Dengan senyum hangat yang kedinginan, dia menatapku. "Oh, akhirnya aku menemukanmu!"
Lalu dia memujiku. Memuji segala ketidaksempurnaanku, seolah aku terlalu indah baginya. Entah dia bersungguh-sungguh, atau itu hanyalah dia yang terlalu baik. Dia tak pernah berhenti menyentuhku dengan pujian, tak akan pernah. Sampai akhirnya aku meragu.
Aku takut bahwa kenyataannya kejujuran bukalah hal mulia baginya. Aku takut bukan aku yang tunggal menetap. Aku takut kalau dia... Akan pergi kemudian setelah aku terjatuh pada nyanyiannya. Dan aku takut pada ketakutanku sediri yang hanya akan menakutinya.
Tapi kemudian segalanya tentang dia menjadi segalanya bagiku. Dia datang, dia pergi semaunya. Tidak. Itu bukan maunya. Maunya dia, tetap bersamaku tertawa karena film komedi. Maunya dia, tidak pernah merindukanku. Dia memang harus pergi untuk kemudian kembali. Dia harus pergi untuk merajut mimpi-mimpinya yang masih sepotong lagi membentuk masa depan. Dengan yakin ia menawarkan aku harapan, harapan bahwa ia akan segera pulang.
Kadang aku meragu, kadang aku teguh. Kadang dia menjadi mimpi buruk di tidur siangku, kadang dia menjadi teh manis hangat di tengah malam yang dingin. Dia mampu membuatku belajar, bahwa tak semuanya mudah, bahwa tak segalanya secepat itu.
Malam-malam dingin penuh tangis kesepian. Tanpa kabar. Aku akan terduduk lesu menatap ke arah pintu, berharap ia akan tiba-tiba berada di sana, tersenyum lebar sambil bersorak, "Kejutan, sayangku!" Lalu aku menatap ke arah tempat duduk di sampingku, yang seharusnya ada dia. Ke ruang kosong di kasurku, yang seharusnya ada mata cokelatnya yang teduh.
Terlalu sering baginya mendengar tangisanku dari sini hanya karena aku merasa tak sanggup. Terlalu sering baginya untuk meyakinkanku bahwa segalanya tak seburuk itu, bahwa ia akan pulang, dan akan membuatku tersenyum lagi, karena senyumku membuatnya tersenyum. Bahwa jarak tak akan selamanya menjadi musuh bagi kami. Karena akan ada masanya akhirnya kami bersatu, dan dia akan mendengarkan ocehanku tiap hari hingga terlelap, di dalam tempat teduh bernama rumah.
Lalu dia pergi lagi, untuk waktu yang lama, sampai akhirnya dia menemukanku menunggu di balik pintu, untuk menyambutnya kembali dengan peluk.