Hingga akhirnya kelopak mataku diam-diam mengatup, lalu muncul kedua matamu. Yang begitu cokelat, begitu dalam sampai aku ingin sekali tenggelam di samudera matamu.
Lalu sesak di dadaku muncul lagi, oh, dan rindu, perlahan mencekikku. Lirih suaraku merangkak keluar dari bibirku, memanggil namamu. Pulanglah, sayangku.
Bahkan rindu ini berani membungkam bibirku, bibir yang telah lama tak kau basuh sampai basah. Bibir yang akhir-akhir ini tak pernah tersenyum lagi. Bibir yang terlalu sering meminum air mata.
Kudengar suara sayup-sayup di sudut kamar, suara yang tak asing bahkan seperti suaraku sendiri. Lalu kudengar kau berbisik, tentang mimpi-mimpi yang akan kita rajut kelak, dan masa depan kau dan aku, dan kita. Dan rumah kecil yang nyaman, penuh rak buku-buku. Dan pelukmu yang melingkar hangat di tubuhku.
Kau bilang kelak kita akan terbangun berdua, di ranjang yang sama. Lalu aku akan memelukmu lagi, lagi, dan lagi, sampai kau tak mengerti apa itu bernapas. Lalu bibirku akan menjadi hujan di hutan tubuhmu. Sampai kau mengerti apa itu basah. Dan mataku akhirnya bisa berciuman mesra dengan mata cokelatmu.
Aku merindukanmu bagai aku merindu esok. Merindukan sesuatu yang bahkan belum datang padaku. Aku merindukanmu bagai aku merindu kelak. Merindukan sesuatu yang bahkan belum tentu menjadi kini.