. Walaupun terkesan memaksa, setidaknya kami punya sesuatu yang bisa disimpan sebagai kenang-kenangan.

Hingga akhirnya, bulan Oktober 2015, saya menginjak usia duapuluh satu tahun. Sebulan sebelum saya berulang tahun, ada kejadian yang membuat saya sedih. Saya melakukan kesalahan besar dan saya harus membayarnya. Di ulang tahun saya kali ini, saya belajar sesuatu.

Saya belajar bahwa jika saya tidak ingin disakiti, maka jangan menyakiti.

Saya belajar tentang komitmen.

Saya belajar tentang perasaan.

Saya belajar tentang betapa tidak perlunya kita mengatakan "aku mencintaimu" sebelum kita benar-benar yakin dengan perasaan kita sendiri.

Sebab cinta bukanlah sesuatu yang bisa begitu saja disia-siakan.

Di hari ulang tahun saya yang keduapuluh satu, saya merayakannya dengan kesendirian. Teman-teman saya tidak ingat dengan hari ulang tahun saya. Ayah sayapun ikut-ikutan lupa. Dan orang yang saya anggap istimewa juga tidak mengaggap hari itu istimewa lagi baginya.

Saya belajar tentang kehilangan.

Dan bahwa kepercayaan itu bukan sesuatu yang bisa kita khianati.

Selamat ulang tahun, Heppy. Semoga kamu makin belajar banyak seiring dengan mendekatnya ajal dengan mu.

Tuesday, October 20, 2015

You Know You Are Mine

He's cutting the rope
I'm no longer in his tie;
He's throwing the rope
I think it's a goodbye

Don't go! Don't leave!
You're not going away!
Don't go! Don't leave!
Because there's no way!

Farewell, baby!
Maybe one day I'll have a chance to see;
Farewell, baby!
Or I'll just drown you into the sea

It's broken!
Oh, I don't think you can fix!
It's broken!
Ah, I will cut you into six

You know me well;
They do call me clever
My heart jus well;
And you'll stay forever.

Monday, September 07, 2015

Kepada Maya

Kepada maya aku sampaikan persoalan
getir rindu yang kupendam dari dulu
Sejenak pelukmu merangkul aku
yang kedinginan dibeku sedih

Kepada maya aku sampaikan mimpiku
malam ini kau datang mengulang senyum
dan bagaimana suaramu terdengar saat
memanggilku "sayang" di balik selimutmu

Kepada maya aku sampaikan cerita
penyesalan bagaimana aku berdoa
di sela-sela bahagiaku kau akan temukan gadis
sebab amin kemudian datang, dan aku sendiri lagi.

Sunday, May 10, 2015

Kau dan Kepergianmu yang Luka

Aku ingat betul bagaimana bibirmu melukis
kata-kata indah seperti kau mencintaiku
dan matamu yang tersenyum menatapku yang
telanjang bulat tanpa sehelai kain apapun

Aku ingat betul bagaimana wajauh muram
saat kau mengantarku pulang malam itu
dan aku yang bingung kehabisan kata-kata
menatapmu pergi begitu saja tanpa beban

Semestinya Semesta Berkata Sejak Awal

Sudah kuduga semestinya pasti begini
kau hanyalah sebagian dari mereka yang
bahkan tak pernah mencintai aku sedikitpun
kecuali buah dada dan bibir manisku

Sudah kuduga semestanya pasti melarang
aku seharusnya mengacuhkan janjinya
untuk mencintaiku sebagaimana lelakiku
karena aku adalah milik orang lain

Saturday, March 21, 2015

Tawamu adalah rahasia terburukku

Kamu, dan tawamu yang dulu
yang sempat aku pikir akan menjadi
sesuatu yang kunikmati setiap malam
dan siang-siang yang tanpa semilir angin

Mungkin kamu, dan tawamu yang dulu
hanya sebuah dongeng yang Ibu sering
ceritakan sebelum tidur, hingga menjadi
mimpi yang sembunyi di belakang kepalaku

Atau kamu, dan tawamu yang dulu
adalah dosa yang tak perlu kuumbar
sebab aib bukanlah untuk orang lain dengar
lebih baik aku berdoa, berlindung dari 
kamu, dan tawamu yang dulu